Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Memerdekakan Bahasa Indonesia

Memerdekakan Bahasa Indonesia

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
27 Juni 2022, 15.22 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Memerdekakan Bahasa Indonesia

JurnalPost.com - Bahasa indonesia lahir pada tanggal 28 oktober 1928. Pada saat itu para pemuda dari berbagai organisasi pemuda seluruh indonesia berkumpul. Mereka menyatukan nusantara dengan bahasa melalui peristiwa sumpah pemuda. Sejak saat itulah bahasa indonesia dicanangkan sebagai bahasa nasional. Dan diresmikan sehari setelah proklamasi.

Kedudukan bahasa indonesia sebagai identitas bangsa, semakin kuat seiring dengan disahkannya undang-undang nomor 24 tahun 2009 tentang bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan. Sebagai identitas bangsa, bahasa indonesia juga berfungsi sebagai sarana pemersatu berbagai suku bangsa serta media komunikasi antaretnik.

IKLAN

Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sebagai warga negara indonesia tentunya harus fasih dalam berbahasa indonesia yang baik dan benar. Bahasa indonesia merupakan sebuah jembatan untuk mepersatukan beragam bahasa daerah yang ada di indonesia. Kita sebagai generasi muda, seharusnya berpartisipasi aktif dalam mempertahankan bahasa indonesia.

Late Night Health Search Anxiety
Baca Juga

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Partisipasi tersebut dapat dilakukan melalui para generasi muda yang mempunyai kemauan, kemampuan, dan harapan yang besar untuk mempertahankan bahasa indonesia. Generasi muda sebagai elemen yang sangat penting dan tidak bisa digantikan dengan apapun dalam mempertahankan bahasa indonesia.

Cara-cara yang dapat dilakukan mahasiswa dalam mempertahankan bahasa indonesia:

• Memperluas pengetahuan tentang sejarah bahasa indonesia hingga perkembangannya.

• Meningkatkan minat membaca.  Dengan membaca buku berbahasa indonesia, pengetahuan tentang istilah baru atau penggunaan kosa kata yang tepat semakin bertambah.

Nasya Fahma Aulia
Baca Juga

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

• Mengikuti perlombaan, seminar, pelatihan atau acara apapun yang bertujuan memajukan bahasa indonesia.

• Mengedepankan bahasa indonesia yang baik sebagai percakapan sehari-hari, bukan malah membanggakan bahasa gaul.

IKLAN

• Aktif menulis di forum-forum dengan memakai bahasa indonesia yang baik dan benar.

• Turut serta dalam mengenalkan bahasa indonesia kepada dunia.  Langkah sederhananya bisa dimulai dengan memakai bahasa baku dalam berbagi informasi maupun berinteraksi di jejaring sosial.

Asap Negara
Baca Juga

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Kini, bahasa indonesia memasuki usia 91 tahun. Usia yang bisa dikatakan cukup tua seiring dengan kedudukannya sebagai identitas bangsa. Lalu bagaimana kabar bahasa persatuan itu? Memprihatinkan! Jika kita mau menengok orang-orang di sekeliling kita, mereka lebih bangga menggunakan bahasa asing daripada bahasa nasional.

Bahasa-bahasa asing mulai menghiasi berbagai dialog masyarakat saat ini. Tak hanya dalam percakapan, tempat-tempat umum banyak yang telah mengubah namanya dengan nama asing. Kantor-kantor megah, gedung-gedung pencakar langit, mal-mal mewah, perumahan-perumahan elite, dan merek-merek barang, semuanya lebih sering menggunakan nama asing di tubuhnya. Dalam dunia kerja, bahasa indonesia juga masih terjajah. Ada sebagian orang yang menyebut profesinya dengan bahasa asing.

Misalnya sopir, mereka akan menyebut profesinya dengan driver; satpam menjadi security; dan sebagainya. Dengan begitu mereka akan merasa lebih keren, lebih elegan. Secara makna memang tak ada yang berbeda. Namun, bahasa indonesia kerap dianggap tak populer, kurang gaul, maupun kalah pamor dengan bahasa luar negeri. Berbagai fenomena di atas, menunjukkan bahwa bahasa indonesia masih terjajah oleh bahasa asing.

Ada tapi keberadaanya tertindas bahasa asing di rumahnya sendiri. Jika kita benar-benar mencintai bahasa indonesia tentunya kita bisa merasakan bagaimana sakitnya dijajah. Butuh perjuangan yang berdarah-darah, kerja keras, dan usaha besar untuk merdeka. Lalu siapa yang akan memerdekakan bahasa indonesia kalau bukan kita, masyarakat indonesia?

Ada banyak cara untuk memerdekakan bahasa indonesia, salah satunya melalui pintu cinta. Cinta terhadap bahasa indonesia dapat dimulai dari hal paling sederhana. Misalnya, kita menggunakannya dengan setia tanpa menduakannya dengan bahasa asing. Sudah semestinya kita bangga terhadap bahasa negara kita. Jangan malu, jangan segan, dan jangan ragu untuk menggunakan bahasa indonesia. Jika sudah cinta, sudah bangga maka kita akan selalu memikirkannya.

Ketika sudah memikirkan kita akan senantiasa ingin didekatnya dan bersamanya. Dengan begitu, tidak ada lagi ruang untuk bahasa asing. Akhirnya, di bulan kelahiran bahasa indonesia ini, mari tunjukkan rasa cinta kita. Dengan mengagungkan hari kelahirannya, maka kita akan tahu bagaimana sakralnya peristiwa 91 tahun lalu.

Jangan sampai kita lupa mengucapkan selamat ulang tahun dengan alasan matahari lupa ingatan, lalu keasyikan terbenam dan terlambat terbit. Mari ucapakan bersama-sama. Selamat ulang tahun bahasa indonesia. Semoga engkau semakin merdeka.

Oleh : Eka Jum’attika, Akuntansi S1, Universitas Pamulang

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/memerdekakan-bahasa-indonesia/34541/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 04.28 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Pilihan Editor

  1. 1 Pasar.id BRI Bojonegoro Hadirkan Peluang Penghasilan Tambahan bagi Pengemudi Ojek Lokal
  2. 2

    Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

  3. 3

    Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

  4. 4

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

  5. 5

    Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.