
Penulis: Prof. Dr. Fatchur Rohman, M.Si. Universitas Negeri Malang
MALANG, JurnalPost.com – Dalam upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 15 mengenai kelestarian ekosistem darat, Tim Pengabdian Masyarakat dari Departemen Biologi Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan pelatihan penguatan kapasitas dan tata keamanan hutan bagi Kelompok Tani Hutan (KTH) Desa Tugurejo, Kec. Wates, Kab. Blitar pada Kamis (30/07/2026) di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) UM.
Program pengabdian masyarakat ini dipimpin langsung oleh Guru Besar Departemen Biologi UM, Prof. Dr. Fatchur Rohman, M.Si., bersama tim dosen yang terdiri dari Bagus Priambodo, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., Indra Fardhani, S.Pd., M.Sc., M.I.L., Ph.D., dan Umi Fitriyati, S.Pd., M.Pd. Keterlibatan aktif mahasiswa Biologi UM yaitu Fitrani Rizqi Marine Ghiffari Putri, Riko Widyo Laksono, dan Dr. Maisuna Kundariati turut memperkuat pelaksanaan pendampingan masyarakat di lapangan.
Pelatihan ini diselenggarakan untuk merespon pentingnya menjaga fungsi ekologis dan keamanan ekosistem hutan yang dikelola perguruan tinggi. Mengingat KHDTK memiliki mandat legal-formal sebagai kawasan pendidikan, penelitian, dan pelatihan, keberadaan masyarakat sekitar hutan yang terorganisir dalam KTH Desa Tugurejo menjadi pilar utama dalam menjaga kelestarian serta mencegah kerusakan lingkungan secara berkelanjutan.
Sinergi Pengetahuan Lokal dan Tata Keamanan Terpadu
Rangkaian materi pelatihan menghadirkan pemaparan komprehensif mengenai tata kelola dan pengamanan kawasan hutan dari pengelola UB Forest, Rifqi Rahmat Hidayatullah. Dalam paparannya, ditegaskan bahwa sistem keamanan hutan tidak hanya bertujuan menegakkan aturan, tetapi memiliki sepuluh fungsi krusial. Fungsi tersebut meliputi perlindungan keanekaragaman hayati dan habitat satwa, pencegahan perambahan dan pembalakan liar, mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta menjaga kepastian hukum dan tata air bagi warga desa.

Para petani anggota KTH dibekali pemahaman teknis mengenai aturan aktivitas di dalam area KHDTK oleh Gigih Setyoko, S.Hut, M.Agr (Cabang Dinas Kehutanan Malang). Pembukaan lahan baru dengan menebas pohon tegakan utama, perburuan satwa liar, penggunaan herbisida kimia berlebih, pembakaran sampah di bawah pohon, serta pengrusakan pal batas kawasan ditegaskan sebagai tindakan merusak lingkungan yang melanggar hukum.
Sebagai gantinya, masyarakat didorong untuk memanfaatkan ruang bawah tegakan melalui budidaya tanaman Multi-Purpose Tree Species (MPTS) seperti petai, aren, dan mangga, pengembangan budidaya lebah madu hutan (Apis dorsata), pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) secara terukur, serta memanfaatkan jenis-jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan masyarakat yang juga ditambahkan oleh purnatugas LIPI Bapak Kiswojo.
Pendekatan Bertahap dan Integrasi Pengetahuan Lokal
Dalam alur pengamanan, pelatihan ini menekankan mekanisme pendekatan kolaboratif yang mengintegrasikan kearifan lokal warga Desa Tugurejo. Jalur pengamanan dilakukan secara bertahap, dimulai dari deteksi dini melalui patroli berkala bersama, pemanggilan atau klarifikasi, peringatan dan penyadartahuan, hingga pembinaan berkelanjutan agar pola garapan masyarakat selaras dengan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) KHDTK.

"Keamanan kawasan hutan bukanlah tanggung jawab tunggal institusi pengelola atau aparat, melainkan komitmen bersama antara perguruan tinggi (UM) dan masyarakat desa hutan. Integrasi pengetahuan lokal petani Tugurejo dalam menjaga kelestarian air dan vegetasi menjadi kunci terwujudnya ekosistem hutan yang lestari sekaligus sejahtera," ujar Prof. Dr. Fatchur Rohman, M.Si.
Melalui inventarisasi penggarap lahan dan pemeliharaan tanda fisik (pal batas) kawasan secara transparan, potensi konflik batas wilayah dapat diminimalisir. Selain itu, pelatihan ini membuka wawasan KTH Desa Tugurejo mengenai peluang pengembangan jasa lingkungan, seperti ekowisata perdesaan, pengamatan burung (bird-watching), dan jalur jelajah (tracking) berbasis konservasi.
Sinergi nyata antara Departemen Biologi UM dan KTH Desa Tugurejo ini menjadi langkah konkret untuk mengawal keberlanjutan fungsi KHDTK UM sebagai laboratorium alam, pusat pendidikan berkelanjutan, serta benteng perlindungan keanekaragaman hayati di Jawa Timur.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda