JurnalPost.com - Seseorang datang dengan janji serius, bicara soal masa depan, komitmen, dan kebersamaan. Namun, ketika pendapat mulai berbeda, ia memutuskan semuanya sendiri tanpa mendengar pasangannya. Apakah keberanian berkomitmen sudah cukup untuk menyebut seseorang siap membangun hubungan?
Pertanyaan ini tampak sepele, tetapi menyentuh hal mendasar, yaitu cara kita memandang manusia lain. Apakah pasangan kita diperlakukan sebagai pribadi yang punya pikiran, perasaan, dan kehendak, atau sekadar pihak yang diharapkan menuruti keinginan kita?
Di sinilah Pancasila relevan. Nilainya tidak berhenti pada hafalan di bangku sekolah dan kuliah, tetapi bisa menjadi bahan refleksi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hubungan romantis.
Serius Bukan Sekadar Berani Berkomitmen
Keseriusan sering diukur dari keberanian menyatakan niat atau menentukan status. Padahal, kesiapan sebenarnya tampak pada cara seseorang menjalani hubungan, apakah ia mampu mengelola ego, mengakui kesalahan, dan mempertimbangkan kebutuhan pasangan.
Ingin memiliki hubungan berbeda dengan bersedia membangunnya, dan yang kedua menuntut komunikasi, tanggung jawab, dan penghormatan yang konsisten.
Keputusan sepihak mungkin dianggap ketegasan oleh pelakunya, tetapi bagi pasangan itu bisa terasa sebagai pengabaian suara. Ketegasan tidak selalu sama dengan kedewasaan. Hubungan bukan arena untuk membuktikan siapa yang paling berkuasa, melainkan ruang bagi dua pribadi yang berbeda untuk saling memahami.
Sila Kedua: Memanusiakan Orang Terdekat
Menurut BPIP, sila kedua, “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, berkaitan dengan kesadaran moral dalam bersikap terhadap diri sendiri, sesama, dan lingkungan.
Dalam hubungan, artinya pasangan diperlakukan sebagai pribadi bermartabat, bukan pihak yang wajib selalu setuju atau mengalah. Penghargaan terlihat saat kita mau mendengar pendapat yang berbeda, menerima kritik tanpa langsung menyerang, dan tidak memakai kedekatan emosional untuk mengendalikan pilihan pasangan.
Menghargai bukan berarti selalu menyetujui. Kita boleh menolak atau berbeda pendapat, selama tidak merendahkan. Nilai ini juga berlaku ke dalam diri sendiri. Menjaga batasan pribadi bukanlah egois, dan kita tidak harus terus mengorbankan suara sendiri demi mempertahankan hubungan.
Sila Keempat: Hubungan Bukan Ruang untuk Menang Sendiri
BPIP menjelaskan bahwa pengamalan sila keempat mencakup sikap tidak memaksakan kehendak dan mengutamakan musyawarah. Tentu hubungan romantis bukan lembaga negara, tetapi semangatnya bisa dipinjam.
Musyawarah di sini bukan berarti semua keputusan harus memuaskan kedua pihak, melainkan ada proses mendengarkan, mempertimbangkan alasan, dan mencari jalan yang adil. Jika tidak tercapai kesepakatan, masing-masing tetap berhak menentukan sikap.
Sayangnya, komunikasi kerap berubah menjadi ajang mempertahankan ego. Mengalah dianggap kalah, minta maaf dianggap hilang harga diri. Padahal, kemampuan mendengarkan menandakan kedewasaan, yakni kesadaran bahwa pandangan kita belum tentu lengkap.
Patah Hati sebagai Ruang Refleksi
Saat patah hati, kita mudah menimpakan seluruh kesalahan pada orang lain. Kecewa itu wajar, tetapi refleksi perlu lebih dalam.
Penampilan yang meyakinkan tidak cukup untuk menilai kesiapan seseorang. Jadi, perhatikan perilakunya, seperti bagaimana ia menyikapi perbedaan, mau mendengar atau tidak, dan menghormati batasan atau tidak.
Pertanyaan serupa juga layak diajukan pada diri sendiri. Sudahkah kita jujur menyampaikan pendapat dan berani menyatakan batasan?
Ini bukan untuk menyalahkan diri. Kita tidak selalu bisa mengenali karakter seseorang dari perkenalan singkat. Patah hati memang tidak perlu dicari, tetapi bila terjadi, ia bisa menjadi kesempatan memperjelas nilai yang ingin dipegang pada hubungan berikutnya, tanpa menumbuhkan kebencian.
Langkah Sederhana
Beberapa hal yang bisa dilakukan yakni mendengarkan sebelum menanggapi, berkomunikasi terbuka dan setara, mengambil keputusan bersama dengan bijak, berani mengevaluasi diri, serta menghormati keputusan pasangan, termasuk ketika hubungan harus berakhir.
Berpisah secara jujur dan penuh hormat lebih bertanggung jawab daripada mempertahankan hubungan yang terus melukai.
Pancasila juga bukan alat untuk melabeli seseorang baik atau buruk dari satu pengalaman, melainkan pedoman untuk menilai tindakan dan memperbaiki diri.
Penutup
Memanusiakan manusia berarti mengakui bahwa setiap orang punya martabat, pikiran, perasaan, dan hak menentukan pilihan.
Kita bisa berbeda pendapat tanpa saling merendahkan, menyayangi tanpa mengendalikan, dan berpisah tanpa kehilangan rasa hormat.
Maka, pertanyaannya bukan hanya apakah kita hafal kelima sila, tetapi sudahkah kita menerapkannya pada orang yang kita cintai?
Sebelum bicara kemanusiaan dalam skala bangsa, kita bisa memulainya dari yang paling dekat, yakni cara kita mendengarkan dan memperlakukan sesama.

Biodata Penulis
Diyah Tifani Safitri merupakan mahasiswa PJJ Program Studi Pendidikan Agama Islam, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Ia tertarik pada isu pendidikan, nilai-nilai Pancasila, dan kehidupan sosial, khususnya penerapan nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda