Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Citizen Reporter
  3. Menanggapi Terkait Biaya Pendidikan di Indonesia yang Masih di Rasa Mahal

Menanggapi Terkait Biaya Pendidikan di Indonesia yang Masih di Rasa Mahal

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
16 Mei 2023, 01.26 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Menanggapi Terkait Biaya Pendidikan di Indonesia yang Masih di Rasa Mahal
JurnalPost.com - Berdasarkan pembukaan UUD 1945 alinea 4, menjelaskan bahwa salah satu tujuan didirikannya Negara Republik Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang mana bisa dicapai dengan adanya pendidikan. Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 juga menjelaskan bahwasanya tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran yang mana dalam hal ini berarti negara mempunyai kewajiban dalam memenuhi hak warga negaranya dalam pendidikan. Sehingga menanggapi hal tersebut, pemerintah berusaha melakukan program pendidikan gratis yang di atur dalam pasal 34 UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menetapkan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya program wajib belajar pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Adanya program pendidikan gratis ini diharapkan dapat mengurangi beban orang tua dalam memberikan pendidikan untuk anaknya. Selain itu, program ini juga berupaya untuk mengurangi tingginya angka putus sekolah karena tidak adanya biaya untuk sekolah. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, angka putus sekolah di Indonesia meningkat pada 2022. Kondisi tersebut terjadi di seluruh jenjang pendidikan, baik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Akan tetapi program pendidikan gratis yang diharapkan belum bisa menyeluruh. Yang pada kenyataannya, pengelolaan anggaran pendidikan oleh pemerintah mengakibatkan masih banyaknya sekolah yang tetap memungut biaya. Persoalan terkait mahalnya biaya pendidikan di Indonesia pun pernah tergambar dalam hasil survei HSBC pada 2017 lalu. Yang mana Indonesia berada di urutan ke-15 sebagai negara dengan biaya pendidikan termahal secara global. Selain itu, belum meratanya biaya program pendidikan gratis di daerah pedalaman seperti di pedalaman Papua dan Papua Barat juga harus dipertimbangkan. Disana pengadaan fasilitas, sarana dan prasarana pendidikan lebih mahal dibandingkan daerah lain di Indonesia. Bahkan, lebih mahal dibandingkan kota-kota yang sudah maju, seperti Jakarta. Hal ini yang dapat mempengaruhi kualitas pendidikan itu sendiri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun ajaran 2020/2021, Papua Barat menjadi provinsi dengan rata-rata biaya tertinggi, yakni Rp 4,86 juta pertahun dan di urutan bawahnya ditempati Jakarta, yakni Rp 4,78juta. Untuk mengatasi mahalnya biaya pendidikan tersebut perlu pengoptimalan penyebaran yang lebih merata lagi dan juga bisa di dukung dengan dikembangkannya konsep (CBE) Community-Based Education. Pengoptimalan penyebaran dapat dilakukan dengan bantuan Badan Pusat Statistik (BPS). Badan Pusat Statistik (BPS) melalui kegiatan survey sosial dan ekonomi nasional (Susenas) dapat memantau penyebaran dana di setiap wilayah Indonesia. Dan pendidikan dengan konsep (CBE) Community-Based Education masyarakat ikut menentukan kebijakan serta ikut berpartisipasi dalam menanggung beban pendidikan. Indonesia dapat meniru atau belajar dari Jepang dan Australia. Kedua Negara tersebut memiliki pengalaman bagus untuk membuat biaya pendidikan tidak mahal bagi masyarakat. Dengan mengembangkan konsep CBE maka pemerintah dengan melibatkan tokoh masyarakat, kaum bisnis, pengusaha, dan kaum berduit lainnya dalam urusan pendidikan.

Menjadi pertanyaan besar bagi saya, kemana dana program pendidikan gratis itu di alokasikan

Jika memang sudah ada program pendidikan gratis mengapa masih banyak masyarakat yang mengeluh terkait biaya pendidikan yang di rasa masih mahal. Meski begitu, berdasarkan kemendikbud, dalam RAPBN Tahun Anggaran 2022, anggaran pendidikan dialokasikan sebesar Rp 541,7 triliun. “Anggaran sebesar ini relatif stabil dibanding outlook atau realisasi tahun 2021 yang sebesar Rp 540 triliun dari yang dianggarkan Rp 550 triliun,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers Nota Keuangan dan RUU APBN 2022 di Jakarta, Senin (16/8/2021).

Penyebaran Dana

Berdasarkan kemendikbud Tahun 2020, meskipun sudah berlangsung sejak tahun 2014 selain penetapan besaran biaya satuan yang bersifat seragam tanpa mempertimbangkan tingkat kemahalan yang bervariasi antar berbagai wilayah di Indonesia. Penyaluran dan penerimaan dana seringkali terlambat, serta ada pula sejumlah siswa penerima Program Pendidikan Gratis yang baru memperoleh dana setelah mereka lulus sekolah. Hal ini tentu membuat tujuan kebijakan untuk membantu menutup biaya pribadi pendidikan tidak tercapai secara optimal. Untuk itu, kurang meratanya penyebaran dana akibat berubahnya jumlah biaya kebutuhan pribadi penerima dan perbedaan tingkat kemahalan antarwilayah juga perlu dipertimbangkan terutama wilayah pedalaman. Dapat disimpulkan bahwasanya masalah pendidikan yang paling mendasar di Indonesia sebenarnya adalah masalah biaya pendidikan yang mahal. Meskipun pemerintah telah menyiapkan program biaya pendidikan gratis, masih ada wilayah yang biaya pendidikannya dinilai mahal dari wilayah maju yang lain. Selain itu, program pendidikan gratis tidak merata di pelosok wilayah NKRI. Sehingga perlu adanya upaya pengoptimalan penyebaran yang lebih merata lagi dan juga bisa di dukung dengan dikembangkannya konsep (CBE) Community-Based Education. OLeh: Khilyatul A’immah Rizqi Ardila, Mahasiswa Program Studi S-1 Pendidikan Biologi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/menanggapi-terkait-biaya-pendidikan-di-indonesia-yang-masih-di-rasa-mahal/49173/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 05.42 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Kolaborasi Lintas Jurusan, Mahasiswa UNDIP Kembangkan Dentavera sebagai Inovasi Perawatan Mulut

KKN Universitas Merdeka Malang Bangun Greenhouse Bambu, Dorong Ketahanan Pangan Warga Pandanrejo

KKN 179 UMM Pasang Papan Jadwal Pembagian Air di Bangelan, Cegah Perebutan Antarwarga

Warga Desa Tlekung Diajak Manfaatkan Urine Sapi Jadi Pupuk Organik Cair untuk Percepat Pertumbuhan Pakan Ternak

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Mengenal Dasar Hukum Pemerintahan Nagari di Sumatera Barat, dari Warisan Adat hingga Tantangan Penerapannya

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Pilihan Editor

  1. 1 Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya
  2. 2

    Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

  3. 3

    Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

  4. 4

    Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

  5. 5

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.