Oleh: Kartini, Aktivis muslimah
JurnalPost.com - Pada awalnya, Uni Eropa dan negara-negara anggotanya bersikap tegas dalam menanggapi serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Uni Eropa menyatakan solidaritasnya dengan Israel dan "hak untuk membela diri sejalan dengan hukum kemanusiaan dan internasional dalam menghadapi serangan yang kejam dan tidak pandang bulu. Namun, persatuan ini tampaknya retak tidak lama kemudian. Negara-negara Uni Eropa berbeda pendapat mengenai apakah akan menyerukan gencatan senjata yang lebih lama atau jeda yang lebih pendek dalam konflik bersenjata ini.
Konferensi internasional tentang isu Palestina di kota New York pada 28-30 Juli 2025 telah melahirkan deklarasi New York yang salah satu butir utamanya adalah dalam bentuk dukungan terhadap solusi dua negara Israel dan Palestina. Konferensi yang membuahkan 42 butir rekomendasi, digalang bersama Perancis-Arab Saudi dengan melibatkan 17 negara plus Uni Eropa dan Liga Arab. Di antara 17 negara yang terlibat tersebut, ada dua negara Eropa besar, yaitu Perancis dan Inggris yang bertekad akan mengumumkan pengakuan atas negara Palestina di sela sidang MU PBB di New York pada September 2025. Perancis dan Inggris selama ini dikenal basis tradisional dukungan paling kuat terhadap Israel di Eropa. Apa yang terjadi di New York pada 28-30 Juli 2025 merupakan aksi pembangkangan Eropa atas sikap tradisional mereka yang mendukung sangat kuat Israel. Deklarasi New York lahir dari akumulasi banyak faktor akibat perang Gaza-israel yang berlarut-larut. Perang Gaza telah menampilkan wajah isu Palestina yang bukan isu politik belaka. Perang Gaza kini lebih menjelma menjadi isu kemanusiaan. Apalagi dalam beberapa pekan terakhir ini, telah muncul isu bencana kelaparan akut yang merenggut ratusan nyawa anak kecil di Gaza. Hati nurani dunia tentu tidak menerima apa yang terjadi di Gaza saat ini.
Deklarasi New York yang dilahirkan dari aliansi Arab-Eropa secara geopolitik sangat strategis untuk menandingi, sekaligus melawan aliansi AS-Israel. Pihak AS dan Israel sendiri menolak deklarasi New York. Maka di pentas geopolitik Timur Tengah saat ini, terjadi pertarungan antara proyek politik aliansi Arab-Eropa dengan konsep deklarasi New York dan proyek politik aliansi AS-Israel dengan konsep politik Abraham Accord. Aida.or.id. Faruk Boric, analis politik asal Sarajevo, menyampaikan kepada Xinhua bahwa penderitaan warga sipil yang berkepanjangan di Gaza telah meninggalkan kesan getir, dan keragu-raguan negara-negara Barat untuk bertindak telah melemahkan kemampuan mereka dalam mengklaim nilai-nilai universal dan otoritas moral. Kecaman publik terhadap aksi militer Israel telah mengguncang iklim politik di sejumlah negara besar Eropa seperti Inggris dan Prancis, di mana aksi unjuk rasa besar-besaran diselenggarakan secara rutin dalam beberapa bulan terakhir. Sejarawan Prancis Thomas Maineult menuturkan kepada media bahwa bencana kemanusiaan mempercepat proses pengambilan keputusan para pemimpin sebagai bentuk respons terhadap rakyat mereka.
Dukungan dan Penolakan di PBB Majelis Umum PBB (United Nations General Assembly/UNGA) pada Jumat (12/9) mengadopsi sebuah draf resolusi yang mengesahkan Deklarasi New York (New York Declaration) tentang Penyelesaian Damai Isu Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara. UNGA meloloskan resolusi tersebut dengan disetujui dengan 142 suara mendukung, 10 menolak - termasuk Israel dan Amerika Serikat (AS) - serta 12 abstain,. Deklarasi New York, yang diedarkan dalam konferensi internasional tingkat tinggi yang diadakan di PBB pada akhir Juli, menetapkan sebuah jalur yang berorientasi pada tindakan menuju penyelesaian damai konflik Israel-Palestina dan perwujudan solusi dua negara.
Pertemuan Trump dengan Penguasa Muslim di sela Sidang Umum PBB Ditengah gelontoran dukungan Solusi dua negara melalui deklarasi New York dan kecaman keras AS atas apa yang diinisiasi Perancis dan Riyadh. Alih alih mengecam dan menindak para penguasa muslim, AS malah menjadwalkan untuk bertemu dengan para pemimpin Arab dan Muslim untuk membahas rencana stabilisasi terpisah yaitu menjelaskan proposal dengan 21 point untuk penyelesaian konflik Gaza. Disini Nampak dua respon yang berbeda antara AS kepada Perancis dan respon AS kepada Riyadh, yang kedua negara tersebut merupakan penginisiasi Deklarasi New York ini.
Upaya AS untuk tidak menyinggung Arab Saudi menegaskan bahwa Teluk memiliki pengaruh lebih besar dari yang mungkin diyakini terhadap Trump soal Gaza. AS tidak merahasiakan bahwa mereka tidak senang dengan KTT PBB yang diselenggarakan Prancis dan Arab Saudi mengenai persoalan negara Palestina dan penerapan solusi dua negara. Beberapa sekutu dekat Presiden AS Donald Trump dan pejabat seniornya mengecam acara di New York tersebut. Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyebut KTT itu menjijikkandan mengatakan bahwa Prancis, salah satu tuan rumah, sebaiknya menyerahkan French Riviera untuk negara Palestina.
Akan tetapi AS justru diam terhadap keputusan Arab Saudi menjadi tuan rumah bersama acara itu. Diplomat dan pakar mengatakan kepada Middle East Eyebahwa sikap ganda AS menghantam Prancis sambil membiarkan Arab Saudi mencerminkan kekuatan Riyadh di Washington melalui kekuatan finansialnya dan semakin luasnya hubungan keamanan yang mereka sebarkan. Bader al-Saif, asisten profesor di Universitas Kuwait, mengatakan pemerintahan Trump secara diam-diam menunjukkan bahwa mereka tidak bersedia menegur sekutu Arab terdekatnya soal Palestina ketika sekutu itu bertindak. Teluk punya pengaruh lebih besar daripada yang mereka kira, dan itu bahasa praktis yang dipahami Trump.
Dunia Islam Kembali Menjadi yang Berpengaruh Dari apa yang telah terjadi, sejatinya dunia islam masih memiliki pengaruh untuk membuat Barat melunak, khususnya berkaitan dengan Gaza-palestina. Akan tetapi hal itu belum disokong dengan persatuan seluruh negeri muslim, masih berbasis kepentingan yang terikat dengan sekat negara sehingga masih mudah untuk disetir dengan kepentingan Barat. Agar dunia islam bisa menjadi sepadan bahkan lebih kuat pengaruhnya di kancah global, mereka perlu melakukan transformasi dan pembenahan di perbagai aspek penting, baik internal maupun eksternal. Pertama, harus dibangun kesadaran bahwa umat islam pernah memiliki negara yang berpengaruh pada masa lalu.
Kehadiran Daulah islam di Madinah yang dilanjutkan oleh Khulafaur rasyidddin yang dapat menghancurkan imperium Persia dan mengalahkan Romawi Adalah bukti nyata dari kekuatan negara yang dibangun atas dasar prinsip tauhid. Ini berlangsung sampai pada masa selanjutnya. Khilafah Ummayah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah yang berperan mengatur tatanan global. Khilafah menjadi adidaya selama berabad abad dan memberikan pengaruh internasional yang positif. Ini karena khilafah membawa Amanah menjadikan Islam sebagai Rahmatan lil alamin. Kedua, Penguatan Persatuan dan solisaritas politik. Membangun koalisi politik yang solid anatrnegara Islam untuk menghadapi isu Bersama secara kolektif.
Menyatukan suara Dunia Islam dalam isu-isu global yang krusial, seperti Palestina, islamophobia, dan keadilan sosial. Mengurangi perpecahan dan konflik internal yang melemahkan kekuatan Bersama. Tanpa persatuan, umat islam akan sulit Kembali pada posisinya sebagai negara kuat dan berpengaruh secara global. Ketiga, pengembangan kekuatan dan keamanan mandiri. Meningkatkan kemampuan pertahanan yang modern dan mandiri tanpa ketergantungan besar pada kekuatan asing. Membangun Kerjasama militer antar negeri muslim untuk mengatasi ancaman Bersama dan menjaga stabilitas regional. Ini karena negara islam mengamban Amanah untuk menyebarkan islam ke seluruh penjuru dunia. Menghilangkan hambatan fisik dengan mengumandangkan jihad.
Karena itu kekuatan militer yang kuat dan independent menjadi prasyarat utama untuk dapat berpengaruh secara global. Keempat, penguasaan teknologi dan inovasi. Investasi besar dalam teknologi tinggi, riset, sains, dan Pendidikan tinggi. Mengembangkan pusat-pusat inovasi dan star up untuk menumbuhkan ekosistem teknologi kompetitif. Mengurangi ketergantungan teknologi pada Barat dan membangun kemandirian teknologi. Kelima, membangun kemandirian ekonomi. Diversifikasi ekonomi diperlukan agar tidak bergantung pada SDA (missal minyak dan gas). Pengembangan sektor industry (industry berat dan dasar(, teknologi dan inovasi untuk meningkatkan daya saing global. Mendorong investasi dalam Pendidikan, riset dan pengembangan sumber daya manusia berkualitas tinggi.
Hal ini bisa terwujud Ketika umat islam khususnya para pemimpinnya menanggalkan ego asobiyahnya dan terlalu cinta dunia (wahn) untuk Bersatu dalam kepemimpinan yang satu dalam naungan Khilafah ala minjah nubuwwah. Tsauban ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: Hampir saja umat-umat (kaum kuffar) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadap hidangan di atas piringnya.Kemudian seseorang bertanya, apakah karena kami pada saat itu sedikit?, Rasulullah saw bersabda, bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian Bagai buih dilautan. Sungguh Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan Dia sungguuh menimpakan dalam kalbu kalian wahn.Kemudian seseorang bertanya, apa itu wahn?, Rasulullah saw berkata, Cinta Dunia dan Takut Mati.(HR Abu Dawud dan Abu Nuaim). Allahualam biashowab…
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda