JurnalPost.com - Pada saat ini perkembangan teknologi sangat pesat, sekarang melalui gawai kita bisa mengakses semua hal termasuk game atau video game. Game merupakan salah satu hiburan yang banyak digemari oleh banyak orang sekarang ini, khususnya game online. Menurut (Aji, 2012), dalam (Halawa, 2018) game online merupakan suatu bentuk permainan yang dihubungkan melalui jaringan internet dan tidak terbatas pada perangkat yang digunakan.
Pada saat ini mulai dari anak-anak hingga orang dewasa semua tertarik untuk bermain game online. Apalagi setelah masa pandemi ini hampir semua anak-anak sudah memliki handphone. Dilansir dari esport.id jumlah pemain esports di Indonesia mencapai 52 juta orang ditahun 2021. Dengan jumlah sebanyak itu tentunya sudah menjadi bukti bahwa game online sedang populer di Indonesia.
Pada dasarnya game memberikan dampak positif maupun negatif. Namun sering kali orang tua lalai untuk mengawasi anaknya dan lupa memikirkan dampaknya. Bermain game online yang tidak dibatasi waktu akan menimbulkan dampak bagi perkembangan anak. Risiko paling sering terjadi adalah berdampak pada perilaku dan juga kesehatan fisik pada anak.
Ghuman & Griffiths (2012) menjelaskan bahwa ada masalah yang muncul dari aktivitas bermain game online yang berlebihan, di antaranya kehilangan kontrol atas waktu, kurang peduli terhadap kegiatan sosial, menurunnya prestasi akademik, relasi sosial, finansial, kesehatan, dan fungsi kehidupan lain yang penting.
Selain itu , kencanduan game juga dapat berdampak ke psikologis yang membuat anak menjadi emosi, stres serta anak juga dapat meniru adegan adegan yang ada didalam game tersebut. Dengan melihat dampak-dampak yang ditimbulkan dikhawatirkan hal ini akan mempengaruhi tumbuh kembang anak saat ini.
Lalu bagaimana cara supaya anak tidak kecanduan game online ?
Disini peran orang tua sangat penting karena orang tua harus bisa mengontrol dan mengawasi anak supaya anak tidak kecanduan bermain game. Beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua yaitu membuat peraturan atau membatasi waktu bermain game dua jam sehari di waktu istirahat atau sesudah belajar. Apabila anak mealnggar maka ada hukuman yang diberikan, sehingga anak akan berfikir lagi bila mau melakukan kecurangan. Dengan begitu anak tidak akan merasa tertekan dan memiliki waktu untuk istirahat setelah belajar.
Selanjutnya orang tua bisa mengarahkan anak untuk ikut ekstrakulikuler di sekolahnya sesuai minat sang anak seperti sepak bola, bela diri, menyanyi, voly dan sebagainya. Mengikutkan anak dalam kegiatan TPA setiap sore. Dengan begitu anak lebih banyak bersosialisasi dengan lingkunmgan dari pada bermain game dirumah.
Selain itu orang tua juga bisa melakukan diskusi atau memberikan pemahaman tentang apa saja dampak-dampak yang akan timbul bila kecanduan game saat makan malam atau family time. Orang tua juga bisa membatasi akses internet dirumah dengan membatasi kuota internet setiap bulanya sehingga anak akan lebih berhemat dalam penggunaanya. Orang tua juga bisa mengajak anak untuk melakukan kegiatan positif seperti berkebun, memasak bersama, membuat karya, atau olahraga dirumah. Selain untuk mencegah anak kecanduan game aktivitas tersebut juga dapat menambah kecerdasan anak, meningkatkan kreativitas, membuat tubuh sehat dll.
Oleh karena itu peran orang tua sangan dibutuhkan disini untuk mengawasi anak-anaknya. Jangan sampai orang tua lalai sehingga anak akan terjerumus atau kecanduan bermain game yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang sang buah hati.
Oleh: Maulana Prabandaru Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda