SLEMAN, JurnalPost.com — Pembelajaran materi momentum dan impuls di kelas XI C SMA Negeri 1 Pakem, Sleman, berlangsung dengan cara berbeda pada Jumat (28/8/2026). Murid tidak hanya mempelajari rumus dan konsep fisika, tetapi juga mengujinya secara langsung melalui kegiatan Egg Drop Challenge.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Zufada Puspitasari, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sebagai bagian dari pelaksanaan pembelajaran fisika selama kegiatan PK di SMA Negeri 1 Pakem.
Melalui Egg Drop Challenge, murid dihadapkan pada sebuah permasalahan sederhana, yakni bagaimana merancang pelindung agar telur tidak pecah ketika dijatuhkan dari ketinggian tertentu.
Pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning (PBL) yang mendorong murid menemukan solusi melalui proses diskusi, perancangan, percobaan, dan evaluasi.
Murid dibagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok diminta merancang pelindung telur dengan memanfaatkan bahan sederhana seperti kardus, kapas, selotip, dan karet.
Mereka kemudian mendiskusikan strategi yang dinilai mampu mengurangi dampak tumbukan ketika telur dijatuhkan. Setiap kelompok memiliki kesempatan untuk mengembangkan rancangan berdasarkan ide dan pertimbangan masing-masing.
Setelah pelindung selesai dibuat, seluruh kelompok mengikuti tahap pengujian melalui Egg Drop Challenge. Telur yang telah ditempatkan di dalam rancangan pelindung kemudian dijatuhkan untuk melihat apakah desain yang dibuat mampu menahan benturan.
Hasil percobaan menjadi bahan diskusi dalam pembelajaran. Murid mengamati kondisi telur setelah dijatuhkan serta membahas faktor yang menyebabkan telur dapat bertahan maupun mengalami kerusakan.
Dari percobaan tersebut, murid kemudian menghubungkan hasil pengamatan dengan materi fisika yang sedang dipelajari, antara lain momentum, perubahan momentum, impuls, dan gaya tumbukan.
Pendekatan tersebut membantu murid memahami bahwa konsep fisika tidak hanya ditemukan dalam persamaan matematis, tetapi juga dapat diamati melalui peristiwa sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Selama proses pembelajaran, mahasiswa PK memberikan arahan sekaligus mendampingi kelompok yang mengalami kesulitan dalam merancang maupun mengevaluasi pelindung telur.

Kegiatan tersebut juga memberikan ruang bagi murid untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Mereka berdiskusi, menyampaikan pendapat, menyusun rancangan, melakukan percobaan, hingga mengevaluasi hasil kerja kelompok.
Selain membantu memahami konsep momentum dan impuls, kegiatan ini turut melatih kemampuan pemecahan masalah, komunikasi, kreativitas, dan kerja sama antarmurid.
Pembelajaran berbasis tantangan seperti Egg Drop Challenge memungkinkan murid melihat secara langsung hubungan antara teori dengan hasil eksperimen. Ketika rancangan berhasil atau gagal melindungi telur, murid dapat menganalisis penyebabnya berdasarkan konsep fisika yang telah dipelajari.
Bagi mahasiswa PK, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pengalaman merancang dan melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada keterlibatan aktif murid.
Pelaksanaan pembelajaran ini berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Bermutu.
Melalui pembelajaran yang melibatkan eksperimen dan penyelesaian masalah, murid tidak hanya menerima informasi, tetapi turut berperan dalam menemukan dan memahami konsep yang dipelajari.
Egg Drop Challenge pada akhirnya menjadi sarana sederhana untuk mendekatkan materi momentum dan impuls dengan pengalaman nyata murid. Dari proses merancang hingga melihat hasil percobaan, murid memperoleh kesempatan untuk menguji ide sekaligus memahami bagaimana konsep fisika bekerja dalam sebuah peristiwa tumbukan.
Keterangan foto: Murid kelas XI C SMA Negeri 1 Pakem mengikuti pembelajaran momentum dan impuls melalui kegiatan Egg Drop Challenge yang didampingi mahasiswa Praktik Kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta, Jumat (28/8/2026). (Dokumentasi: Mahasiswa PK UNY)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda