Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Mengenal El Niño dan La Niña: Seberapa Besar Pengaruhnya pada Iklim Global?

Mengenal El Niño dan La Niña: Seberapa Besar Pengaruhnya pada Iklim Global?

F
Penulis: fachri farid
23 September 2026, 14.35 WITA Editor: Hasbi
8 menit baca
1000889745

JurnalPost.com - Cuaca panas berkepanjangan, kekeringan, hujan ekstrem, hingga perubahan musim yang terasa tidak biasa sering kali dikaitkan dengan dua fenomena iklim yang disebut El Niño dan La Niña.

Keduanya bukan sekadar perubahan cuaca lokal. El Niño dan La Niña merupakan bagian dari sistem iklim berskala besar yang dapat memengaruhi pola hujan dan suhu di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.

IKLAN

Secara ilmiah, fenomena tersebut merupakan bagian dari El Niño–Southern Oscillation atau ENSO, yaitu perubahan berkala pada suhu permukaan laut dan kondisi atmosfer di wilayah Samudra Pasifik tropis, terutama bagian tengah dan timur.

ENSO memiliki dua fase utama yang berlawanan, yakni El Niño dan La Niña. Di antara keduanya terdapat fase netral, ketika kondisi laut dan atmosfer relatif mendekati keadaan normal.

Lantas, apa sebenarnya perbedaan El Niño dan La Niña, serta seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan manusia?

Apa Itu El Niño?

El Niño merupakan kondisi ketika suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tropis bagian tengah hingga timur menjadi lebih hangat dibandingkan kondisi normal.

Dalam kondisi normal, angin pasat bertiup dari timur menuju barat di sepanjang wilayah tropis Pasifik. Angin tersebut membantu mendorong massa air hangat menuju wilayah barat Pasifik, termasuk kawasan Indonesia.

Ketika El Niño terjadi, angin pasat biasanya melemah. Akibatnya, air hangat yang sebelumnya lebih banyak terkumpul di bagian barat Pasifik bergerak atau meluas ke bagian tengah dan timur Samudra Pasifik.

Perubahan suhu laut ini kemudian memengaruhi sirkulasi atmosfer di atasnya.

Daerah pembentukan awan dan hujan yang biasanya aktif di sekitar Indonesia dan Pasifik barat dapat bergeser lebih jauh ke tengah atau timur Pasifik.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut umumnya menyebabkan berkurangnya pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah.

Dampaknya dapat berupa penurunan curah hujan, musim kemarau yang lebih kering, meningkatnya risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, serta meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.

Namun, dampak El Niño tidak selalu sama di setiap daerah maupun setiap kejadian. Kekuatan El Niño, musim ketika fenomena berlangsung, dan kondisi atmosfer regional turut menentukan besarnya dampak yang terjadi.

Mengapa El Niño Bisa Membuat Indonesia Lebih Kering?

Indonesia berada di wilayah Pasifik barat yang memiliki suhu laut relatif hangat dan menjadi salah satu pusat pembentukan awan hujan tropis.

Ketika El Niño berkembang, pusat perairan hangat dan aktivitas konveksi atau pembentukan awan dapat bergeser ke arah tengah dan timur Pasifik.

Akibatnya, suplai uap air dan aktivitas hujan di sebagian wilayah Indonesia dapat menurun.

Kondisi ini menjelaskan mengapa El Niño sering dikaitkan dengan musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Sementara Indonesia dan Australia dapat mengalami pengurangan curah hujan, beberapa wilayah di bagian timur Pasifik justru dapat menerima hujan lebih banyak dari biasanya.

Inilah salah satu karakter utama ENSO: perubahan yang terjadi di satu wilayah Samudra Pasifik dapat memengaruhi atmosfer hingga ribuan kilometer jauhnya.

Apa Itu La Niña?

Jika El Niño ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur, La Niña merupakan kondisi sebaliknya.

Pada saat La Niña, suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tropis bagian tengah dan timur menjadi lebih dingin dibandingkan kondisi normal.

Angin pasat yang bertiup dari timur menuju barat umumnya menjadi lebih kuat. Kondisi tersebut mendorong semakin banyak air hangat ke wilayah Pasifik barat.

Akibatnya, perairan di sekitar Indonesia dapat menjadi relatif lebih hangat dan menyediakan lebih banyak uap air untuk pembentukan awan.

Karena itu, La Niña sering dikaitkan dengan meningkatnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Jika berlangsung kuat atau bersamaan dengan faktor cuaca lainnya, peningkatan hujan tersebut dapat meningkatkan risiko banjir, tanah longsor, genangan, serta gangguan pada sektor pertanian dan transportasi.

Sekali lagi, La Niña tidak berarti seluruh Indonesia akan terus-menerus mengalami hujan lebat.

Pengaruhnya dapat berbeda antarwilayah karena kondisi cuaca Indonesia juga dipengaruhi oleh monsun, suhu laut lokal, topografi, pergerakan awan tropis, dan berbagai faktor atmosfer lainnya.

El Niño dan La Niña Bukan Sekadar Kebalikan

Sekilas El Niño dan La Niña terlihat seperti dua fenomena yang hanya berbeda antara panas dan dingin.

Namun, pengaruh keduanya jauh lebih kompleks.

1000889782
Ilustrasi Kondisi Suhu Laut pada Siklus El Niño dan La NiñaFoto: NOAA dilansir dari BBC

Perubahan suhu laut di Samudra Pasifik dapat mengubah pola sirkulasi atmosfer global. Akibatnya, daerah yang terkena dampak tidak hanya negara-negara yang berbatasan langsung dengan Samudra Pasifik.

IKLAN

El Niño dapat berhubungan dengan kekeringan di suatu wilayah tetapi meningkatkan peluang hujan di wilayah lainnya.

Demikian pula La Niña. Ketika Indonesia memperoleh tambahan curah hujan, wilayah lain dapat mengalami kondisi yang lebih kering atau lebih dingin dibandingkan keadaan normal.

Karena atmosfer bumi saling terhubung, perubahan besar di Samudra Pasifik dapat memengaruhi pola cuaca hingga Amerika, Afrika, Asia, dan Australia.

Dampaknya terhadap Pertanian dan Ketahanan Pangan

Salah satu sektor yang paling sensitif terhadap ENSO adalah pertanian.

Pada saat El Niño, berkurangnya curah hujan dapat menyebabkan pasokan air irigasi menurun. Tanaman yang membutuhkan air dalam jumlah besar berpotensi mengalami tekanan kekeringan.

Jika musim tanam tidak menyesuaikan kondisi iklim, risiko penurunan produksi dapat meningkat.

Sebaliknya, hujan berlebihan ketika La Niña juga dapat menjadi persoalan.

Lahan yang terlalu basah dapat mengalami genangan, proses panen dapat terganggu, sementara kelembapan tinggi berpotensi mendukung perkembangan beberapa jenis organisme pengganggu tanaman.

Karena itu, informasi mengenai perkembangan ENSO menjadi penting dalam menentukan kalender tanam, pengelolaan air, pemilihan varietas, hingga mitigasi risiko gagal panen.

Dampak terhadap Kebakaran dan Bencana Hidrometeorologi

El Niño juga sering mendapat perhatian karena berkaitan dengan meningkatnya risiko kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.

Ketika curah hujan berkurang dalam waktu lama, vegetasi dan lahan menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar.

Sementara ketika La Niña meningkatkan curah hujan, risiko bencana dapat berubah menjadi banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, terutama di wilayah yang memiliki sistem drainase buruk atau kondisi lereng yang rawan.

Dengan demikian, baik El Niño maupun La Niña sama-sama membutuhkan kesiapsiagaan.

Bukan karena keduanya selalu menghasilkan bencana, tetapi karena perubahan kondisi iklim dapat meningkatkan kerentanan jika tidak diantisipasi.

Apakah ENSO Sama dengan Perubahan Iklim?

El Niño dan La Niña berbeda dengan perubahan iklim.

ENSO merupakan fenomena alami yang telah terjadi berulang kali dalam sistem iklim bumi. Siklusnya dapat berlangsung dalam rentang beberapa tahun dan intensitasnya berubah dari satu kejadian ke kejadian lainnya.

Sementara perubahan iklim berkaitan dengan perubahan jangka panjang terhadap sistem iklim bumi, termasuk peningkatan suhu rata-rata global akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca.

Meski berbeda, keduanya dapat saling berinteraksi.

Dalam dunia yang semakin hangat, dampak suatu kejadian El Niño atau La Niña dapat berlangsung di tengah kondisi dasar iklim yang juga telah berubah. Karena itu, para ilmuwan terus mempelajari bagaimana pemanasan global memengaruhi karakter dan dampak ENSO dalam jangka panjang.

Mengapa Masyarakat Perlu Memahami El Niño dan La Niña?

Memahami ENSO bukan hanya penting bagi meteorolog atau peneliti iklim.

Informasi mengenai El Niño dan La Niña dapat digunakan oleh petani untuk merencanakan musim tanam, pemerintah untuk mengantisipasi kekeringan dan banjir, pengelola sumber daya air untuk menjaga pasokan air, hingga masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem.

Yang juga perlu dipahami adalah El Niño dan La Niña bukan penentu tunggal kondisi cuaca Indonesia.

Fenomena tersebut memberikan kecenderungan terhadap kondisi iklim dalam periode tertentu, sementara cuaca harian tetap dipengaruhi banyak faktor lainnya.

Karena itu, informasi ENSO sebaiknya dibaca bersama prakiraan cuaca dan iklim resmi agar masyarakat memperoleh gambaran yang lebih lengkap.

Kesimpulan

El Niño dan La Niña merupakan dua fase utama dari fenomena ENSO yang berasal dari interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik tropis.

El Niño ditandai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur serta umumnya meningkatkan peluang kondisi lebih kering di Indonesia. Sebaliknya, La Niña ditandai dengan mendinginnya wilayah tersebut dan sering meningkatkan peluang curah hujan di Indonesia.

Dampaknya dapat menjangkau berbagai sektor, mulai dari pertanian, sumber daya air, kesehatan lingkungan, kebakaran hutan, hingga risiko bencana hidrometeorologi.

Karena itu, memahami El Niño dan La Niña bukan sekadar mempelajari fenomena cuaca. Pemahaman tersebut menjadi bagian penting dari upaya masyarakat beradaptasi terhadap dinamika iklim.

Sebab perubahan suhu laut yang terjadi ribuan kilometer jauhnya dapat berujung pada pertanyaan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: kapan hujan datang, berapa lama kemarau berlangsung, dan seberapa siap kita menghadapi perubahan tersebut.

Oleh: Fachri Farid Alfiansyah, Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Airlangga

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/mengenal-el-nino-dan-la-nina-seberapa-besar-pengaruhnya-pada-iklim-global/97826/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.05 WITA

  • #Cuaca Ekstrem
  • #ENSO
  • #El Nino
  • #Iklim Global
  • #Ketahanan Pangan
  • #La Niña
  • #Perubahan Iklim

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.