BOGOR – Misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) yang membawa bantuan pangan untuk rakyat Gaza mendapat apresiasi dan dukungan luas dari berbagai tokoh nasional maupun internasional. Dukungan tersebut datang dari kalangan ulama, akademisi, hingga bangsawan, seperti Pembina Utama Aqsa Working Group (AWG) Imaam Yakhsyallah Mansur dan Sultan Banten ke-18 Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja.
Meskipun armada pelayaran GSF belum berhasil menembus blokade laut Gaza karena dicegat pasukan zionis Israel di perairan internasional, para aktivis kemanusiaan Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan perjuangan membantu warga Palestina.
“Terima kasih kepada rakyat Indonesia yang selalu mendoakan dan mengawal kami melalui media sosial dan pemberitaan mengenai Global Sumud Flotilla sampai kami bisa kembali ke tanah air tanpa kurang satu apa pun,” ujar Muhammad Fatur Rohman, aktivis kemanusiaan dari Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) yang menjadi delegasi AWG dalam misi GSF, Sabtu kemarin.
Menurut Fatur Rohman, perjuangan kemanusiaan ini tidak akan berhenti meskipun menghadapi blokade dan intimidasi dari pasukan Israel. “Kita akan membuat gelombang pelayaran yang lebih besar dan lebih kuat untuk bersama-sama membuka blokade Gaza yang dilakukan zionis Israel sampai saat ini,” tegasnya.
Pembina AWG Imaam Yakhsyallah Mansur mendukung tekad tersebut. Beliau menilai penting umat Islam memiliki kapal dan nakhoda sendiri agar misi kemanusiaan ke Gaza dapat dilakukan secara mandiri dan berkelanjutan. “Syukur-syukur ketika kita berlayar nanti bangsa Palestina sudah merdeka dan Masjidil Aqsa sudah kembali ke tangan umat Islam,” ujarnya dalam konferensi pers penyambutan kepulangan para aktivis di Jakarta.
Sementara itu, Sultan Banten ke-18, Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja, menyampaikan dukungan penuh terhadap pelayaran kemanusiaan tersebut. Ia menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk melindungi misi kemanusiaan ke Gaza dari gangguan zionis Israel dan antek-anteknya.
“Para aktivis Indonesia yang membawa pesan keadilan dan suara warga Gaza tertindas adalah wakil bangsa dalam melaksanakan amanah konstitusi untuk menumpas penjajahan di atas dunia, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan,” tegasnya RB Hendra dalam keterangannya, Kamis (9/10/2025).
Dukungan juga mengalir dari sejumlah tokoh internasional dan nasional, di antaranya Dr. Ahmed Abdul Malik (Dosen UIA Malaysia asal Nigeria), Syeikh Watu Ibrahim (tokoh agama Filipina), Teuku Farhan (tokoh masyarakat Aceh), Fajri Matahati Muhammadin, Ph.D (pakar Hukum Internasional UGM), Dr. Aat Surya Safaat (Direktur UKW PWI Pusat 2025–2030), Dr. Adhyaksa Dault, SH (Menpora Kabinet Indonesia Bersatu 2004–2009), H. Endang Sudrajat, ST, MT (Ketua Umum UAR), Nur Iman (Sekjen AFKADO), serta musisi Padi Rebon dan sejumlah tokoh lainnya.
Blokade Israel terhadap Gaza telah berlangsung hampir 18 tahun, menyebabkan penderitaan berkepanjangan bagi sekitar 2,5 juta penduduknya. Sejak agresi militer besar-besaran pada 2023, lebih dari 67.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, tewas akibat serangan udara dan darat. Meski berbagai upaya diplomasi dan proposal perdamaian terus digulirkan, serangan zionis Israel ke wilayah Gaza masih terus berlangsung hingga kini. [AM]
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda