Penulis : Annisa,Aprila Nurhidayah,Devi Aryani,Fikria Sari (Universitas Islam Riau Angkatan 2020) Dosen Pengampu : Dea Mustika, S.Pd., M.Pd. JirnalPost.com - Pendidikan menjadi salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia untuk menyiapkan sumber daya manusia yang unggul. Pendidikan sebagai pranata sosial memiliki komponen yang saling berkaitan. Sekolah inklusi sebagai salah satu bentuk pendidikan terpadu perlu untuk dianalisis komponennya agar diketahui optimalisasi penyelenggaraannya. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan anak yang memiliki kelainan, sebagaimana disebutkan pada UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa beberapa spesifikasi kelainan seperti fisik, emosional, mental, dan/atau sosial . Selain itu, anak-anak yang juga memiliki potensi kecerdasan serta bakat istimewa digolongkan pada ABK juga.
Di dalam konteks pendidikan inklusif, peran orang tua dan masyarakat merupakan bagian yang integral dalam mencapai keberhasilan sesuai tujuan pendidikan yang direncanakan secara optimal. Kontribusi orang tua dan masyarakat dimaksud, dapat diwujudkan dalam penerimaan dan apresiasi terhadap keberadaan pendidikan inklusif, turut serta dalam sosialisasi, dukungan biaya dan fasilitas, bimbingan belajar, ataupun hal-hal lain yang terkait dengan program dan implementasi pendidikan inklusif. Orang tua menjadi mitra pendidikan inklusif bagi anak-anaknya.
Orang tua perlu dilibatkan dalam membuat keputusan dan perencanaan yang akan membawa mereka pada kelas inklusif. Setelah penempatan, mereka didorong terlibat dalam dialog secara berkesinambungan dengan guru untuk memperkokoh dan memperluas kemitraan pendidikan inklusif. Pihak yang berperan dalam pendidikan inklusi ialah :
1) Orang tua ( keluarga ) Keluarga terutama orang tua merupakan yang paling berperan penting dalam pendidikan inklusi karena pendidikan pertama anak dimulai dari keluarga anak-anak mulai belajar berbicara dimulai dari lingkungan keluarga sehingga guru pertama seoarang anak ialah orang tuanya. Orang tua dapat dikatakan sebagai pendaping utama anak dan penasehat anak.
Sehingga didalam pendidikan inklusi sendiri orang tua sangat berperan penting karena nantinya orang tua kan menjadi sumber utama untuk mengetahui sejauh mana batas kemampuan seoarang anak yang nantinya akan di jelaskan kepada guru anak inklusi. Namun seperti yang kita ketahui bahwa masih banyak diluar sana orang tua yang tidak berperan dalam pendidikan inklusi anaknya dimana banyak orang tua yang masih merasa bahwa anak inklusi tidak berhak mendapatkan pendidikan sehingga hanya dibiarkan berdiam diri dirumah dan tidak diberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan hal ini sering terjadi karena orang tua merasa anak inklusi tidak akan mampu dan merasa malu dengan keterbatasan anak inklusi. Jadi berdasarkan pemaparan saya bahwa masih banyak orang tua yang tidak mendukung layanan pendidikan inklusi untuk anak inklusi.
2) Guru ( sekolah ) Peran sekolah dalam pendidikan inklusi ialah sudah terancang khusus mulai dari perencaaan, pelaksanaan, evaluasi semua ini dirancang dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik inklusi. Namun sejauh ini masih banyak sekolah yang belum menerapkan layanan pendidikan inklusi bahkan masih banyaknya guru yang melakukan sikap diskriminasi terhadap anak inklusi dimana anak inklusi diasingkan saat bergabung dengan anak regular sehingga membuat anak inklusi merasa tidak nyaman untuk menempuh pendidikan bahkan merasa diasingkan selain itu adapun yang menerapkan pendidikan inklusi disekolahnya ialah menggunakan guru pendamping khusus untuk anak inklusi, padahal seharusnya guru ataupun pihak sekolah sudah merancang proses pembelajaran mulai dari perencanaan hingga evaluasi untuk anak regular dan inklusi , sehingga dapat disimpulkan bahwa peran sekolah dalam pendidikan inklusi masih belum terlaksana dengan baik dibeberapa sekolah yang ada diindonesia.
3) Masyarakat ( lingkungan ) Peran masyrakat dalm pendidikan inklusi ialah sebagai penentu keputusan dalam program pendidikan inklusi , Namun hal ini belum terlaksana dengan baik karena masih banyak masyarakat yang tidak peduli dengan anak inklusi dimana mereka merasa bahwa anak inklusi tidak berhak mendapatkan pendidikan sehingga masih kurangnya peran langsung masyarakat dalam meningkatkan pendidikan inklusi.
Pihak yang berperan dalam pendidikan inklusi tidak berperan dengan baik yaitu :
a. Belum didukung dengan sistem dukungan yang memadai. Peran orang tua, sekolah khusus, tenaga ahli, perguruan tinggi - LPTK PLB, dan pemerintah masih dinilai minimal. Sementara itu fasilitas sekolah juga masih terbatas.
b. Keterlibatan orang tua sebagai salah satu kunci keberhasilan dalam pendidikan inklusi, belum terbina dengan baik. Dampaknya, orang tua sering bersikap kurang peduli dan realistik terhadap anaknya.
c. Peran SLB yang diharapkan mampu berfungsi sebagai resource centre bagi sekolah-sekolah inklusi di lingkungannya, belum dapat dilaksanakan secara optimal, baik karena belum adanya koordinasi dan kerja sama maupun alasan geografik.
d. Peran pemerintah yang seharusnya menjadi ujung tombak dalam mendorong implementasi inklusi secara baik dan benar melalui regulasi aturan maupun bantuan teknis, dinilai masih kurang perhatian dan kurang proaktif terhadap permasalahan nyata di lapangan.
Dengan mempertimbangkan masih banyaknya isu dan permasalahan dalam pendidikan inklusi di Indonesia saat ini, maka penting bagi pemerintah untuk segera menindaklajutinya, diantaranya melalui kegiatan pengkajian (monitoring dan evaluasi) secara menyeluruh terhadap pelaksanaan pendidikan inklusi di Indonesia dan hasilnya dijadikan rujukan untuk membuat langkah-langkah strategi menuju pendidikan inklusi, peninjauan kembali kebijakan di tingkat sekolah, perumusan model-model inklusi, penggiatan program pendampingan, pemberdayaan LPTK PLB sebagai pusat sumber dan dalam pendampingan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda