Ketika “Satu Episode Lagi” Membuat Kita Lupa Waktu, tetapi Film yang Baik Justru Mengajak Kita Memaknai Kehidupan
Oleh: Rahmah Hastuti, M.Psi., Psikolog
“Malem minggu, aye pergi ke bioskop… Bergandengan, ame pacar nonton koboi…”
Bagi generasi yang tumbuh sebelum era streaming, penggalan lagu Malem Minggu yang pernah dipopulerkan Benyamin Sueb mungkin terasa begitu akrab. Pada masa itu, menonton film memiliki ritual tersendiri. Orang pergi ke bioskop, membeli karcis, atau menikmati layar tancap sebagai bagian dari pengalaman menonton.
Televisi pun memiliki jadwal yang harus ditunggu. Anak-anak yang tumbuh pada era 1990-an mungkin masih mengingat bagaimana Minggu pagi menjadi waktu yang dinantikan karena berbagai serial televisi ditayangkan secara berurutan. Jika terlambat menonton, kita harus menunggu jadwal tayang berikutnya.
Sekarang situasinya berubah.
Kita tidak lagi harus menunggu. Melalui layanan streaming, film dan serial dapat ditonton kapan saja, di mana saja, melalui perangkat yang hampir selalu berada di tangan. Satu episode selesai, episode berikutnya sudah tersedia. Bahkan, platform dapat memutarnya secara otomatis.
Kemudian muncul kalimat yang terasa sangat familiar:
“Satu episode lagi, deh.”
Satu episode berubah menjadi dua. Dua menjadi tiga. Tanpa terasa, waktu sudah bergeser jauh dari rencana awal.
Fenomena inilah yang dikenal sebagai binge watching atau maratonton.
Dari Menonton Serial hingga Maratonton
Binge watching secara umum menggambarkan aktivitas menonton beberapa episode serial secara berturut-turut dalam satu sesi. Sejumlah penelitian menggunakan batas tiga episode atau lebih dalam sekali duduk, meskipun sampai sekarang belum terdapat satu definisi universal yang disepakati seluruh peneliti.
Istilah “maratonton” sendiri cukup menarik karena mengibaratkan aktivitas menonton seperti berlari maraton. Jika seorang pelari menempuh jarak yang panjang, penonton menempuh cerita dari satu episode ke episode berikutnya.
Fenomena ini semakin berkembang seiring hadirnya berbagai platform streaming. Penonton tidak perlu lagi menunggu jadwal televisi karena seluruh atau sebagian episode sebuah serial dapat tersedia sekaligus.
Cerita yang diakhiri dengan cliffhanger, rekomendasi otomatis, fitur pemutaran episode berikutnya, serta akses yang semakin mudah membuat seseorang terdorong untuk terus melanjutkan tontonan.
Namun, apakah binge watching selalu buruk?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Tidak Semua Maratonton Menjadi Masalah
Kita terkadang menggunakan istilah binge watching seolah-olah aktivitas tersebut selalu identik dengan perilaku bermasalah.
Padahal, menonton beberapa episode dalam satu waktu belum tentu menunjukkan bahwa seseorang kehilangan kontrol.
Bayangkan seseorang telah menyelesaikan pekerjaannya selama satu minggu. Pada akhir pekan, ia dengan sengaja menyediakan waktu untuk menonton tiga episode serial yang disukainya. Setelah selesai, ia berhenti, tidur dengan cukup, kemudian kembali menjalankan aktivitas lainnya.
Situasi tersebut tentu berbeda dengan seseorang yang awalnya berniat menonton satu episode sebelum tidur, tetapi akhirnya terus menonton hingga dini hari. Keesokan paginya ia mengantuk, tugas tertunda, sulit berkonsentrasi, dan pola tersebut terus berulang.
Dengan kata lain, jumlah episode bukan satu-satunya persoalan. Konteks dan dampaknya juga penting.
Maratonton yang dilakukan secara sengaja dan terencana dapat menjadi aktivitas rekreatif yang menyenangkan.
Sebaliknya, ketika aktivitas menonton tidak direncanakan dan mulai bertentangan dengan tujuan, kewajiban, atau kebutuhan lain, pengalaman setelah menonton pun dapat berubah. Seseorang mungkin merasa bersalah, kehilangan waktu, atau menghadapi konflik dengan aktivitas lainnya.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya:
“Berapa episode yang sudah saya tonton?”
Melainkan:
“Apa yang terjadi pada kehidupan saya setelah menonton?”
Menonton Film Bukan Sekadar Menghabiskan Waktu
Menonton film sesungguhnya dapat memiliki banyak fungsi psikologis.
Film dapat menjadi hiburan setelah seseorang menjalani aktivitas yang melelahkan. Film komedi membuat kita tertawa. Film drama dapat membuat kita menangis. Film aksi menghadirkan ketegangan, sedangkan kisah perjuangan dapat memberikan inspirasi.
Lebih dari itu, film juga dapat menjadi jendela untuk memahami manusia.
Melalui karakter dan cerita, penonton dapat melihat berbagai bentuk hubungan orang tua dan anak, persahabatan, konflik keluarga, perjuangan hidup, kehilangan, komunikasi, budaya, pekerjaan, hingga berbagai persoalan sosial.
Bagi mahasiswa psikologi, misalnya, film dapat menjadi media pembelajaran untuk mengamati perilaku tokoh, dinamika hubungan, perubahan emosi, konflik interpersonal, serta proses pengambilan keputusan.
Tentu saja, mengamati tokoh dalam film tidak dapat disamakan dengan melakukan asesmen psikologis terhadap individu nyata. Namun, film dapat menjadi bahan refleksi dan diskusi untuk memahami berbagai fenomena psikologis.
Tidak jarang pula sebuah film meninggalkan sejumlah pertanyaan setelah cerita selesai.
“Kalau saya berada dalam situasi tokoh tersebut, apa yang akan saya lakukan?”
“Mengapa tokoh itu mengambil keputusan tersebut?”
“Apa yang sebenarnya ingin disampaikan film ini?”
Pada titik inilah aktivitas menonton dapat berubah dari sekadar hiburan menjadi pengalaman reflektif.
Memilih Tontonan yang Memberikan Sesuatu
Di tengah begitu banyak pilihan konten, kita memiliki kesempatan untuk menjadi penonton yang lebih selektif.
Bukan berarti setiap film harus membawa pesan moral yang berat. Kita tetap membutuhkan tontonan ringan untuk bersantai dan menikmati waktu.
Namun, sesekali kita dapat memilih film yang memberikan wawasan, memperkenalkan budaya, menghadirkan perspektif berbeda, atau memberikan inspirasi.
Perfilman Indonesia pun menawarkan banyak contoh tentang bagaimana sebuah film tidak berhenti pada fungsi hiburan.
Salah satu yang menarik menjadi bahan refleksi adalah Empat Musim Pertiwi, karya sutradara Kamila Andini. Pada September 2026, film tersebut terpilih untuk mewakili Indonesia dalam kategori International Feature Film pada Academy Awards ke-99 atau Oscar 2027.
Kehadiran film Indonesia dalam ajang perfilman internasional mengingatkan kita bahwa film bukan sekadar sesuatu yang ditonton kemudian dilupakan.
Film dapat membawa cerita tentang manusia, kehidupan, kebudayaan, dan pengalaman suatu bangsa ke ruang yang jauh lebih luas.
Bagi penonton Indonesia, fenomena tersebut sekaligus dapat menjadi momentum untuk bertanya:
Sudahkah kita memilih tontonan yang bukan hanya membuat kita lupa waktu, tetapi juga memberikan sesuatu setelah waktu itu berlalu?
Sebab, film yang baik tidak selalu membuat kita melupakan kehidupan.
Kadang-kadang, film justru membuat kita melihat kehidupan dengan cara yang berbeda.
Kebiasaan Menonton dan Tantangan Regulasi Diri
Perubahan cara menonton menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan kehidupan masyarakat di era digital.
Internet telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Smartphone yang digunakan untuk belajar juga dapat digunakan untuk bermain, berkomunikasi, bersosialisasi, bekerja, dan menonton.
Batas antara aktivitas produktif dan hiburan pun menjadi semakin tipis.
Pada siang hari, smartphone digunakan untuk mengerjakan tugas. Pada malam hari, perangkat yang sama digunakan untuk membuka platform streaming.
Di sinilah regulasi diri menjadi penting.
Regulasi diri bukan berarti seseorang tidak boleh bersenang-senang. Sebaliknya, kemampuan regulasi diri memungkinkan seseorang menikmati hiburan tanpa kehilangan kendali terhadap aktivitas lainnya.
Masalah mulai muncul ketika seseorang berkali-kali berkata:
“Saya berhenti setelah episode ini.”
Namun, ternyata ia terus melanjutkan.
Tugas mulai tertunda, waktu tidur berkurang, aktivitas sosial terganggu, atau kewajiban lainnya mulai diabaikan.
Pada kondisi tersebut, persoalannya bukan lagi sekadar “menonton banyak”, melainkan mulai mengarah pada pola menonton yang berpotensi problematik.
Ketika “Me Time” Mengorbankan Waktu Tidur
Ada satu hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu kebiasaan menonton pada malam hari.
Setelah seharian sekolah, kuliah, bekerja, atau mengurus keluarga, seseorang mungkin merasa malam menjadi satu-satunya waktu yang benar-benar dapat digunakan untuk dirinya sendiri.
Kemudian muncul pikiran:
“Seharian sudah sibuk. Malam ini saya mau menikmati waktu saya dulu.”
Keinginan tersebut sangat manusiawi.
Namun, ketika waktu pribadi mulai diambil dari waktu tidur, persoalannya menjadi berbeda.
Fenomena ini berkaitan dengan bedtime procrastination, yaitu kecenderungan menunda waktu tidur meskipun seseorang sebenarnya mengetahui bahwa dirinya perlu beristirahat.
Binge watching dapat menjadi salah satu aktivitas yang membuat seseorang menunda tidur, terutama ketika cerita yang ditonton semakin menarik dan episode berikutnya tersedia hanya dengan satu sentuhan.
Padahal, tidur bukanlah waktu yang “terbuang”.
Tidur merupakan bagian penting dari proses pemulihan fisik dan psikologis.
Karena itu, persoalan utama penggunaan layar sebelum tidur tidak semata-mata mengenai anggapan bahwa “cahaya biru merusak mata”.
Yang lebih penting untuk diperhatikan adalah bagaimana penggunaan layar dan aktivitas yang merangsang sebelum tidur dapat memengaruhi kualitas maupun durasi tidur.
Terlebih ketika tontonan membuat seseorang semakin penasaran, tegang, atau sulit untuk berhenti.
Menjadi Penonton yang Lebih Sadar
Lantas, apa yang dapat dilakukan?
Kita tidak harus berhenti menonton.
Kita hanya perlu menjadi penonton yang lebih sadar.
Pertama, tentukan tujuan sebelum menonton. Apakah kita ingin bersantai, menikmati film bersama keluarga, mengikuti serial tertentu, atau mencari wawasan?
Kedua, tentukan batas. Misalnya, menentukan berapa episode yang akan ditonton atau sampai pukul berapa kita akan berhenti.
Ketiga, jangan menjadikan waktu tidur sebagai korban. Jika keesokan harinya harus sekolah, kuliah, bekerja, atau menjalankan aktivitas penting, pertimbangkan kembali keputusan untuk menonton hingga larut malam.
Keempat, perhatikan tanda kehilangan kendali. Jika kita berulang kali gagal berhenti meskipun sudah mengetahui konsekuensinya, pola tersebut layak dievaluasi.
Kelima, pilih tontonan yang berkualitas. Tidak semua tontonan harus bersifat edukatif, tetapi kita dapat memberikan ruang bagi film yang memperluas wawasan, menawarkan perspektif baru, atau memberikan inspirasi.
Hal yang tidak kalah penting adalah melakukan refleksi setelah menonton.
Tanyakan pada diri sendiri:
Apa yang saya dapat dari film ini?
Apa yang saya rasakan?
Apakah ada sesuatu yang membuat saya berpikir?
Apakah cerita ini mengubah cara saya melihat sesuatu?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah aktivitas menonton dari sekadar konsumsi konten menjadi pengalaman belajar.
Jadi, Mengisi Waktu Luang atau Justru Meluangkan Waktu?
Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang apakah kita boleh menonton atau tidak.
Kita semua membutuhkan hiburan.
Kita membutuhkan waktu untuk tertawa, menangis, menikmati cerita, dan sejenak melepaskan diri dari rutinitas.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menggunakan waktu tersebut.
Apakah kita sedang mengisi waktu luang?
Ataukah kita justru meluangkan waktu secara berlebihan hingga mengambil waktu dari tidur, belajar, bekerja, keluarga, dan kehidupan nyata?
Teknologi memberikan kita kebebasan yang sangat besar untuk memilih tontonan. Namun, kebebasan tersebut juga membutuhkan tanggung jawab dan kemampuan mengatur diri.
Mungkin karena itu, pertanyaan yang paling tepat bukan:
“Berapa lama kita boleh menonton?”
Melainkan:
“Apakah setelah menonton kehidupan kita menjadi lebih kaya, atau justru waktu kita yang semakin berkurang?”
Sebab, film yang baik bukan hanya membuat kita betah berada di depan layar.
Film yang baik membuat kita membawa sesuatu ketika layar telah dimatikan: sebuah pemikiran, sebuah perasaan, sebuah pertanyaan, atau bahkan inspirasi untuk menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda