JurnalPost.com - Setiap kali media sosial dipenuhi tagar hujatan dan makian terhadap seseorang, ada satu pertanyaan yang jarang sekali tersoroti, yaitu:
“Apakah benar orang yang dengan mudahnya merundung orang lain digerakan oleh niat suci untuk menegakkan moralitas?” Atau “Jangan-jangan, di balik topeng penegakan keadilan, terdapat meriahnya pesta katarsis kolektif atas kepenatan pribadi?”
Berkali-kali saya mengamati fenomena ini, ketika publik menggaungkan penghakiman terhadap seorang individu, yang pada dasarnya hanya seorang manusia, yang bisa melakukan kesalahan. Saya tidak menyangkal, bahwa sanksi sosial memang perlu ditegaskan, pada orang yang memang pantas mendapatkannya. Namun, mari kita pisahkan antara menegakkan aturan dan merusak martabat. Apakah sanksi yang berlebihan ini benar-benar mencerminkan nilai moral yang sedang kita bela, atau justru bentuk kebencian yang dibungkus kebajikan?
Sering kali kita temui, hujatan terhadap seseorang jarang berorientasi pada perbaikan, melainkan destruksi yang mengerikan. Sasaran hujatan ditekan habis-habisan, karier dan mentalnya hancur. Sementara, massa yang menghukum berlalu pergi tanpa beban, bahkan membawa sebuah kemenangan, tanpa ada yang benar-benar berubah di masyarakat..
Ressentiment: Moralitas yang Lahir dari Ketakberdayaan
Friedrich Nietzsche, dalam gagasannya tentang moralitas tuan (master morality) versus moralitas budak (slave morality), menawarkan pemahaman yang dapat digunakan dalam membaca fenomena ini. Bagi Nietzsche, pihak yang lemah dan tak berdaya di hadapan orang lain yang kuat dan sukses kerap kali menyimpan ressentiment, kebencian terpendam yang lahir dari ketidakmampuan untuk membalas secara langsung. Dari ketidakberdayaan itu, mereka membangun sistem nilai baru yang mereka anggap benar: yang kuat dilabeli jahat dan amoral, sementara yang lemah mengklaim diri sebagai pihak suci yang tersakiti.
Cancel culture bisa dibaca sebagai versi digital dari mekanisme ini. Ketika seorang figur publik yang sukses dan berpengaruh melakukan kesalahan sekecil apa pun, massa daring yang selama ini merasa kalah posisi bahkan insecure memiliki kesempatan untuk membalikkan hierarki tersebut. Bukan lagi lewat prestasi atau argumen, melainkan lewat penghukuman kolektif yang instan.
Misalnya, terdapat kasus konten kreator di Indonesia yang diserang habis-habisan setelah menyampaikan pandangan pribadi soal childfree hingga memicu boikot sponsor. Hal tersebut memperlihatkan bagaimana perbedaan nilai dengan cepat diubah menjadi vonis massal meski pada akhirnya memicu perlawanan balik dari sebagian publik yang membelanya.
Kambing Hitam dan Katarsis Massal
Jika Nietzsche menjelaskan motif psikologis di balik fenomena ini, René Girard menjelaskan mekanisme sosialnya. Girard berpendapat bahwa manusia pada dasarnya tidak benar-benar tahu apa yang mereka inginkan, mereka meniru hasrat orang lain, atau biasa disebut hasrat mimetik. Peniruan hasrat secara massal ini melahirkan ketegangan kolektif yang jika dibiarkan dapat mengancam kohesi kelompok.
Menurut Girard, solusi yang muncul dari hal tersebut adalah dengan mengalihkan ketegangan kepada satu sosok, bisa disebut, kambing hitam. Dengan menyingkirkan sang kambing hitam secara kolektif, kelompok merasa tersucikan dan solidaritas palsu pun tercipta. Padahal, akar masalah yang sesungguhnya tidak pernah benar-benar tersentuh.
Pola ini terlihat jelas dalam berbagai kasus cancel culture di Indonesia belakangan ini. Nama-nama seperti Timothy Ronald, yang berubah dari sosok influencer finansial menjadi simbol kemarahan publik akibat dugaan penipuan investasi kripto, menunjukkan bagaimana netizen tak menunggu vonis hukum sebelum menjatuhkan hukuman sosial. Setelah "kambing hitam" ditemukan dan dihabisi, massa merasa telah menegakkan keadilan, meski struktur yang memungkinkan pelanggaran serupa terjadi lagi tak pernah diperbaiki.
Kawanan Digital dan Badai Kebencian
Filsuf kontemporer Byung-Chul Han menambahkan dimensi lain: bagaimana teknologi digital memfasilitasi kekejaman kolektif ini. Dalam gagasannya tentang "kawanan digital" (digital swarm) dan shitstorm, Han menyoroti hilangnya jarak dan rasa hormat di media sosial. Layar handphone dan anonimitas memutus tanggung jawab etis yang biasanya muncul dalam interaksi tatap muka, membuat orang-orang yang sehari-hari biasa saja berubah menjadi agresif ketika bersembunyi di balik akun digital. Hal tersebut dapat kita pandang dari kehidupan sehari-hari, dimana akun sosial media yang vokal dalam penghakiman amoral biasanya berupa akun palsu atau anonim.
Shitstorm sendiri berkerumun layaknya lalat, dipicu oleh emosi sesaat, menghancurkan seseorang dalam hitungan menit, lalu pergi melupakan semuanya tanpa ada dampak positif dari tindakannya.
Argumen Han ini dapat dicontohkan oleh pergeseran pola cancel culture di Indonesia, yang pada 2026 disebut memasuki fase paling ekstrem. Netizen kini bergerak lebih sistematis dengan menekan stasiun televisi, menandai lembaga penyiaran, menyerang merek dagangam, hingga memaksa penghapusan nama seorang figur publik. Ini bukan lagi sekedar kritik individual, melainkan mobilisasi kawanan yang terorganisasi meski tanpa perintah atau kamondo jelas.
Bukan Sekadar Kejahatan Massa: Sisi yang Terlewat
Namun, membaca cancel culture hanya sebagai ressentiment, kambing hitam, atau kawanan digital berisiko terlalu menyederhanakan persolan. Tidak semua kemarahan publik lahir dari kedengkian atau kebutuhan katarsis semata. Banyak kasus cancel culture justru berawal dari suara korban yang selama ini dibungkam oleh relasi kuasa yang timpang, seperti pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, atau diskriminasi yang sebelumnya sulit ditembus jalur hukum formal. Bagi kelompok rentan yang tak memiliki akses ke pengadilan, tekanan sosial digital kerap menjadi satu-satunya harapan yang tersedia. Kita tidak bisa menyamaratakan semua bentuk kecaman publik sebagai "moralitas budak".
Cancel culture pada akhirnya adalahh cermin. Ia memantulkan hasrat manusia untuk merasa benar secara kolektif, sekaligus kerapuhan etika. Fenomena ini tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang pantas dihukum, melainkan mengapa kita dengan kejamnya merasa nikmat dan senang ketika menyaksikan orang lain hancur, sebuah pertanyaan yang, pada akhirnya, mengantarkan filsafat moral kembali bersinggungan dengan psikologi tentang hasrat, identitas kelompok, dan kebutuhan manusia akan pengakuan.
SparkNotes, "On the Genealogy of Morals". https://www.sparknotes.com/philosophy/nietzsche/section4/
Britannica, "René Girard". https://www.britannica.com/biography/Rene-Girard
MIT Press, "In the Swarm: Digital Prospects". https://mitpress.mit.edu/9780262533362/in-the-swarm/
Teropong Media, "Daftar Artis Korban Cancel Culture Paling Sadis di 2026, Dihabisi Netizen Sampai Hilang dari TV" (2026)
Retizen Republika, "Cancel Culture 2026: Ketika Opini Publik Menjadi Pengadilan Tanpa Hakim" (2026)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda