JurnalPost.com - Pernah tidak terpikirkan mengapa siswa yang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi atau berkuliah dengan yang tidak berkuliah sangat dibedakan di masyarakat? Hal ini sering kali dibicarakan di masyarakat bukan? Lalu apakah siswa yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi memang memiliki kedudukan yang lebih tinggi? Apakah siswa yang bekerja dapat merasakan pengalaman yang sama dengan siswa yang berkuliah?
Paradigma masyarakat tersebut didukung oleh kurang pahamnya orang tua siswa mengenai dunia karir atau dunia perkuliahan setelah lulus SMA/SMA. Kebanyakan orang tua masih berpikir bahwa anak mereka akan terjamin sukses apabila mereka berkuliah. Pemahaman mengenai pemilihan karir yang memiliki manfaat dan derajat yang sama, kuliah maupun bekerja semua kembali pada kemampuan yang dimiliki masing – masing siswa. Baik di perkuliahan ataupun di tempat kerja siswa sama – sama dibimbing untuk mengasah kemampuan yang mereka miliki, hanya berada di tempat yang berbeda saja.
Pemahaman mengenai dunia karir dan juga perkuliahan tidak hanya disampaikan kepada siswa saja, hal ini juga perlu disosialisasikan kepada orang tua siswa. Setidaknya orang tua mengetahui setelah lulus SMA/SMK siswa akan melanjutkan kemana, apakah berkuliah atau bekerja, apakah siswa sudah memiliki kemampuan yang cukup untuk langsung bekerja atau harus mengasah kemampuannya di perkuliahan.
Sebetulnya paradigma bahwa siswa yang berkuliah memiliki derajat yang lebih tinggi sudah ada sejak lama. Banyak masyarakat yang berpikir bahwa ketika seseorang berkuliah maka derajatnya akan lebih tinggi, ada pula yang berpikir bahwa jika berkuliah akan lebih mudah dalam mencari pekerjaan. Pada kenyataannya saat ini justru kemampuan yang dimiliki masing – masing diri yang menjadi pertimbangan.
Berdasarkan data yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 8.746.008 orang pada Februari 2021. Jumlahnya meningkat 26,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Berdasarkan data Pengangguran Terbuka Menurut Pendidikan yang Ditamatkan (Februari 2021), mayoritas pengangguran terbuka Indonesia adalah tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau Sekolah Menengah Umum (SMU). Jumlahnya mencapai 2.305.093 orang hingga Februari 2021. Sementara itu, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mengikuti dengan 2.089.137 orang menganggur. Selanjutnya lulusan sarjana sebanyak 999.543 orang menganggur, sedangkan lulusan akademi/diploma sebanyak 254.547 orang menganggur.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa baik siswa yang berkuliah ataupun tidak, memiliki peluang yang sama tergantung pada kemampuan yang dimiliki pribadi masing – masing. Oleh karena itu, penting sekali diadakannya penyampaian – penyampaian informasi terbaru pada orang tua dan juga masyarakat yang masih memiliki pola pikir tersebut.
Dalam hal ini sekolah juga memiliki peran untuk mensosialisasikan hal tersebut kepada orang tua siswa, bahwa sekolah akan tetap membantu anak dari orang tua tersebut jika memang terkendala untuk berkuliah atau memang ingin langsung bekerja. Hal ini dapat didukung dengan mengadakan program pelatihan untuk siswa yang ingin langsung bekerja atau ingin mendapatkan pengalaman yang sama dengan siswa yang berkuliah. Keduanya sama – sama memiliki tujuan untuk mengasah kemampuan diri namun hanya berbeda tempat dan caranya saja.
Paradigma mengenai siswa yang berkuliah memiliki derajat lebih tinggi di masyarakat masih ada hingga saat ini. Sosialisasi kepada masyarakat sangat dibutuhkan, bahwa siswa yang berkuliah ataupun tidak sebetulnya bergantung pada kemampuan yang ia punya. Tak lepas dukungan dari orang tua, sekolah yang membantu, dan keinginan dari siswa, semua akan kembali lagi kepada siswanya.
Oleh: Layla Nuur Shabrina – Mahasiswi Komunikasi Sekolah Vokasi IPB
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda