Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Palestina di Tengah Pertarungan Konstelasi Negara Besar Deklarasi New York

Palestina di Tengah Pertarungan Konstelasi Negara Besar Deklarasi New York

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
20 Oktober 2025, 22.57 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
8 menit baca
Palestina

Oleh: Kartini, Aktivis muslimah

JurnalPost.com - Pada awalnya, Uni Eropa dan negara-negara anggotanya bersikap tegas dalam menanggapi serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Uni Eropa menyatakan solidaritasnya dengan Israel dan "hak untuk membela diri sejalan dengan hukum kemanusiaan dan internasional dalam menghadapi serangan yang kejam dan tidak pandang bulu. Namun, persatuan ini tampaknya retak tidak lama kemudian. Negara-negara Uni Eropa berbeda pendapat mengenai apakah akan menyerukan gencatan senjata yang lebih lama atau jeda yang lebih pendek dalam konflik bersenjata ini.

IKLAN

Konferensi internasional tentang isu Palestina di kota New York pada 28-30 Juli 2025 telah melahirkan deklarasi New York yang salah satu butir utamanya adalah dalam bentuk dukungan terhadap solusi dua negara Israel dan Palestina. Konferensi yang membuahkan 42 butir rekomendasi, digalang bersama Perancis-Arab Saudi dengan melibatkan 17 negara plus Uni Eropa dan Liga Arab. Di antara 17 negara yang terlibat tersebut, ada dua negara Eropa besar, yaitu Perancis dan Inggris yang bertekad akan mengumumkan pengakuan atas negara Palestina di sela sidang MU PBB di New York pada September 2025. Perancis dan Inggris selama ini dikenal basis tradisional dukungan paling kuat terhadap Israel di Eropa. Apa yang terjadi di New York pada 28-30 Juli 2025 merupakan aksi pembangkangan Eropa atas sikap tradisional mereka yang mendukung sangat kuat Israel. Deklarasi New York lahir dari akumulasi banyak faktor akibat perang Gaza-israel yang berlarut-larut. Perang Gaza telah menampilkan wajah isu Palestina yang bukan isu politik belaka. Perang Gaza kini lebih menjelma menjadi isu kemanusiaan. Apalagi dalam beberapa pekan terakhir ini, telah muncul isu bencana kelaparan akut yang merenggut ratusan nyawa anak kecil di Gaza. Hati nurani dunia tentu tidak menerima apa yang terjadi di Gaza saat ini.

Sipil Menjadi Korban
Baca Juga

Ketika Sipil Menjadi Korban: Ujian Nyata Hukum Humaniter Internasional

Deklarasi New York yang dilahirkan dari aliansi Arab-Eropa secara geopolitik sangat strategis untuk menandingi, sekaligus melawan aliansi AS-Israel. Pihak AS dan Israel sendiri menolak deklarasi New York. Maka di pentas geopolitik Timur Tengah saat ini, terjadi pertarungan antara proyek politik aliansi Arab-Eropa dengan konsep deklarasi New York dan proyek politik aliansi AS-Israel dengan konsep politik Abraham Accord. Aida.or.id. Faruk Boric, analis politik asal Sarajevo, menyampaikan kepada Xinhua bahwa penderitaan warga sipil yang berkepanjangan di Gaza telah meninggalkan kesan getir, dan keragu-raguan negara-negara Barat untuk bertindak telah melemahkan kemampuan mereka dalam mengklaim nilai-nilai universal dan otoritas moral. Kecaman publik terhadap aksi militer Israel telah mengguncang iklim politik di sejumlah negara besar Eropa seperti Inggris dan Prancis, di mana aksi unjuk rasa besar-besaran diselenggarakan secara rutin dalam beberapa bulan terakhir. Sejarawan Prancis Thomas Maineult menuturkan kepada media bahwa bencana kemanusiaan mempercepat proses pengambilan keputusan para pemimpin sebagai bentuk respons terhadap rakyat mereka.

Dukungan dan Penolakan di PBB Majelis Umum PBB (United Nations General Assembly/UNGA) pada Jumat (12/9) mengadopsi sebuah draf resolusi yang mengesahkan Deklarasi New York (New York Declaration) tentang Penyelesaian Damai Isu Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara. UNGA meloloskan resolusi tersebut dengan disetujui dengan 142 suara mendukung, 10 menolak - termasuk Israel dan Amerika Serikat (AS) - serta 12 abstain,. Deklarasi New York, yang diedarkan dalam konferensi internasional tingkat tinggi yang diadakan di PBB pada akhir Juli, menetapkan sebuah jalur yang berorientasi pada tindakan menuju penyelesaian damai konflik Israel-Palestina dan perwujudan solusi dua negara.

Pertemuan Trump dengan Penguasa Muslim di sela Sidang Umum PBB Ditengah gelontoran dukungan Solusi dua negara melalui deklarasi New York dan kecaman keras AS atas apa yang diinisiasi Perancis dan Riyadh. Alih alih mengecam dan menindak para penguasa muslim, AS malah menjadwalkan untuk bertemu dengan para pemimpin Arab dan Muslim untuk membahas rencana stabilisasi terpisah yaitu menjelaskan proposal dengan 21 point untuk penyelesaian konflik Gaza. Disini Nampak dua respon yang berbeda antara AS kepada Perancis dan respon AS kepada Riyadh, yang kedua negara tersebut merupakan penginisiasi Deklarasi New York ini.

IKLAN

Upaya AS untuk tidak menyinggung Arab Saudi menegaskan bahwa Teluk memiliki pengaruh lebih besar dari yang mungkin diyakini terhadap Trump soal Gaza. AS tidak merahasiakan bahwa mereka tidak senang dengan KTT PBB yang diselenggarakan Prancis dan Arab Saudi mengenai persoalan negara Palestina dan penerapan solusi dua negara. Beberapa sekutu dekat Presiden AS Donald Trump dan pejabat seniornya mengecam acara di New York tersebut. Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyebut KTT itu menjijikkandan mengatakan bahwa Prancis, salah satu tuan rumah, sebaiknya menyerahkan French Riviera untuk negara Palestina.

Prancis
Baca Juga

Prancis Resmi Akui Negara Palestina, Macron Tegaskan Dukungan Solusi Dua Negara

Akan tetapi AS justru diam terhadap keputusan Arab Saudi menjadi tuan rumah bersama acara itu. Diplomat dan pakar mengatakan kepada Middle East Eyebahwa sikap ganda AS menghantam Prancis sambil membiarkan Arab Saudi mencerminkan kekuatan Riyadh di Washington melalui kekuatan finansialnya dan semakin luasnya hubungan keamanan yang mereka sebarkan. Bader al-Saif, asisten profesor di Universitas Kuwait, mengatakan pemerintahan Trump secara diam-diam menunjukkan bahwa mereka tidak bersedia menegur sekutu Arab terdekatnya soal Palestina ketika sekutu itu bertindak. Teluk punya pengaruh lebih besar daripada yang mereka kira, dan itu bahasa praktis yang dipahami Trump.

Dunia Islam Kembali Menjadi yang Berpengaruh Dari apa yang telah terjadi, sejatinya dunia islam masih memiliki pengaruh untuk membuat Barat melunak, khususnya berkaitan dengan Gaza-palestina. Akan tetapi hal itu belum disokong dengan persatuan seluruh negeri muslim, masih berbasis kepentingan yang terikat dengan sekat negara sehingga masih mudah untuk disetir dengan kepentingan Barat. Agar dunia islam bisa menjadi sepadan bahkan lebih kuat pengaruhnya di kancah global, mereka perlu melakukan transformasi dan pembenahan di perbagai aspek penting, baik internal maupun eksternal. Pertama, harus dibangun kesadaran bahwa umat islam pernah memiliki negara yang berpengaruh pada masa lalu.

Kehadiran Daulah islam di Madinah yang dilanjutkan oleh Khulafaur rasyidddin yang dapat menghancurkan imperium Persia dan mengalahkan Romawi Adalah bukti nyata dari kekuatan negara yang dibangun atas dasar prinsip tauhid. Ini berlangsung sampai pada masa selanjutnya. Khilafah Ummayah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah yang berperan mengatur tatanan global. Khilafah menjadi adidaya selama berabad abad dan memberikan pengaruh internasional yang positif. Ini karena khilafah membawa Amanah menjadikan Islam sebagai Rahmatan lil alamin. Kedua, Penguatan Persatuan dan solisaritas politik. Membangun koalisi politik yang solid anatrnegara Islam untuk menghadapi isu Bersama secara kolektif.

Menyatukan suara Dunia Islam dalam isu-isu global yang krusial, seperti Palestina, islamophobia, dan keadilan sosial. Mengurangi perpecahan dan konflik internal yang melemahkan kekuatan Bersama. Tanpa persatuan, umat islam akan sulit Kembali pada posisinya sebagai negara kuat dan berpengaruh secara global. Ketiga, pengembangan kekuatan dan keamanan mandiri. Meningkatkan kemampuan pertahanan yang modern dan mandiri tanpa ketergantungan besar pada kekuatan asing. Membangun Kerjasama militer antar negeri muslim untuk mengatasi ancaman Bersama dan menjaga stabilitas regional. Ini karena negara islam mengamban Amanah untuk menyebarkan islam ke seluruh penjuru dunia. Menghilangkan hambatan fisik dengan mengumandangkan jihad.

Palestina: Habis Nyawa, Terbitlah Luka
Baca Juga

Palestina: Habis Nyawa, Terbitlah Luka

Karena itu kekuatan militer yang kuat dan independent menjadi prasyarat utama untuk dapat berpengaruh secara global. Keempat, penguasaan teknologi dan inovasi. Investasi besar dalam teknologi tinggi, riset, sains, dan Pendidikan tinggi. Mengembangkan pusat-pusat inovasi dan star up untuk menumbuhkan ekosistem teknologi kompetitif. Mengurangi ketergantungan teknologi pada Barat dan membangun kemandirian teknologi. Kelima, membangun kemandirian ekonomi. Diversifikasi ekonomi diperlukan agar tidak bergantung pada SDA (missal minyak dan gas). Pengembangan sektor industry (industry berat dan dasar(, teknologi dan inovasi untuk meningkatkan daya saing global. Mendorong investasi dalam Pendidikan, riset dan pengembangan sumber daya manusia berkualitas tinggi.

Hal ini bisa terwujud Ketika umat islam khususnya para pemimpinnya menanggalkan ego asobiyahnya dan terlalu cinta dunia (wahn) untuk Bersatu dalam kepemimpinan yang satu dalam naungan Khilafah ala minjah nubuwwah. Tsauban ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: Hampir saja umat-umat (kaum kuffar) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadap hidangan di atas piringnya.Kemudian seseorang bertanya, apakah karena kami pada saat itu sedikit?, Rasulullah saw bersabda, bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian Bagai buih dilautan. Sungguh Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan Dia sungguuh menimpakan dalam kalbu kalian wahn.Kemudian seseorang bertanya, apa itu wahn?, Rasulullah saw berkata, Cinta Dunia dan Takut Mati.(HR Abu Dawud dan Abu Nuaim). Allahualam biashowab…

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/palestina-di-tengah-pertarungan-konstelasi-negara-besar-deklarasi-new-york/87135/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 18.06 WITA

  • #FreePalestina
  • #Peduli Palestina

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Pilihan Editor

  1. 1 Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia
  2. 2

    UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

  3. 3

    Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

  4. 4

    Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

  5. 5

    Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.