Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Makan Bergizi Gratis: Antara Janji Kesejahteraan dan Jebakan Populisme

Makan Bergizi Gratis: Antara Janji Kesejahteraan dan Jebakan Populisme

Foto profil Nadia
Editor: Nadia
12 Februari 2026, 10.06 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Makan siang
Para siswa menyantap makanan di Solo, Provinsi Jawa Tengah, pada 6 Januari 2025. (Xinhua/Bram Selo)
Deza Putra Adelyen Oleh: Deza Putra Adelyen Demisioner Ketua Komisariat GmnI Universitas Andalas, Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Andalas JurnalPost.com - Presiden Prabowo Subianto mengklaim program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjangkau 60 juta orang dan menciptakan satu juta lapangan kerja. Angka besar, angka yang memukau telinga. Tapi angka bukan kebijakan, angka bisa jadi kampanye terselubung. Program ini menargetkan 82,9 juta penerima pada Desember 2026, seperti dilaporkan Liputan6.com, 1 Februari 2026. Ambisi kolosal untuk negara yang baru saja keluar dari pusaran inflasi pangan 2023-2024. Pertanyaannya sederhana: apakah program ini solusi struktural atau sekadar instrumen legitimasi politik?

Logika Ekonomi di Balik Layar

Mengutip analisis CELIOS dalam Makan Tidak Bergizi Tidak Gratis (2025), program semacam ini mengandung biaya tersembunyi. Tidak ada yang gratis dalam ekonomi. Seseorang membayar, entah pembayar pajak, generasi mendatang lewat utang, atau penerima lewat kualitas rendah. CNBCIndonesia.com melaporkan program ini menyerap anggaran Rp 171 triliun pada 2025 (Rp 71 triliun alokasi awal ditambah Rp 100 triliun tambahan) dan meningkat menjadi Rp 335 triliun pada 2026. Angka fantastis untuk program yang belum memiliki evaluasi dampak jangka panjang. Bandingkan dengan temuan Abhijit Banerjee dan Esther Duflo dalam Good Economics for Hard Times (2019): bantuan tunai langsung lebih efektif dibanding subsidi natura karena memberi ruang pilihan bagi penerima. Program MBG menciptakan ketergantungan, penerima tidak dididik memproduksi gizi sendiri. Petani lokal tidak diberdayakan memasok bahan pangan, uang negara mengalir ke kontraktor besar yang menguasai rantai pasok. Lapangan kerja satu juta? Berapa persen yang permanen? Berapa yang hanya juru masak kontrak enam bulan? Profesor Jeffrey Sachs dalam The End of Poverty (2005) mengingatkan: pembangunan bukan soal membagi ikan, tapi mengajarkan memancing. Program ini membagi ikan, banyak ikan, tapi tidak ada kail yang dibagikan.

Populisme sebagai Strategi Kekuasaan

Marhaenisme mengajarkan pembebasan rakyat melalui penguasaan alat produksi, bukan melalui ketergantungan pada kemurahan negara. Program Makan Bergizi Gratis justru menciptakan struktur ketergantungan baru, rakyat dijinakkan lewat perut. Jan-Werner Müller dalam What Is Populism? (2016) mendefinisikan populisme sebagai politik yang membangun hubungan langsung pemimpin-massa, melewati institusi. Program ini beroperasi persis seperti itu, presiden berbicara langsung ke rakyat: “Saya beri kalian makan.” Tidak ada mekanisme kontrol parlemen yang ketat, tidak ada transparansi rantai pasok, tidak ada evaluasi independen. Data SSGI (Studi Status Gizi Indonesia) 2024 menunjukkan prevalensi stunting turun dari 21,5% (2023) menjadi 19,8% (2024), penurunan 1,7 poin persentase dalam satu tahun. Ini adalah pencapaian yang patut diapresiasi. Namun, penting dicatat bahwa penurunan ini terjadi sebelum program Makan Bergizi Gratis dimulai pada Januari 2025. Artinya, dampak nyata MBG terhadap stunting belum bisa diukur. Terlalu dini untuk menyimpulkan efektivitasnya. Lebih berbahaya lagi, program ini menciptakan electoral machine. Penerima bantuan cenderung mendukung pemberi bantuan. Penelitian Simeon Nichter dalam Votes for Survival (2018) membuktikan: di negara berkembang, bantuan sosial besar-besaran menjelang pemilu meningkatkan dukungan elektoral signifikan. Makan Bergizi Gratis bukan hanya program sosial, ini investasi politik jangka panjang. Solusinya bukan menghentikan program, tapi mengubah orientasinya. Pertama, integrasikan dengan pemberdayaan petani lokal, setiap kabupaten wajib memasok 70 persen bahan pangan dari produksi lokal. Ini menciptakan multiplier effect: petani sejahtera, ekonomi lokal bergerak, ketergantungan impor turun. Kedua, transformasi dari subsidi konsumsi menjadi subsidi produksi. Alihkan sebagian anggaran untuk program pelatihan gizi keluarga dan urban farming, berikan: bibit, pupuk, pelatihan. Bukan hanya piring makanan jadi. Ketiga, audit terbuka oleh lembaga independen. Libatkan akademisi, LSM, dan media. Publikasikan data rantai pasok, rekanan, harga per porsi, nutrisi aktual yang diterima. Transparansi adalah antivirus korupsi. Keempat, batasi durasi. Program ini tidak boleh permanen. Tiga tahun, lalu evaluasi total. Jika stunting tidak turun signifikan, uang dialihkan ke program lain yang lebih efektif. Prabowo membanggakan 60 juta penerima, tapi berapa dari mereka yang benar-benar terlepas dari kemiskinan gizi? Berapa yang hanya jadi statistik kampanye? Program besar tanpa evaluasi ketat adalah taman bermain korupsi dan inefisiensi. Rakyat butuh gizi, itu benar. Tapi rakyat lebih butuh kemampuan menyediakan gizi sendiri, memberi makan sekali adalah belas kasih, mengajari memproduksi pangan adalah pembebasan. Pemerintah harus memilih: ingin dikagumi atau ingin efektif? Makan Bergizi Gratis bisa jadi warisan terbaik rezim ini, atau bisa jadi monumen kemubaziran terbesar. Pilihannya ada di ujung jari pemerintah, dan pilihan itu harus dibuat sekarang, dengan transparansi penuh, evaluasi ketat, dan komitmen pada pemberdayaan sejati. Bukan hanya memberi piring, tapi memberi kuasa.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/makan-bergizi-gratis-antara-janji-kesejahteraan-dan-jebakan-populisme/90712/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 17.10 WITA

  • #Makan Bergizi Gratis
  • #Opini Mahasiswa
  • #Program MBG
  • #Universitas Andalas

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Pasar.id BRI Bojonegoro Hadirkan Peluang Penghasilan Tambahan bagi Pengemudi Ojek Lokal

Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Pilihan Editor

  1. 1 Awali Hari dengan Salat Subuh Berjamaah dan Senam Pagi, MAN 1 Bulukumba Tanamkan Semangat Sehat Lahir dan Batin
  2. 2

    Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

  3. 3

    Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

  4. 4

    Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

  5. 5

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.