Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Ketika Kursi Lawan Kosong: Potret Sidang Perceraian di Pengadilan Agama Surabaya

  2. Strategi Mengatasi Mismatch Pengelolaan Aset untuk Menjaga Stabilitas Keuangan

  3. Kekeringan Melanda Blora, PPSDM Migas Salurkan Bantuan Air Bersih ke Empat Wilayah Sekitar Cepu

  4. Dari Sagu Menjadi SaBar, Inovasi Pangan Lokal Papua Selatan yang Mengangkat Cerita Kearifan Budaya

  5. KADER MOLERA, Dosen FKM UMI Latih Kader Desa Marayoka Cegah Hipertensi pada Akseptor KB Hormonal

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Pancasila di Tengah Patah Hati: Sudahkah Kita Memanusiakan Manusia dalam Hubungan?

Pancasila di Tengah Patah Hati: Sudahkah Kita Memanusiakan Manusia dalam Hubungan?

D
Penulis: Diyah Tifani Safitri
19 Oktober 2026, 21.41 WITA • Editor: Danang Purnama
5 menit baca
Pancasila di Tengah Patah Hati

JurnalPost.com - Seseorang datang dengan janji serius, bicara soal masa depan, komitmen, dan kebersamaan. Namun, ketika pendapat mulai berbeda, ia memutuskan semuanya sendiri tanpa mendengar pasangannya. Apakah keberanian berkomitmen sudah cukup untuk menyebut seseorang siap membangun hubungan?

Pertanyaan ini tampak sepele, tetapi menyentuh hal mendasar, yaitu cara kita memandang manusia lain. Apakah pasangan kita diperlakukan sebagai pribadi yang punya pikiran, perasaan, dan kehendak, atau sekadar pihak yang diharapkan menuruti keinginan kita?

IKLAN

Di sinilah Pancasila relevan. Nilainya tidak berhenti pada hafalan di bangku sekolah dan kuliah, tetapi bisa menjadi bahan refleksi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hubungan romantis.

Putus Cinta
Baca Juga

Putus Cinta Bukan Berarti Kamu Tidak Berharga: Belajar Menerima Diri Setelah Hubungan Berakhir

Serius Bukan Sekadar Berani Berkomitmen

Keseriusan sering diukur dari keberanian menyatakan niat atau menentukan status. Padahal, kesiapan sebenarnya tampak pada cara seseorang menjalani hubungan, apakah ia mampu mengelola ego, mengakui kesalahan, dan mempertimbangkan kebutuhan pasangan.

Ingin memiliki hubungan berbeda dengan bersedia membangunnya, dan yang kedua menuntut komunikasi, tanggung jawab, dan penghormatan yang konsisten.

Keputusan sepihak mungkin dianggap ketegasan oleh pelakunya, tetapi bagi pasangan itu bisa terasa sebagai pengabaian suara. Ketegasan tidak selalu sama dengan kedewasaan. Hubungan bukan arena untuk membuktikan siapa yang paling berkuasa, melainkan ruang bagi dua pribadi yang berbeda untuk saling memahami.

Sila Kedua: Memanusiakan Orang Terdekat

Menurut BPIP, sila kedua, “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, berkaitan dengan kesadaran moral dalam bersikap terhadap diri sendiri, sesama, dan lingkungan.

United Beneath the Garuda and Flag
Baca Juga

Pancasila Bukan Sekadar Hafalan, tetapi Pedoman dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam hubungan, artinya pasangan diperlakukan sebagai pribadi bermartabat, bukan pihak yang wajib selalu setuju atau mengalah. Penghargaan terlihat saat kita mau mendengar pendapat yang berbeda, menerima kritik tanpa langsung menyerang, dan tidak memakai kedekatan emosional untuk mengendalikan pilihan pasangan.

Menghargai bukan berarti selalu menyetujui. Kita boleh menolak atau berbeda pendapat, selama tidak merendahkan. Nilai ini juga berlaku ke dalam diri sendiri. Menjaga batasan pribadi bukanlah egois, dan kita tidak harus terus mengorbankan suara sendiri demi mempertahankan hubungan.

Sila Keempat: Hubungan Bukan Ruang untuk Menang Sendiri

BPIP menjelaskan bahwa pengamalan sila keempat mencakup sikap tidak memaksakan kehendak dan mengutamakan musyawarah. Tentu hubungan romantis bukan lembaga negara, tetapi semangatnya bisa dipinjam.

Musyawarah di sini bukan berarti semua keputusan harus memuaskan kedua pihak, melainkan ada proses mendengarkan, mempertimbangkan alasan, dan mencari jalan yang adil. Jika tidak tercapai kesepakatan, masing-masing tetap berhak menentukan sikap.

Toothbrush Offered in the Washroom
Baca Juga

Pelajaran Pancasila dari Sebuah Sikat Gigi

Sayangnya, komunikasi kerap berubah menjadi ajang mempertahankan ego. Mengalah dianggap kalah, minta maaf dianggap hilang harga diri. Padahal, kemampuan mendengarkan menandakan kedewasaan, yakni kesadaran bahwa pandangan kita belum tentu lengkap.

IKLAN

Patah Hati sebagai Ruang Refleksi

Saat patah hati, kita mudah menimpakan seluruh kesalahan pada orang lain. Kecewa itu wajar, tetapi refleksi perlu lebih dalam.

Penampilan yang meyakinkan tidak cukup untuk menilai kesiapan seseorang. Jadi, perhatikan perilakunya, seperti bagaimana ia menyikapi perbedaan, mau mendengar atau tidak, dan menghormati batasan atau tidak.

Pertanyaan serupa juga layak diajukan pada diri sendiri. Sudahkah kita jujur menyampaikan pendapat dan berani menyatakan batasan?

Ini bukan untuk menyalahkan diri. Kita tidak selalu bisa mengenali karakter seseorang dari perkenalan singkat. Patah hati memang tidak perlu dicari, tetapi bila terjadi, ia bisa menjadi kesempatan memperjelas nilai yang ingin dipegang pada hubungan berikutnya, tanpa menumbuhkan kebencian.

Langkah Sederhana

Beberapa hal yang bisa dilakukan yakni mendengarkan sebelum menanggapi, berkomunikasi terbuka dan setara, mengambil keputusan bersama dengan bijak, berani mengevaluasi diri, serta menghormati keputusan pasangan, termasuk ketika hubungan harus berakhir.

Berpisah secara jujur dan penuh hormat lebih bertanggung jawab daripada mempertahankan hubungan yang terus melukai.

Pancasila juga bukan alat untuk melabeli seseorang baik atau buruk dari satu pengalaman, melainkan pedoman untuk menilai tindakan dan memperbaiki diri.

Penutup

Memanusiakan manusia berarti mengakui bahwa setiap orang punya martabat, pikiran, perasaan, dan hak menentukan pilihan.

Kita bisa berbeda pendapat tanpa saling merendahkan, menyayangi tanpa mengendalikan, dan berpisah tanpa kehilangan rasa hormat.

Maka, pertanyaannya bukan hanya apakah kita hafal kelima sila, tetapi sudahkah kita menerapkannya pada orang yang kita cintai?

Sebelum bicara kemanusiaan dalam skala bangsa, kita bisa memulainya dari yang paling dekat, yakni cara kita mendengarkan dan memperlakukan sesama.

Penulis

Biodata Penulis

Diyah Tifani Safitri merupakan mahasiswa PJJ Program Studi Pendidikan Agama Islam, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Ia tertarik pada isu pendidikan, nilai-nilai Pancasila, dan kehidupan sosial, khususnya penerapan nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/pancasila-di-tengah-patah-hati-sudahkah-kita-memanusiakan-manusia-dalam-hubungan/98259/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 22 Oktober 2026, 11.09 WITA

  • #BPIP
  • #Kemanusiaan
  • #etika
  • #hubungan romantis
  • #komunikasi
  • #pancasila
  • #patah hati
  • #refleksi diri

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Menagih Janji Negara: Mengurai Persoalan Kesejahteraan Guru Honorer di NTT

Urgensi Pencegahan Perundungan Remaja di Surabaya: Antara Perlindungan dan Tanggung Jawab Sosial

Transaksi Digital & Maqashid Syariah: Antara Kemudahan dan Kemaslahatan

Sampah Sudah Dibuang, Masalahnya Belum: Ada yang Keliru dalam Kebijakan Pengelolaan Sampah Indonesia

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

LOOPY: Kampanye Kesehatan Mental Ajak Masyarakat Putus Siklus Tekanan Digital

Bisnis Anak Muda di Era Digital: Antara Tren Viral, Ambisi Cuan, dan Tantangan Bertahan

HMI Cabang Pamekasan Gelar Doa Bersama dan Santunan Anak Yatim Lewat Program BAKTI CITA

Menenun Harapan Bebas Stunting dari Saung AEWO Mulyaharja, IPB University Edukasi Ibu Balita tentang Gizi dan PHBS

Pilihan Editor

  1. 1 Bisnis Anak Muda di Era Digital: Antara Tren Viral, Ambisi Cuan, dan Tantangan Bertahan
  2. 2

    Cegah Anemia Ibu Hamil, Dosen FKM UMI Latih Kader CAPIL di Jeneponto

  3. 3

    Partisipasi Politik Masyarakat dalam Memperkuat Demokrasi di Indonesia

  4. 4

    Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya Soroti Urgensi Literasi Digital bagi Generasi Z

  5. 5

    Dosen dan Mahasiswa FH UPN Veteran Jawa Timur Edukasi Warga Rungkut Kidul soal Hukum Keluarga, Digital, dan UMKM

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.