Oleh: Saeful Fachri (Dosen Prodi Manajemen Universitas Pamulang)
JurnalPost.com - Pergelaran Piala Dunia 2026 selalu menimbulkan euforia yang menarik minat masyarakat di seluruh dunia terlebih bagi para penggemar sepakbola untuk memeriahkan event empat tahunan. Salah satunya dengan penggunaan jersey sepakbola untuk berbagai keperluan harian. Akibat meningkatnya minat masyarakat menggunakan jersey sepkabola sering kita temukan informasi mengenai meningkatnya penjualan jersey sepakbola baik di pusat-pusat perbelanjaan hingga penjualan diberbagai platform marketplace. Analisa yang dilakukan oleh Peter Rohlmann (Football Industry Merchandise Expert) seperti yang dikutip dari The Guardian memperkirakan akan terjual 18-23 juta jersey replika selama Piala Dunia 2026 artinya meningkat tajam dibandingkan Piala Dunia 2022 hanya di angka 14,4 juta jersey.
Bisa diperhatikan jika dengan rerata harga sebesar US$100 per jersey, nilai pasar global jersey resmi berpotensi mencapai US$ 1,8 sampai 2,3 miliar. Fanatics yaitu mitra ritel resmi FIFA dengan potensi tersebut mengungkapkan dari sisi merchandising saja penyelenggaraan Piala Dunia telah menjadi salah satu penggerak utama ekonomi global. Jika kita tarik lagi trend global tersebut pada perputaran ekonomi nasional seperti apa dampaknya bisa diuraikan dengan melihat berbagai fenomena masyarakat berkaitan dengan penggunaan jersey original. Faktor pertama yang menjadi alasan klasik penggunaan jersey palsu atau seringkali disebut jersey KW adalah kesenjangan harga. Apakah alasan tersebut bisa jadi pembenaran? Jika kita lihat kisaran harga jersey palsu yang dijual mulai harga Rp. 50 ribu dibandingkan dengan jersey yang harganya di kisaran satu sampai dengan tiga juta rupiah. Memang terasa jelas kesenjangan harganya yang dijadikan pembenaran. Berbagai opini serta riset melihat fenomena itu dari sudut pandang hukum, pelanggaran hak merek atau perilaku konsumen untuk menjawab pandangan tersebut.
Namun kali ini, kita akan analisa dari sudut pandang pada aspek finansial. Kita akan komparasi daya beli konsumen di Indonesia dan negara maju. Jika kita menggunakan pendapatan per kapita dengan indikator Produk Domestik Bruto (PDB), laporan BPS dan World Bank menyebutkan PDB Indonesia pada tahun 2025 yaitu ada di US$5.060-5.083, sekitar Rp 83,7 juta per tahun atau sekitar Rp.7 juta per bulan. Coba kita bandingkan dengan Inggris sebagai contoh negara maju yang juga peserta Piala Dunia 2026. Inggris atau United Kingdom secara luas, memiliki PDB ada di US$ 57.602, ada di Rp. 939, 9 juta per tahun atau sekitar Rp.78,3 juta. Perbandingannya bisa mencapai 11,3 kali lebih tinggi dibandingkan Indonesia.
Jika kita lihat pada aspek keputusan pembelian jersey original, ilustrasinya seperti ini: Jika Indonesia PDB Indonesia ada di kisaran Rp. 7 juta per bulan dengan ambil harga jersey original pada kisaran US$100 (Sekitar Rp 1,7-1,8 juta). Artinya, pembelian satu jersey akan menghabiskan sekitar 26% dari rerata pendapatan bulanan. Jika lihat PDB Inggris, dengan GDP Rp. 78,3 juta per bulan dengan harga jersey sekitar Rp. 1,8 juta artinya hanya menghabiskan 2,3% dari rata-rata pendapatan bulanannya. Dengan demikian, situasi ini mencerminkan terbatasnya ruang disposable income masyarakat Indonesia dengan menarik konteks keputusan pembelian jersey original. Kita mungkin mengingat bahwa disposable income adalah pendapatan yang masih tersisa setelah rumah tangga memenuhi kewajiban utamanya. Dana inilah yang biasanya digunakan untuk membeli barang konsumsi misalnya jersey original. Artinya, keputusan pembelian sangat bergantung dari besaran disposable income yang dimiliki masyarakat.
Di tengah keterbatasan rerata ruang finansial masyarakat Indonesia, bijaknya pembelian jersey palsu atau KW tidaklah bisa dijadikan pembenaran. Dalam sebuah riset yang dilakukan Chiu & Ho Keat Leng pada tahun 2015 menyebutkan orang-orang yang mencintai permainan olaharga (Fans atau penggemar dari sebuah klub atau tim nasional sepakbola) cenderung akan membeli produk original karena terbentuk kesadaran dan apresiasi atas klub atau tim sepakbola kegemarannya atau kita mengenalnya dengan brand consciousness. Semakin sadar seseorang atas nilai sebuah brand semakin kecil kemungkinan membeli jersey palsu.
Ada banyak pilihan ditengah keterbatasan finansial untuk tetap memakai produk original, berbagai kampanye yang dilakukan oleh komunitas penggemar jersey dilakukan misalnya dengan membeli jersey saat off season, bisa kita lihat misalnya kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia membuat jersey barunya langsung dapat potongan pembelian dikisaran 20-30% atau yang terbaru kegagalan Jerman melaju ke babak berikutnya di Piala Dunia tidak lama berselang di toko ritel resminya sudah didiskon hingga 30%. Maraknya penggunaan jersey non original merupakan cerminan dari belum terbentuk dari berbagai faktor, selain faktor kesenjangan harga, ruang disposable income yang terbatas, juga bisa berasal dari budaya konsumsi masyarakat yang belum terlalu peduli akan kesadaran merek dagang dan kekayaan intelektual.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda