JurnalPost.com - Perguruan tinggi merupakan sebuah instansi dimana para pelajar Indonesia dapat melanjutkan pendidikannya setelah dua belas tahun menduduki bangku sekolah. Di perguruan tinggi, para siswa akan menyandang status ‘Mahasiswa’ dan mulai mempelajari ilmu pada bidang yang lebih spesifik. Selain itu, para mahasiswa juga dapat mempelajari banyak hal serta mendapatkan pengalaman yang belum pernah mereka terima di bangku sekolah. Selain menuntut ilmu, para mahasiswa juga dapat mengasah hard skill serta soft skill mereka melalui berbagai kegiatan, baik kegiatan akademik maupun non-akademik.
Di Indonesia, perguruan tinggi dapat ditemukan hampir di setiap wilayah, baik perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta. Setiap tahun, setiap perguruan tinggi di Indonesia menyelenggarakan ujian masuk bagi para siswa. Ujian ini bertujuan untuk mengukur batas kemampuan calon mahasiswa dalam aspek akademik yang nantinya dijadikan tolak ukur untuk lolos atau tidaknya calon mahasiswa. Salah satu ujian masuk perguruan tinggi terbesar di Indonesia adalah UTBK. UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) merupakan salah satu metode seleksi calon mahasiswa yang paling umum di Indonesia. UTBK merupakan seleksi masuk perguruan tinggi negeri yang dilakukan dengan menggunakan teknologi komputer. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa perguruan tinggi swasta juga menggunakan cara serupa dalam menyeleksi calon mahasiswanya.
Zaman yang kian maju berbanding lurus dengan kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya pendidikan. Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi adalah impian bagi kebanyakan orang. Namun, sebagian dari masyarakat kita masih memikirkan status, kedudukan, serta penilaian orang lain dalam membuat keputusan, termasuk membuat keputusan untuk memilih perguruan tinggi. Tidak sedikit calon mahasiswa atau orangtua dari calon mahasiswa hanya ingin anaknya masuk di perguruan tinggi yang menyandang gelar Top 3, Top 5, atau yang lainnya. Memang, memilih perguruan tinggi adalah hak setiap individu. Namun, bukankah kita memasuki dunia perkuliahan untuk menuntut ilmu? Apakah kita harus meletakkan harga diri kita pada sebuah kedudukan dan penilaian orang lain terhadap kita? Perlahan, esensi pendidikan kita terkikis karena gengsi semata.
Dalam kehidupan kita, budaya ‘gengsi’ kerap kali kita temukan, khususnya zaman sekarang. Yang paling buruk, gengsi sering kali sudah menjadi gaya hidup seseorang. Seseorang yang memiliki gengsi yang tinggi akan melakukan apa saja demi memenuhi ego mereka dalam berbagai aspek, termasuk dalam latar belakang pendidikan. Dalam tulisan ini, penulis hendak memaparkan faktor apa yang menyebabkan ‘gengsi’ begitu marak dalam dunia pendidikan.
Faktor yang pertama dan yang paling umum adalah tuntutan lingkungan. Tidak jarang para calon mahasiswa terpaksa untuk mengikuti tuntutan dari berbagai pihak (orangtua, sanak saudara, bahkan tetangga) dalam memilih perguruan tinggi. Tuntutan ini pula dapat disebabkan oleh beragam faktor lainnya. Sebagian calon mahasiswa dituntut untuk masuk ke perguruan tinggi tertentu meskipun harus mengorbankan jurusan yang diminati. Akhirnya, hal tersebut menimbulkan kurangnya motivasi dalam belajar dan menjalani kehidupan perkuliahan yang bisa saja menghambat kelulusan. Padahal, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi merupakan sebuah kesempatan yang tidak bisa didapatkan oleh setiap orang. Dengan demikian, akan lebih baik apabila kesempatan tersebut digunakan dengan bijak dengan memilih jurusan yang diminati.
Selain itu, terdapat faktor lain yang mendorong timbulnya sikap gengsi dalam diri calon mahasiswa. Faktor berikutnya yakni tidak percaya diri. Calon mahasiswa kerap kali meragukan serta tidak mengakui kelemahan dalam dirinya. Karena sifat tidak percaya diri tersebut, seseorang tanpa ragu akan menghalalkan segala cara demi mencapai keinginannya. Misalnya, dengan masuk ke dalam perguruan tinggi yang terpandang, ia merasa hal tersebut dapat menutupi segala kekurangan yang ada dalam dirinya dan sebaliknya, ia akan mendapat apresiasi dari orang-orang sekitar.
Terakhir, adanya perasaan takut tertinggal juga menimbulkan tumbuhnya sikap ‘gengsi’ dalam diri seseorang. Sebagian orang begitu memiliki ambisi yang cukup besar dalam menjalani kehidupan. Sayangnya, hal ini dapat menjadi boomerang bagi mereka. Mereka khawatir apabila jalan kehidupannya berbeda dengan orang-orang sekitar, mereka akan dianggap terlambat, tidak kompeten, bahkan gagal. Hal ini lah yang menjadi faktor penyebab calon mahasiswa merasa gengsi apabila keinginannya tidak terwujud. Padahal, hidup ini bukanlah kompetisi, karena setiap individu memiliki jalan hidupnya masing-masing.
Memiliki sikap gengsi dalam diri tidak sepenuhnya buruk. Namun, segala hal yang berlebihan memang tidak baik adanya. Oleh sebab itu, hendaklah budaya gengsi dapat segera diatasi khususnya dalam lingkup pendidikan. Instansi pendidikan bukanlah tempat untuk berkompetisi secara tidak sehat. Oleh sebab itu, sudah semestinya instansi pendidikan adalah tempat untuk belajar, menimba ilmu, mengasah keahlian, dan segala kegiatan positif lainnya. Kita semua mendapatkan satu kehidupan untuk hidup. Dengan demikian, jalanilah kehidupan ini dengan baik. Hendaklah bersikap jujur pada diri sendiri. Tanyakan pada diri sendiri mengenai apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Oleh: Ratu Hafidzah Fitri, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Program Studi Pendidikan IPS
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda