JurnalPost.com - Tim Program Pengabdian Ormawa (PPO) Lembaga Pengembangan Mahasiswa (LEPMA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (FEB UMS) melaksanakan program pengabdian masyarakat di Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta. Program yang mengusung tema “Smart Village Empowerment: Revitalisasi Bank Sampah dan Pengembangan Produk Kriya Kain Perca di Kampung Batik Laweyan” ini berfokus pada penguatan potensi lingkungan dan ekonomi kreatif masyarakat.
Kelurahan Laweyan memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan, di antaranya bank sampah, pengrajin kriya kain perca, kawasan wisata Kampung Batik Laweyan, serta tanaman obat keluarga (TOGA). Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan tim pada Mei 2026 bersama pengelola bank sampah dan masyarakat, ditemukan sejumlah permasalahan yang masih perlu ditangani.
Permasalahan tersebut meliputi kurang aktifnya pengelolaan bank sampah, pengolahan kain perca yang masih dilakukan secara individu sehingga limbah kain perca menumpuk sehingga belum optimalnya pengembangan produk dari limbah kain perca, kurangnya spot foto edukatif untuk mendukung daya tarik wisata, serta penataan area TOGA yang masih perlu dikembangkan.
Berdasarkan kondisi tersebut, Tim PPO LEPMA FEB UMS bersama masyarakat dan pemerintah Kelurahan Laweyan, merancang program Kelurahan Cerdas melalui pembentukan empat pojok pemberdayaan masyarakat. Keempat pojok tersebut terdiri atas Pojok Bank Sampah Berdaya, Pojok Kreasi Perca, Pojok Eco Craft, dan Pojok Tanaman Sehat.
Ketua Pelaksana Tim PPO LEPMA FEB UMS, Ulfiyah Mufrih, mengatakan program tersebut dirancang untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan sekaligus mengembangkan keterampilan dan potensi ekonomi masyarakat.
“Program ini kami rancang tidak hanya untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan, tetapi juga untuk mengembangkan potensi yang sudah dimiliki masyarakat. Melalui empat pojok pemberdayaan, kami berharap masyarakat dapat terlibat secara aktif dan mampu melanjutkan kegiatan secara mandiri,” ujarnya.
Pada Pojok Bank Sampah Berdaya, masyarakat mendapatkan sosialisasi dan edukasi mengenai pengelolaan bank sampaah serta pemilahan sampah rumah tangga. Tim juga mendorong penyediaan dua jenis tempat sampah dan dua tong komposter sebagai sarana pemilahan sampah sekaligus upaya meningkatkan kembali partisipasi masyarakat dalam pengelolaan bank sampah.
Sementara itu, Pojok Kreasi Perca menjadi ruang pemberdayaan masyarakat, khususnya ibu-ibu, untuk mengembangkan keterampilan dalam memanfaatkan limbah kain perca. Kain perca yang sebelumnya menumpuk diarahkan untuk diolah menjadi berbagai produk kreatif yang memiliki nilai guna dan nilai jual.
Pojok Eco Craft dikembangkan sebagai sarana pemanfaatan sampah organik dan anorganik menjadi produk kreatif guna menjadi dekorasi lingkungan. Kegiatan tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk memanfaatkan kembali limbah sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih kreatif dan memiliki nilai ekonomi.

Adapun Pojok Tanaman Sehat diarahkan pada penataan dan pemanfaatan kawasan tanaman empon-empon serta tanaman obat keluarga yang dikembangkan sebagai sarana edukasi kesehatan.
Dalam pelaksanaannya, program PPO dilakukan secara bertahap dan partisipatif, kelompok pengelola bank sampah dan masyarakat sekitar. Tahapan kegiatan meliputi identifikasi potensi dan permasalahan, sosialisasi, pembentukan kelompok, pelatihan, pendampingan, monitoring, evaluasi, hingga penyusunan rencana keberlanjutan program.
Pemerintah Kelurahan Laweyan turut memberikan dukungan melalui perizinan kegiatan, fasilitasi koordinasi dengan masyarakat dan stakeholder, serta penyediaan lokasi untuk pelaksanaan kegiatan pada setiap pojok pemberdayaan. Dukungan tersebut juga mencakup pendampingan, monitoring, dan mendorong partisipasi masyarakat dalam setiap tahapan program.
Penanggung jawab kegiatan PPO LEPMA FEB UMS, Afinda Tantri Kusuma Wardani, mengatakan bahwa kolaborasi dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program. “Keberlanjutan program tidak hanya bergantung pada tim mahasiswa. Karena itu, kami berusaha melibatkan masyarakat sejak proses perencanaan hingga pelaksanaan. Harapannya, setelah program selesai, masyarakat tetap dapat mengelola dan mengembangkan empat pojok tersebut secara mandiri,” tuturnya.
Untuk mendukung keberlanjutan, Tim PPO juga membentuk kelompok pengelola yang terdiri atas Unit Pengelola Bank Sampah, Kelompok Herbal Lestari, Eco-Craft Crew, dan Komunitas Perca Berkarya. Kelompok tersebut diharapkan dapat menjadi penggerak kegiatan setelah program pendampingan mahasiswa berakhir.
Selain itu, tim merencanakan pendampingan secara berkala selama tiga bulan, yaitu Juli hingga September 2026. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengetahui perkembangan pengetahuan dan keterampilan masyarakat setelah mengikuti rangkaian kegiatan. Melalui program Smart Village Empowerment, Tim PPO LEPMA FEB UMS berharap terbentuk pusat pembelajaran masyarakat berbasis empat pojok yang aktif dan berkelanjutan. Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, keterampilan masyarakat, pemanfaatan limbah, serta peluang ekonomi melalui pengembangan potensi lokal Kelurahan Laweyan.
Dengan kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah kelurahan, dan masyarakat, program tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi dapat terus berkembang menjadi gerakan masyarakat yang mandiri dalam mengelola lingkungan dan mengembangkan potensi ekonomi kreatif di Kampung Batik Laweyan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda