BENGKULU, JurnalPost.com — Minimnya pilihan jajanan sehat di tengah dominasi kue manis dan gorengan menjadi perhatian mahasiswa Jurusan Gizi di Kota Bengkulu. Kondisi tersebut mendorong sepuluh mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Gizi Divisi Perekonomian mengikuti program pengabdian masyarakat bertajuk “Gizi Berwirausaha: Pengembangan Kudapan Sehat oleh Mahasiswa dan Alumni Gizi untuk Masyarakat Kota Bengkulu.”
Program yang diketuai Risda Yulianti, S.Gz., M.Sc., Ph.D. itu tidak hanya mengajarkan cara membuat makanan sehat, tetapi juga membekali peserta dengan pemahaman mengenai proses membangun usaha secara menyeluruh.
Peserta terdiri atas mahasiswa Divisi Perekonomian HMJ Gizi serta sejumlah mahasiswa tingkat akhir yang dijadwalkan lulus tahun ini. Mereka diarahkan mulai dari membaca tren pasar, merancang produk, melakukan uji penjualan terbatas di lingkungan kampus, hingga memasarkan kudapan melalui skema titip jual kepada pedagang jajanan yang telah beroperasi.
“Masalahnya bukan cuma soal resep sehat. Kalau mahasiswa tidak paham pasar, produknya bisa bergizi tapi tidak laku. Makanya kami mulai dari observasi lapangan dulu, bukan dari dapur,” kata Risda Yulianti.
Observasi Pasar Jadi Langkah Awal
Tahap observasi pasar dilaksanakan pada 14–15 Agustus 2026. Para peserta turun langsung menemui pedagang dan konsumen untuk mengetahui jenis kudapan yang paling diminati, rentang harga yang diterima pasar, serta respons masyarakat terhadap kemungkinan hadirnya pilihan jajanan yang lebih sehat.
Temuan dari lapangan kemudian dijadikan dasar penyusunan materi pelatihan. Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan teori kewirausahaan, tetapi juga memahami kondisi riil dan karakter konsumen yang nantinya menjadi sasaran pemasaran produk.
Salah satu peserta, Nadila Dwi Helfani, mengatakan kegiatan observasi membuat dirinya memahami bahwa produk sehat tetap harus mampu bersaing dari berbagai aspek.
“Selama observasi kami baru sadar, produk sehat itu bersaingnya bukan cuma soal kandungan gizi, tapi juga soal harga dan kebiasaan pembeli. Itu yang membuat kami berpikir ulang soal desain produknya,” ujar Nadila.
Dari Tren Pasar hingga Perhitungan Biaya Produksi
Hasil observasi kemudian dibahas lebih lanjut dalam kegiatan pada 20 Agustus 2026. Peserta mendapatkan materi dari dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB), Andi Azhar, Ph.D.
Dalam sesi tersebut, Andi mengulas tren pasar berdasarkan temuan mahasiswa sekaligus membimbing peserta menghitung biaya dan harga produksi kudapan sehat yang akan dikembangkan. Perhitungan tersebut menjadi salah satu tahapan penting agar produk tidak hanya memiliki nilai gizi, tetapi juga memiliki harga yang realistis dan kompetitif.

Produk Akan Diuji Langsung di Pasar
Rangkaian program masih akan berlanjut dengan materi teknik pengolahan pangan yang disampaikan Yunita, M.Gizi, serta materi komunikasi dan pelabelan produk dari Ade Febryanti, M.Si. Keduanya merupakan anggota tim pengabdian masyarakat tersebut.
Setelah seluruh materi diberikan, peserta akan memasuki tahapan pengembangan produk berdasarkan hasil observasi dan perhitungan harga yang telah dilakukan. Kudapan yang dihasilkan selanjutnya direncanakan menjalani uji pasar hingga dipasarkan melalui pedagang jajanan di Kota Bengkulu.
Risda berharap kegiatan tersebut dapat menghasilkan produk yang benar-benar diterima masyarakat sekaligus memberikan pengalaman kewirausahaan nyata kepada mahasiswa.
“Targetnya bukan cuma mahasiswa paham teori kewirausahaan, tapi ada produk yang benar-benar dititipkan dan dibeli masyarakat. Kalau itu tercapai, berarti kita berhasil menambah pilihan jajanan sehat di pasar Bengkulu,” katanya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda