Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Lapar Bukan Sekadar Perut Kosong: Mengapa Saat Lapar Kita Menjadi "Orang yang Berbeda"?

Lapar Bukan Sekadar Perut Kosong: Mengapa Saat Lapar Kita Menjadi "Orang yang Berbeda"?

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
15 Juli 2026, 00.51 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Lapar
Ilustrasi Perbedaan suasana makan dan perasaan

Oleh: Rosianna Sinta Dewi Akbar Mahasiswi Magister Sains Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata

JurnalPost.com - Pernahkah kamu merasa menjadi lebih mudah marah ketika belum makan? Atau tiba-tiba membeli makanan dalam jumlah berlebihan hanya karena masuk supermarket saat perut kosong? Bahkan mungkin kamu pernah menyetujui sesuatu yang biasanya akan kamu tolak, hanya karena saat itu kamu sedang lapar.

IKLAN

Banyak orang menganggap kondisi tersebut hanyalah "efek belum makan". Padahal, ilmu psikologi dan neurosains menunjukkan bahwa lapar jauh lebih kompleks daripada sekadar sinyal bahwa tubuh membutuhkan makanan.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Lapar bukan hanya terjadi di perut. Lapar adalah keadaan biologis yang mampu mengubah cara otak bekerja, menggeser prioritas perilaku, bahkan memengaruhi cara kita mengambil keputusan.

Selama ini kita sering menganggap manusia selalu berpikir rasional sebelum bertindak. Kenyataannya, keputusan manusia tidak hanya dibentuk oleh logika, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi tubuh. Ketika energi tubuh menurun, otak menerima berbagai sinyal biologis yang membuatnya menyusun ulang prioritas. Yang semula penting bisa menjadi kurang penting, sedangkan mencari makanan menjadi tujuan utama. Hal ini termasuk bentuk kerja otak untuk mempertahankan hidup sebagai mahluk hidup.

Inilah mengapa beberapa penelitian menemukan bahwa orang yang lapar cenderung lebih impulsif. Mereka lebih memilih keuntungan kecil yang bisa diperoleh secepatnya daripada keuntungan yang lebih besar tetapi harus menunggu. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai delay discounting. Otak seolah berkata, "Yang penting sekarang dulu." Padahal, ketika sudah kenyang, orang yang sama mungkin mampu berpikir lebih sabar, lebih sadar, dan mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.

Menariknya lagi, perubahan tersebut tidak berhenti pada keputusan ekonomi atau pilihan makanan saja. Penelitian Brown, Proulx, dan Stanton Fraser menunjukkan bahwa rasa lapar juga dapat memengaruhi penilaian moral seseorang. Orang yang sedang lapar cenderung sedikit lebih permisif terhadap tindakan yang merugikan orang lain pada situasi tertentu. Namun, efek ini bukan karena mereka sedang bad mood ataupun lebih emosional. Justru penelitian tersebut menunjukkan bahwa emosi bukanlah penyebab utamanya. Sebaliknya, cara seseorang berpikir secara intuitif memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap keputusan moral dibandingkan rasa lapar itu sendiri.

kebakaran hutan di Kalimantan
Baca Juga

Hutan Kalimantan Terbakar: Bencana Alam atau Ada Campur Tangan Manusia?

Di sisi lain, lapar ternyata bukan hanya membuat seseorang lebih impulsif. Dari sudut pandang evolusi, hal ini justru merupakan strategi bertahan hidup yang sangat cerdas. Jika dikaitkan dengan hewan, hal ini dapat disebut sebagai insting. Bukan sekadar “Aku mau sekarang.”, tetapi lebih kepada “Aku butuh sekarang.”.

IKLAN

Tubuh manusia dirancang untuk tetap hidup ketika makanan sulit ditemukan. Saat cadangan energi mulai menurun, otak mengaktifkan berbagai mekanisme agar peluang memperoleh makanan meningkat. Akibatnya, seseorang menjadi lebih aktif menjelajah lingkungan, lebih berani mengambil risiko, lebih fokus pada pencarian sumber daya, bahkan mengurangi perhatian terhadap aktivitas lain seperti bersosialisasi atau mempertahankan wilayah. Semua perubahan ini dikendalikan oleh jaringan saraf tertentu, terutama neuron Agouti-Related Peptide (AGRP) di hipotalamus yang berfungsi sebagai "alarm kekurangan energi".

Artinya, ketika seseorang menjadi lebih impulsif saat lapar, bukan berarti otaknya sedang "rusak". Sebaliknya, otak sedang bekerja sesuai desain evolusinya: memprioritaskan kelangsungan hidup.

Yang menarik, penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa lapar tidak selalu menurunkan kemampuan berpikir. Banyak orang khawatir bahwa belum makan akan langsung membuat konsentrasi hilang atau otak tidak bisa bekerja. Padahal, sebuah meta-analisis yang menggabungkan puluhan penelitian menemukan bahwa puasa jangka pendek pada orang dewasa sehat secara umum tidak menyebabkan penurunan fungsi kognitif yang bermakna. Perhatian, memori, dan fungsi eksekutif relatif tetap stabil. Yang berubah bukan kemampuan berpikirnya, melainkan arah perhatian dan motivasinya.

Berani Berkata tidak
Baca Juga

Berani Berkata "Tidak": Mengapa Asertivitas Penting bagi Remaja Masa Kini

Hal ini diperkuat oleh kajian mengenai metabolisme otak selama puasa. Setelah beberapa jam tidak makan, tubuh mulai beralih menggunakan badan keton sebagai sumber energi alternatif bagi otak. Proses yang disebut metabolic switch ini justru meningkatkan berbagai mekanisme yang mendukung kesehatan otak, seperti neuroplastisitas (proses perbaikan sel otak), dan efisiensi metabolisme neuron. Dengan kata lain, otak tidak serta-merta "kehabisan bensin" hanya karena belum makan beberapa jam.

Bagi remaja dan dewasa awal, pemahaman ini menjadi sangat penting. Masa ini dipenuhi berbagai keputusan yang menentukan masa depan, mulai dari memilih jurusan kuliah, mengelola uang, menentukan pola makan, hingga membangun hubungan dengan orang lain. Tanpa disadari, kondisi biologis sederhana seperti rasa lapar dapat ikut memengaruhi proses tersebut.

Namun, bukan berarti setiap keputusan saat lapar pasti salah. Justru kesadaran bahwa tubuh dan pikiran saling memengaruhi membuat kita dapat mengambil keputusan dengan lebih bijak. Ketika sedang lapar, mungkin bukan waktu terbaik untuk berbelanja bahan makanan, menentukan keputusan finansial yang besar, atau menyelesaikan konflik emosional. Memberi kesempatan tubuh untuk memenuhi kebutuhan energinya bisa menjadi langkah sederhana agar keputusan yang diambil lebih matang.

Pada akhirnya, lapar bukan sekadar sensasi di perut. Lapar adalah sinyal biologis yang menghubungkan tubuh, otak, emosi, dan perilaku dalam satu sistem yang saling berkaitan. Memahami rasa lapar bukan hanya membantu kita mengatur pola makan, tetapi juga membantu kita memahami mengapa manusia terkadang bertindak berbeda ketika kebutuhan paling dasar belum terpenuhi.

Mungkin setelah mengetahui semua ini, kita tidak lagi berkata, "Aku cuma lapar." Sebaliknya, kita mulai menyadari bahwa ketika lapar, tubuh sebenarnya sedang menjalankan sebuah mekanisme kompleks yang telah dirancang selama jutaan tahun evolusi untuk memastikan kita tetap bertahan hidup.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/lapar-bukan-sekadar-perut-kosong-mengapa-saat-lapar-kita-menjadi-orang-yang-berbeda/95764/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 16.58 WITA

  • #Opini Mahasiswa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Pilihan Editor

  1. 1 Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel
  2. 2

    Awali Hari dengan Salat Subuh Berjamaah dan Senam Pagi, MAN 1 Bulukumba Tanamkan Semangat Sehat Lahir dan Batin

  3. 3

    Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

  4. 4

    Peran Teknologi Pangan dalam Menjaga Ketahanan dan Keamanan Pangan Nasional

  5. 5

    UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.