Jakarta, JurnalPost.com – Mahasiswa Program Studi S-3 Linguistik Terapan, Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ), bekerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), mengadakan seminar nasional linguistik terapan secara luring dan daring (hybrid). Seminar ini diikuti oleh lebih dari 350 peserta baik dari kalangan mahasiswa, guru, dosen, pemerhati bahasa, serta masyarakat umum yang ingin memperdalam pemahaman tentang linguistik terapan.
Seminar ini berlangsung pada Kamis, 27 Februari 2025, di Perpustakaan Badan Bahasa, Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur. Beberapa narasumber yang turut hadir antara lain Dr. Ganjar Harimansyah, M.Hum. (Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa), Dr. Maryanto, M.Hum. (Widyabahasa Ahli Madya Badan Bahasa Kemendikdasmen), Dr. Saifur Rohman, M.Hum. (Dosen S-3 Linguistik Terapan UNJ), dan Prof. Dr. Endry Boeriswati, M.Pd., selaku Koordinator Program Studi S-3 & S-2 Linguistik Terapan UNJ yang sekaligus membuka kegiatan ini.
Dalam sambutannya, Prof. Endry mengatakan bahwa sudah banyak peran alumni Linguistik Terapan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang telah berkontribusi di berbagai bidang kebahasaan. "Banyak alumni Linguistik Terapan UNJ yang kini aktif di Badan Bahasa dan institusi lainnya. Salah satunya adalah pemateri kita hari ini, Pak Ganjar, yang merupakan lulusan program ini. Selain itu, Pak Maryanto adalah rekan seperjuangan saya dalam penelitian bahasa," ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa kehadiran Pak Saifur, yang dikenal sebagai pakar linguistik, semakin memperkuat diskusi dalam kegiatan ini.
Selain itu, Prof. Endry mengajak para hadirin yang tertarik melanjutkan pendidikan ke jenjang magister dan doktoral di Linguistik Terapan UNJ. "Kami juga menawarkan program fast track, yang memungkinkan mahasiswa langsung melanjutkan dari S-2 ke S-3 dalam waktu relatif lebih singkat," jelasnya. Mengakhiri sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada para peserta dan narasumber yang telah berkontribusi dalam acara ini.
"Terima kasih kepada semua yang hadir, terutama para narasumber yang telah meluangkan waktu. Semoga kegiatan ini bermanfaat dan sukses," pungkasnya.
Seminar ini diketuai oleh Erfi Firmansyah, S.Pd., M.A., dosen Sastra Indonesia UNJ sekaligus mahasiswa S-3 Linguistik Terapan UNJ, yang juga turut memberikan materi pendamping dengan judul “Mencegah Ujaran Kebencian dan Pencemaran Nama Baik dalam Pembelajaran Penulisan Cerita Humor Berbasis Deep Learning.
Selain itu, materi pendamping juga disampaikan oleh Yules Orlando Sianipar, S.S., M.Hum., dosen Sastra Inggris UKI yang menyampaikan materi berjudul “Bahasa dan Berbahasa.” Untuk menyukseskan acara, Erfi didukung oleh tim panitia yang terdiri dari mahasiswa S-3 Linguistik Terapan UNJ, di antaranya Didah Nurhamidah, Mimin Aminah, Ida Maulida, Hendrawanto CH, Sri Zulfida, Abdul Hamid Aly, Renzy Agathy Amazeli, Sastri Br Rajaguk-guk, Dwi Septiani, Epos Sister Krismon Selan Dakhi, Saiyidinal Firdaus, Ahmad Zaki Munibi, serta beberapa nama lain dari UNJ dan Badan Bahasa yang turut berkontribusi dalam kelancaran acara ini.
Erfi menjelaskan bahwa tema seminar "Linguistik Terapan: Koleksi, Aplikasi, dan Kontribusi" mencerminkan tiga aspek utama. "Koleksi" merujuk pada berbagai koleksi yang tersedia di perpustakaan Badan Bahasa, sementara "Aplikasi" mencakup pemanfaatan aplikasi perpustakaan serta peluang melanjutkan studi ke jenjang S-2 dan S-3 Linguistik Terapan. Adapun "Kontribusi" menekankan peran lulusan dalam memberikan manfaat bagi masyarakat. “Seminar ini diharapkan dapat menjadi ajang diskusi ilmiah yang memberikan wawasan baru bagi peserta dalam bidang linguistik terapan,” tuturnya.
Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Dr. Ganjar Harimansyah, M.Hum, dalam sambutan dan paparan materinya menekankan bahwa linguistik terapan memiliki peran strategis dalam upaya pelindungan bahasa daerah. Menurutnya, pendekatan berbasis riset sangat diperlukan untuk mendokumentasikan dan merevitalisasi bahasa daerah agar tetap hidup di tengah modernisasi.
"Kita harus memanfaatkan linguistik terapan untuk memastikan bahasa daerah tetap lestari. Pendekatan ini membantu kita memahami bagaimana sebuah bahasa berkembang dan bagaimana caraterbaik untuk mempertahankannya," ujar Ganjar.
Lebih lanjut, iamenyoroti pentingnya kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam upaya ini. "Kalau kita ingin hasilnya maksimal, semua pihak harus terlibat. Jangan sampai bahasa daerah kita hanya tinggal sejarah," tambahnya.
Ganjar juga menegaskan bahwa linguistik terapan dapat membantu perumusan kebijakan bahasa yang lebih inklusif. Iamengutip berbagai studi yang menunjukkan bahwa kebijakan bahasa berbasis riset mampu menciptakan sistem pendidikan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat multilingual.
"Pelindungan bahasa daerah bukan hanya soal budaya, tetapi juga pendidikan. Kita perlu kebijakan yang memungkinkan anak-anak belajar dalam bahasa ibu mereka, karena itu sangat memengaruhi kualitas pendidikan," jelasnya. Ia juga menyoroti pentingnya dokumentasi bahasa daerah sebagai bagian dari strategi pelestarian. "Kalau tidak didokumentasikan dengan baik, suatu bahasa bisa punah dalam hitungan generasi. Maka, kita perlu langkah nyata agar bahasa daerah tetap digunakan dan diwariskan ke anak cucu kita," pungkasnya.
Linguistik terapan memiliki peran strategis dalam perencanaan bahasa, terutama dalam mengarahkan perkembangan bahasa sesuai kebutuhan masyarakat. Dr. Maryanto, M.Hum., Widyabasa Ahli Madya di Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, dalam materinya menegaskan bahwa perencanaan bahasa merupakan upaya sistematis untuk menata penggunaan bahasa dalam kehidupan sosial.
"Perencanaan bahasa tidak hanya sebatas kebijakan pemerintah, tetapi juga mencakup aspek pendidikan, komunikasi publik, dan revitalisasi bahasa daerah,"ujarnya. Ia juga menekankan bahwa dalam konsep joint language planning, diperlukan kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan komunitas bahasa agar kebijakan yang dibuat dapat berjalan efektif.
Selain itu, Maryanto menjelaskan bahwa perencanaan bahasa terdiri dari beberapa aspek, termasuk perencanaan status bahasa, perencanaan akuisisi bahasa, dan perencanaan korpus bahasa. "Tiga elemen utama dalam perencanaan bahasa status, akuisisi, dan korpus harus berjalan beriringan agar bahasa Indonesia tetap kokoh di tengah arus globalisasi," paparnya.
Ia juga menyoroti pentingnya penerapan linguistik terapan dalam berbagai bidang seperti pengajaran bahasa, penerjemahan, dan leksikografi. "Linguistik terapan tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, misalnya dalam penyusunan kurikulum, pengujian bahasa, serta komunikasi di ruang publik," tambahnya. Dengan pendekatan multidisiplin dan berbasis riset, perencanaan bahasa yang efektif dapat memperkuat posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan memperkaya keberagaman linguistik di Indonesia.
Linguistik terapan tidak hanya berfokus pada analisis bahasa, tetapi juga memiliki peran penting dalam memahami perubahan sosial dan kebudayaan. Dr. Saifur Rohman, M.Hum., M.Si., dalam paparan materinya menekankan bahwa kebudayaan berkembang melalui bahasa sebagai medium utama dalam komunikasi sosial. "Perubahan kebudayaan adalah dialektika antara bahasa, kerja, dan komunikasi.
Bahasa mewujudkan tindak-tutur, kerja berlandaskan rasionalitas bertujuan, dan komunikasi menghasilkan klaim keabsahan yang membentuk makna sosial," ujarnya. Ia juga menjelaskan bahwa linguistik terapan dapat digunakan untuk mengkaji isu-isu kontemporer seperti digitalisasi budaya, politik identitas, serta resistensi terhadap dominasi sosial.
Lebih lanjut, Saifur meggarisbawahi bagaimana linguistik terapan dapat menjadi alat untuk mengkritisi kebudayaan melalui kajian wacana. "Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga medan perjuangan sosial. Setiap kata yang digunakan memiliki makna yang bisa mencerminkan kepentingan tertentu,"tegasnya.
Ia mencontohkan penggunaan metafora dalam media, seperti "Gelap Gempita" yang digunakan sebagai gaya bahasa plesetan, serta representasi simbolik dalam wacana politik. "Peneliti linguistik terapan harus berani menerobos kejumudan argumentasi dan membuka wacana kemanusiaan agar bahasa tetap relevan dalam perubahan zaman," pungkasnya.
Dengan demikian, linguistik terapan berkontribusi dalam membentuk kesadaran sosial dan membuka ruang diskusi yang lebih luas bagi publik.
Sebagai penutup, seminar nasional ini berhasil menjadi wadah diskusi akademik yang mempertemukan para ahli, praktisi, dan pemerhati bahasa dalam membahas perkembangan serta tantangan linguistik terapan di Indonesia. Dengan mengusung tema "Linguistik Terapan: Koleksi, Aplikasi, dan Kontribusi",kegiatan ini tidak hanya memberikan wawasan teoritis, tetapi juga menghadirkan solusi praktis dalam bidang perencanaan bahasa, pelindungan bahasa daerah, serta peran linguistik dalam transformasi sosial dan budaya.
Keberhasilan acara ini terlihat dari tingginya partisipasi lebih dari 350 peserta, baik secara luring maupun daring, serta kontribusi para narasumber yang memberikan pemaparan komprehensif mengenai isu-isu kebahasaan terkini. Ke depan, seminar ini diharapkan dapat menjadi pemantik lahirnya kajian-kajian baru serta memperkuat sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam mengembangkan linguistik terapan. Dengan peran strategisnya, linguistik terapan tidak hanya berfungsi sebagai ilmu akademik, tetapi juga sebagai alat untuk membangun kebijakan kebahasaan yang adaptif, memberdayakan masyarakat, serta menjaga keberagaman bahasa dan budaya Indonesia di era modern. Penulis: Ahmad Zaki Munibi Mahasiswa S-3 Linguistik Terapan UNJ
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda