Oleh : Muhammad Abid A Syakur
JurnalPost.com - Di zaman ketika dunia berdetak cepat namun kehilangan arah, teknologi semakin deras, AI digembor-gemborkan. Indonesia berdiri seperti pohon tua di tengah pusaran angin: tampak diam, tetapi menyimpan getaran di dalam akar yang sunyi. Pohon itu bukanlah pohon biasa, melainkan pusaka yang lahir dari tanah ribuan pulau, disiram oleh hujan bahasa, disinari matahari keyakinan, dan ditiup angin sejarah yang datang dari segala penjuru arah mata angin.
Namun, ngomong-ngomong adakah kita masih mengenal akar kita?
Indonesia hari ini adalah sebuah negara dengan paspor, konstitusi, dan geografi. Tapi Indonesia yang lebih purba dan mendalam adalah sebuah narasi, bukan sekadar wilayah. Ia adalah cerita-cerita yang diwariskan di lumbung padi, dibisikkan dalam tenunan kain yang mempesona, ditulis dalam relief candi yang berperadaban, dan dilagukan dalam nyanyian laut yang merdu. Nusantara adalah peradaban yang pernah hidup sebagai narasi yang menghidupi, bukan sekadar statistik yang dikutip oleh peneliti atau lembaga-lenbaga.
Di titik inilah kita harus mulai: bukan dari pertanyaan “siapa kita di mata dunia?”, melainkan “siapa kita di mata kita sendiri?”. Dunia tidak kekurangan suara, tapi kekurangan kedalaman, kekurangan perenungan bersama-sama, kekurangan kesunyian yang diikrarkan secara khidmat. Dan jika Indonesia ingin didengar di panggung global, maka kita harus lebih dulu menemukan kembali suara jiwa kita.
Narasi yang Hilang di Tengah Hiruk Pikuk Sudah terlalu lama, kita mendefinisikan diri berdasarkan pantulan. Kita mengejar standar dunia tanpa mengajukan pertanyaan apakah dunia itu sendiri sedang waras. Kita menjadikan pembangunan sebagai cermin keberhasilan, namun melupakan bahwa jiwa bangsa tidak dibangun dari beton, melainkan dari makna. Kita mengukur pertumbuhan dengan angka, tetapi lupa bahwa keberadaban diukur dari cara kita memperlakukan yang rentan: manusia, alam, dan ingatan bersama.
Inilah ironi kita: bangsa yang begitu kaya cerita justru hidup dalam kehilangan narasi.
Padahal, bangsa besar bukanlah bangsa yang selalu menang, tetapi bangsa yang tahu kenapa ia hidup. Jepang membangun diri di atas etos samurai. India bangkit dari jiwa spiritualnya. Korea Selatan berlari lewat gelombang budaya yang disusun dari kenangan masa lalu dan mimpi masa depan. Kita?
Kita sering lupa bahwa kita pernah menjadi bangsa pelaut bukan untuk menjajah, tapi untuk menjalin. Kita pernah mengirim biksu ke Cina, saudagar ke Afrika Timur, guru ke malaysia, dan penyair ke Mekah. Kita bukan hanya mengikuti arus dunia, tapi menciptakan arus-arus kecil yang memperkaya samudra peradaban.
Indonesia Sebagai Ruang Asuh Narasi besar Indonesia bukan tentang dominasi, tapi tentang pengasuhan. Nusantara bukan tanah perang, melainkan ruang asuh: tempat segala perbedaan tinggal dan tumbuh bersama. Lihatlah desa-desa yang hidup dari gotong royong. Lihatlah ritual-ritual yang mengundang manusia, alam, dan langit untuk duduk satu meja. Lihatlah cara kita berkabung, berpesta, dan memaafkan. Di sana, kita bukan sekadar manusia sosial, tetapi manusia spiritual yang melihat dunia bukan sebagai ladang eksploitasi, melainkan taman untuk dijaga.
Di tengah dunia yang dibelah oleh ideologi dan dilanda krisis iklim, kita menawarkan satu hal yang nyaris hilang: kebijaksanaan relasional, Kebijaksanaan yang dihidupkan secara gotong royong.
Kita tidak butuh menjadi adidaya. Kita cukup menjadi daya penyembuh. Menjadi bangsa yang hadir bukan untuk menggurui, tetapi untuk mengasuh.
Mengasuh bukan sikap lemah, tetapi kekuatan yang ditarik dari kedalaman batin. Dunia yang rapuh tidak butuh pemimpin baru, tapi penjaga api lama, penuh bara peradaban dan Indonesia memiliki nyala itu, hanya saja nyaris padam oleh kesibukan mengejar definisi asing tentang “maju”. Kita terlalu nafsu memandang barat sebagai kiblat pengetahuan, sebagai kiblat pembangunan, sebagai kiblat ekonomi.
Manifesto Budaya sebagai Jalan Pulang Maka perlu kita rumuskan bersama sama dan sesingkat-singkatnya, Manifesto Budaya Nusantara: bukan sebagai dokumen, tapi sebagai jalan pulang. Ia adalah seruan bagi generasi baru untuk tidak sekadar belajar coding dan manajemen, tetapi juga belajar mendengarkan tanah, membaca angin, dan berdiplomasi dengan puisi. Manifesto ini bukan nostalgia, tapi strategi masa depan yang penuh harapan. Dunia yang akan datang bukan hanya ditentukan oleh AI dan teknologi, tapi oleh kemampuan memahami makna.
Budaya bukan lagi urusan panggung seni atau museum, tapi arus utama pembangunan. Budaya bukan soal tari-tarian, kerajinan tangan tapi soal membangun peradaban.Di sanalah kita meletakkan diplomasi, pendidikan, ekonomi, dan bahkan pertahanan. Sebab tanpa narasi, bangsa hanya jadi gerombolan orang sibuk yang berjalan tanpa arah.
Manifesto budaya berarti menolak menjadi pengekor. Kita tidak akan sekadar ikut gelombang, tapi menciptakan pusaran nilai. Kita tidak harus bicara paling keras, tapi kita bisa membawa suara terdalam. Karena hanya suara dalam yang mampu menggetarkan hati dunia.
Kita bisa menjadi bangsa yang tak sekadar menghidupkan dirinya sendiri, tapi juga menghidupkan harapan dunia yang mana bahwa masih ada tempat yang memelihara perbedaan tanpa kebencian, merawat pertumbuhan tanpa kerakusan, dan membangun masa depan dengan ingatan akan leluhur.
Epilog: Menjadi Cerita yang Diceritakan Dunia Mungkin inilah saatnya Indonesia berhenti menjelaskan diri. Berhenti mengakibatkan barat, berhenti menggembor-gemborkan diri.Sebab bangsa besar tidak menjelaskan apa yang ia diceritakan. Dan untuk diceritakan, kita harus terlebih dahulu menjadi cerita.
Indonesia sebagai narasi yang hidup, sebagai ibu pertiwi yang bukan sekadar simbol, bukan sekedar nyanyian, tetapi subjek sejarah yang merawat, mengajak, dan mencipta.
Ini bukan utopia. Ini panggilan. Sebuah manifesto. Sebuah jalan pulang bersama.
Sekian Terima kasih.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda