JurnalPost.com – Pembelajaran sastra tidak hanya menjadi sarana mengenalkan karya-karya bahasa kepada murid, tetapi juga berperan dalam meningkatkan kemampuan literasi sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia sejak dini.
Pendekatan tersebut diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas VII SMP Negeri 2 Banguntapan, Bantul, pada September 2026. Sebanyak 32 murid mengikuti pembelajaran puisi rakyat dengan model Problem Based Learning (PBL) yang dipadukan dengan media papan pencocokan kartu atau matching board.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Sheryl Faissa Titania, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dalam rangka Praktik Kependidikan (PK).
Pembelajaran dirancang untuk membantu murid memahami karakteristik unsur dan struktur empat jenis puisi rakyat Nusantara, yakni pantun, gurindam, syair, dan mantra. Selain memahami materi, murid juga didorong mengembangkan kemampuan bernalar kritis, membaca secara komparatif, bekerja sama, serta menyampaikan pendapat.
Proses pembelajaran dimulai melalui pertanyaan pemantik secara lisan mengenai pola rima dan karakteristik puisi lama. Metode tersebut digunakan untuk menggali pengetahuan awal murid sebelum mereka masuk ke aktivitas kelompok.
Murid kemudian dibagi dalam kelompok beranggotakan empat orang. Setiap kelompok memperoleh sebuah “Amplop Misteri” yang berisi delapan kartu berisi kutipan bait puisi yang telah diacak.
Dari kartu-kartu tersebut, murid diminta mengidentifikasi berbagai unsur puisi. Mereka menghitung jumlah suku kata, mengamati pola sajak akhir, membedakan fungsi sampiran dan isi, hingga mengenali karakteristik bahasa yang digunakan dalam mantra.
Hasil analisis kemudian ditempatkan pada papan kerja bertajuk “Misi Detektif Puisi Rakyat”. Murid harus mencocokkan setiap kartu dengan kategori puisi yang dinilai sesuai berdasarkan karakteristik teks yang ditemukan.
Murid Belajar Mengemukakan Alasan
Suasana pembelajaran semakin interaktif ketika setiap kelompok mulai mempresentasikan hasil analisisnya di depan kelas.
Murid tidak hanya diminta menyebutkan apakah sebuah teks termasuk pantun, syair, gurindam, atau mantra. Mereka juga harus menjelaskan alasan di balik pilihan tersebut berdasarkan pola rima, susunan baris, pilihan kata, maupun struktur teks.
Diskusi antarkelompok membuat proses pembelajaran berkembang menjadi kegiatan saling memeriksa dan membandingkan temuan. Murid dapat mengajukan pertanyaan maupun menanggapi pendapat kelompok lain apabila menemukan perbedaan hasil analisis.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa PK berperan sebagai fasilitator. Penguatan konsep diberikan terutama ketika murid mengalami kesulitan membedakan karakteristik beberapa jenis puisi rakyat, seperti syair dan gurindam.
Pendekatan scaffolding atau pemberian bantuan belajar secara bertahap digunakan agar murid dengan tingkat pemahaman yang berbeda tetap dapat mengikuti proses pembelajaran.
Dengan pola tersebut, murid yang telah memahami materi dapat membantu teman satu kelompoknya, sementara guru atau fasilitator memberikan arahan ketika ditemukan konsep yang masih belum tepat.
Belajar Sastra Lewat Media Taktil
Penggunaan matching board membuat kegiatan belajar tidak hanya berlangsung melalui penjelasan teori. Murid dapat berinteraksi langsung dengan materi melalui kartu-kartu yang harus dibaca, dipilah, dibandingkan, dan ditempatkan pada kategori tertentu.
Media taktil tersebut juga mendorong setiap anggota kelompok untuk terlibat dalam pembelajaran. Proses menentukan posisi kartu menuntut adanya diskusi dan kesepakatan sebelum kelompok menetapkan jawaban.
Melalui kegiatan itu, pembelajaran puisi rakyat diarahkan agar lebih dekat dengan pengalaman belajar murid sekaligus mengurangi kesan bahwa materi sastra hanya berisi teori dan hafalan.
Kegiatan tersebut juga dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui upaya menghadirkan pembelajaran yang aktif, inklusif, dan menyenangkan.
Sementara itu, pengenalan pantun, gurindam, syair, serta mantra menjadi bagian dari upaya memperkenalkan dan menumbuhkan apresiasi terhadap tradisi sastra serta warisan budaya Nusantara, sejalan dengan semangat pelestarian warisan budaya dalam SDG 11 target 11.4.
Pembelajaran dengan media serupa masih dapat dikembangkan untuk materi Bahasa Indonesia lainnya. Model permainan klasifikasi, kartu teks, maupun papan pencocokan dapat disesuaikan dengan kompetensi yang ingin dicapai dalam kegiatan belajar.
Setelah memahami unsur dan struktur berbagai jenis puisi rakyat, pembelajaran selanjutnya dapat diarahkan pada tahap produksi karya. Murid diharapkan mampu memanfaatkan pemahaman yang telah diperoleh untuk menyusun pantun, gurindam, syair, ataupun bentuk puisi rakyat lainnya secara mandiri.
Dengan demikian, pembelajaran sastra tidak berhenti pada kemampuan mengenali struktur teks, tetapi berkembang hingga kemampuan mengolah bahasa dan menghasilkan karya sebagai bagian dari proses literasi sekaligus apresiasi terhadap budaya Indonesia.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda