Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Menikmati Sepak Bola atau Merayakan Kekalahan Lawan?

Menikmati Sepak Bola atau Merayakan Kekalahan Lawan?

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
20 Juli 2026, 17.37 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Sepak Bola

Oleh : La Ode Muhammad Ichwan Sjachrawy

JurnalPost.com - Setiap final selalu menghadirkan dua cerita: kegembiraan bagi sang juara dan kekecewaan bagi tim yang harus pulang tanpa trofi. Itulah wajah sepak bola yang sesungguhnya. Tidak ada tim yang akan terus berada di puncak, sebagaimana tidak ada kekalahan yang berlangsung selamanya. Ketidakpastian itulah yang membuat sepak bola selalu menarik untuk diikuti.

IKLAN

Namun, usai laga final antara Argentina dan Spanyol, perhatian saya justru tertuju pada sesuatu yang terjadi di luar lapangan. Linimasa media sosial dipenuhi berbagai komentar, meme, dan unggahan yang lebih sibuk merayakan kegagalan Argentina daripada keberhasilan Spanyol menjadi juara. Pembahasan mengenai kualitas pertandingan, strategi pelatih, atau penampilan para pemain seolah tenggelam di tengah derasnya arus saling mengejek antarsuporter.

Lamine Yamal
Baca Juga

Messi Kenang Foto Viral Bersama Bayi Lamine Yamal Jelang Final Piala Dunia 2026

Menariknya, banyak komentar tersebut bukan berasal dari pendukung Spanyol. Sebagian justru datang dari pendukung tim lain yang selama ini memiliki rivalitas dengan Argentina atau Lionel Messi. Fenomena ini memperlihatkan bahwa bagi sebagian orang, kekalahan rival terasa lebih memuaskan dibandingkan kemenangan tim yang bertanding.

Media sosial tampaknya ikut mengubah cara sebagian orang menikmati sepak bola. Ruang yang semestinya menjadi tempat berbagi analisis, apresiasi, atau diskusi mengenai pertandingan sering kali berubah menjadi arena adu ejekan. Konten yang menyindir lawan lebih cepat menarik perhatian, lebih mudah dibagikan, dan lebih ramai diperbincangkan daripada ulasan tentang jalannya pertandingan. Akibatnya, fokus bergeser dari keindahan permainan menuju persaingan untuk memenangkan perdebatan di dunia maya.

Padahal, jika diamati lebih jauh, para pemain justru menunjukkan sikap yang berbeda. Mereka bertanding dengan penuh determinasi selama 90 menit bahkan sampai babak extra time, tetapi tetap mampu saling menghormati ketika pertandingan usai. Persaingan berhenti di atas lapangan, sedangkan rasa hormat tetap dijaga setelah peluit panjang dibunyikan. Ironisnya, semangat sportivitas itu kadang justru hilang di kalangan penonton yang hanya menyaksikan pertandingan dari balik layar.

IKLAN

Rivalitas tentu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sepak bola. Tanpa rivalitas, pertandingan mungkin kehilangan daya tariknya. Candaan antarsuporter pun menjadi warna yang telah lama melekat dalam budaya sepak bola. Namun, candaan akan kehilangan maknanya ketika berubah menjadi penghinaan, kebencian, atau serangan pribadi. Pada titik itu, rivalitas tidak lagi memperkaya pengalaman menonton, melainkan mengikis nilai sportivitas yang menjadi ruh olahraga itu sendiri.

Lionel Messi
Baca Juga

Messi Persembahkan Kemenangan Dramatis Argentina atas Inggris untuk Penggemar

Masih banyak hal yang sebenarnya layak diapresiasi dari sebuah pertandingan. Keberanian pemain mengambil keputusan di bawah tekanan, kecerdasan membaca ruang, disiplin menjaga pertahanan, kreativitas membangun serangan, hingga semangat untuk terus berjuang sampai peluit akhir merupakan bagian dari keindahan sepak bola yang sering kali luput dari perhatian. Nilai-nilai inilah yang membuat olahraga ini dicintai oleh jutaan orang di berbagai belahan dunia.

Sepak bola juga mengajarkan bahwa kemenangan dan kekalahan adalah dua sisi yang selalu berjalan beriringan. Hari ini sebuah tim berdiri di podium juara, tetapi esok mereka bisa saja merasakan pahitnya kekalahan. Sejarah menunjukkan bahwa bahkan klub maupun tim nasional terbaik sekalipun pernah mengalami masa-masa sulit. Tidak ada dominasi yang berlangsung selamanya.

Karena itu, ukuran kedewasaan seorang penikmat sepak bola seharusnya tidak diukur dari seberapa keras ia merayakan kekalahan lawan, melainkan dari kemampuannya menghargai perjuangan kedua tim. Mengakui bahwa Spanyol tampil lebih baik tidak berarti harus merendahkan Argentina. Sebaliknya, tetap mendukung tim favorit ketika mereka kalah justru menunjukkan loyalitas yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, para pemain yang bertarung habis-habisan selama pertandingan akan saling berjabat tangan setelah peluit akhir dibunyikan. Mereka memahami bahwa pertandingan telah selesai dan hasil harus diterima dengan lapang dada. Barangkali sikap itulah yang juga perlu kita pelajari sebagai penonton.

Jersey Original
Baca Juga

Piala Dunia dan Pilihan Finansial: Mengapa Jersey Original Belum Menjadi Pilihan Banyak Orang Indonesia?

Menikmati sepak bola seharusnya tidak berhenti pada siapa yang menang atau kalah. Keindahan permainan, sportivitas, rasa hormat kepada lawan, dan kemampuan menerima hasil pertandingan adalah nilai-nilai yang membuat olahraga ini tetap dicintai lintas generasi. Ketika kita lebih sibuk merayakan kegagalan lawan daripada mengapresiasi pertandingan itu sendiri, mungkin yang perlu dievaluasi bukan lagi sepak bolanya, melainkan cara kita menikmatinya. .

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/menikmati-sepak-bola-atau-merayakan-kekalahan-lawan/95954/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.27 WITA

  • #Piala Dunia 2026

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Pilihan Editor

  1. 1 Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya
  2. 2

    Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

  3. 3

    Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

  4. 4

    Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

  5. 5

    Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.