Menanggapi Terkait Biaya Pendidikan di Indonesia yang Masih di Rasa Mahal
JurnalPost.com - Berdasarkan pembukaan UUD 1945 alinea 4, menjelaskan bahwa salah satu tujuan didirikannya Negara Republik Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang mana bisa dicapai dengan adanya pendidikan. Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 juga menjelaskan bahwasanya tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran yang mana dalam hal ini berarti negara mempunyai kewajiban dalam memenuhi hak warga negaranya dalam pendidikan. Sehingga menanggapi hal tersebut, pemerintah berusaha melakukan program pendidikan gratis yang di atur dalam pasal 34 UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menetapkan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya program wajib belajar pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.
Adanya program pendidikan gratis ini diharapkan dapat mengurangi beban orang tua dalam memberikan pendidikan untuk anaknya. Selain itu, program ini juga berupaya untuk mengurangi tingginya angka putus sekolah karena tidak adanya biaya untuk sekolah. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, angka putus sekolah di Indonesia meningkat pada 2022. Kondisi tersebut terjadi di seluruh jenjang pendidikan, baik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Akan tetapi program pendidikan gratis yang diharapkan belum bisa menyeluruh. Yang pada kenyataannya, pengelolaan anggaran pendidikan oleh pemerintah mengakibatkan masih banyaknya sekolah yang tetap memungut biaya. Persoalan terkait mahalnya biaya pendidikan di Indonesia pun pernah tergambar dalam hasil survei HSBC pada 2017 lalu. Yang mana Indonesia berada di urutan ke-15 sebagai negara dengan biaya pendidikan termahal secara global.
Selain itu, belum meratanya biaya program pendidikan gratis di daerah pedalaman seperti di pedalaman Papua dan Papua Barat juga harus dipertimbangkan. Disana pengadaan fasilitas, sarana dan prasarana pendidikan lebih mahal dibandingkan daerah lain di Indonesia. Bahkan, lebih mahal dibandingkan kota-kota yang sudah maju, seperti Jakarta. Hal ini yang dapat mempengaruhi kualitas pendidikan itu sendiri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun ajaran 2020/2021, Papua Barat menjadi provinsi dengan rata-rata biaya tertinggi, yakni Rp 4,86 juta pertahun dan di urutan bawahnya ditempati Jakarta, yakni Rp 4,78juta.
Untuk mengatasi mahalnya biaya pendidikan tersebut perlu pengoptimalan penyebaran yang lebih merata lagi dan juga bisa di dukung dengan dikembangkannya konsep (CBE) Community-Based Education. Pengoptimalan penyebaran dapat dilakukan dengan bantuan Badan Pusat Statistik (BPS). Badan Pusat Statistik (BPS) melalui kegiatan survey sosial dan ekonomi nasional (Susenas) dapat memantau penyebaran dana di setiap wilayah Indonesia. Dan pendidikan dengan konsep (CBE) Community-Based Education masyarakat ikut menentukan kebijakan serta ikut berpartisipasi dalam menanggung beban pendidikan. Indonesia dapat meniru atau belajar dari Jepang dan Australia. Kedua Negara tersebut memiliki pengalaman bagus untuk membuat biaya pendidikan tidak mahal bagi masyarakat. Dengan mengembangkan konsep CBE maka pemerintah dengan melibatkan tokoh masyarakat, kaum bisnis, pengusaha, dan kaum berduit lainnya dalam urusan pendidikan.
Artikel Terkait
REKOMENDASI JURNALPOST
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda