Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Normalisasi Bullying di Media Sosial: Ketika Komentar Tajam Dianggap Bercanda

Normalisasi Bullying di Media Sosial: Ketika Komentar Tajam Dianggap Bercanda

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
30 November 2025, 19.06 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Bullying

Oleh Aidah Azizah

JurnalPost.com - Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Di sana, setiap orang dapat menyampaikan pendapat, membagikan cerita, hingga mengekspresikan dirinya dengan bebas. Namun, kebebasan tersebut juga membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Di balik ramainya interaksi digital, muncul kebiasaan baru yang semakin hari semakin dianggap normal: perundungan yang dibungkus candaan.

IKLAN

Banyak pengguna menunjukkan perilaku mengolok-olok dengan alasan humor. Komentar bernada merendahkan sering kali diselesaikan dengan kalimat, “Cuma bercanda, jangan baper.” Kalimat sederhana ini dijadikan tameng untuk melegalkan kata-kata tajam yang sebenarnya dapat melukai orang lain. Tanpa disadari, budaya seperti ini membuat empati semakin menipis. Kita menjadi lebih mudah menertawakan, lebih cepat menghakimi, dan lebih berani menyakiti hanya karena merasa jarak layar memberi perlindungan.

Generazi Z
Baca Juga

Tren Menonton Konser sebagai Bentuk Healing Generasi Z

Setiap unggahan viral biasanya menjadi magnet utama perilaku ini. Begitu sebuah video atau foto menyebar luas, kolom komentar seketika berubah menjadi arena tempur. Banyak warganet berlomba-lomba meninggalkan komentar yang paling lucu dan paling pedas, tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang yang menjadi sasaran. Perilaku tersebut terus berulang hingga menjadi kebiasaan, dan kebiasaan yang terus dibiarkan lama-lama berubah menjadi budaya. Itulah akar dari normalisasi bullying digital: perundungan yang dianggap lumrah karena banyak orang melakukannya.

Realitas ini bukan sekadar isu sepele. Laporan Kementerian Kominfo tahun 2023 menunjukkan bahwa hampir separuh anak muda Indonesia pernah menerima komentar negatif atau mengalami bentuk pelecehan daring. Dampak psikologisnya nyata. Banyak korban mengaku mengalami kecemasan, sulit tidur, kehilangan rasa percaya diri, hingga menarik diri dari pergaulan. Luka mental yang ditinggalkan oleh komentar singkat di internet tidak bisa disembuhkan hanya dengan nasihat “sabar.”

IKLAN

Sayangnya, sebagian besar masyarakat masih belum memahami batas yang jelas antara kritik dan penghinaan. Kritik semestinya memberikan ruang bagi perubahan atau pemikiran baru. Namun, penghinaan hanya melahirkan rasa sakit dan membuat seseorang merasa rendah. Kebebasan berpendapat harusnya tetap berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral. Di ruang digital yang sangat cepat, tanggung jawab itu sering kali tertinggal jauh di belakang.

Sebagai generasi yang melek teknologi, mahasiswa sejatinya memiliki peran penting dalam mengubah arah budaya digital. Perubahan bisa dimulai dari langkah-langkah kecil. Mengontrol kata sebelum menekan tombol “kirim” adalah salah satunya. Sebuah pertanyaan sederhana dapat membantu: “Kalau komentar ini ditujukan pada saya, bagaimana perasaan saya?” Pertanyaan ini mungkin singkat, tetapi dapat mencegah banyak dampak negatif.

Media Sosial
Baca Juga

Media Sosial: Tantangan Baru Bagi Pembinaan Bahasa

Selain itu, ketika kita mendapati seseorang menjadi sasaran perundungan, kita dapat memilih untuk tidak ikut serta. Bahkan dukungan kecil seperti “Tetap semangat, kamu tidak sendirian” bisa sangat berarti. Tak semua orang punya kekuatan untuk menghadapi serangan bertubi-tubi di internet, dan keberadaan satu suara positif dapat menjadi penyelamat emosional bagi mereka.

Normalisasi bullying tidak bisa dibiarkan tumbuh tanpa perlawanan. Ia harus dicegah dengan memperkuat nilai empati digital, keberanian untuk menegur, dan kesadaran bahwa setiap perkataan memiliki konsekuensi. Di balik setiap akun, ada manusia dengan perasaan dan batas ketahanan yang berbeda-beda. Membangun ruang digital yang aman bukan tugas satu orang; ini adalah upaya bersama. Jika setiap dari kita memilih untuk menjaga kata, menghargai perasaan orang lain, dan mengutamakan kebaikan dalam berkomentar, media sosial dapat kembali menjadi tempat yang menyenangkan bukan medan yang dipenuhi luka.

Oleh: Aidah Azizah, mahasiswa FKIP Universitas Mulawarman, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/normalisasi-bullying-di-media-sosial-ketika-komentar-tajam-dianggap-bercanda/88576/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.26 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #media sosial

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

Pilihan Editor

  1. 1 Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital
  2. 2

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

  3. 3

    Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

  4. 4

    Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

  5. 5

    Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.