Pangandaran, JurnalPost.com – Kawasan pesisir tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga menyimpan peluang ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Kehadiran wisatawan dapat membuka ruang bagi masyarakat lokal untuk mengembangkan produk kreatif yang menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus sumber pendapatan baru.
Peluang tersebut menjadi perhatian mahasiswa Kelompok 203 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) ketika melihat potensi ekonomi kreatif di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran.
Desa Ciliang merupakan salah satu wilayah pesisir yang berada di kawasan Pantai Batu Hiu. Destinasi wisata tersebut dikenal dengan panorama Samudra Hindia dan formasi batu karang yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Sebagai salah satu tujuan wisata di Kabupaten Pangandaran, kawasan Pantai Batu Hiu dinilai memiliki peluang untuk mendorong berkembangnya berbagai aktivitas ekonomi masyarakat, terutama usaha yang berkaitan dengan kebutuhan serta pengalaman wisatawan.
Berdasarkan hasil observasi mahasiswa KKN UNS selama mengeksplorasi kawasan pesisir Pantai Batu Hiu, aktivitas ekonomi masyarakat sekitar masih memiliki ruang untuk dikembangkan, khususnya melalui produk kreatif lokal yang dapat dijadikan suvenir atau kenang-kenangan bagi pengunjung.
Dibandingkan dengan sejumlah kawasan wisata pesisir lainnya di Pangandaran yang telah memiliki beragam produk pendukung pariwisata, Pantai Batu Hiu memiliki peluang untuk semakin memperkuat identitasnya melalui kerajinan khas yang mengangkat kreativitas masyarakat setempat.
Melihat peluang tersebut, mahasiswa KKN UNS menghadirkan program “Kreasi Kipas Pesisir: Workshop Tie-Dye Teknik Ice Dyeing, Pembuatan Tassel, dan Kemasan Estetik pada Kipas Bambu Tradisional” pada 27 Juli 2026.
Program tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan peluang ekonomi kreatif berbasis rumah tangga kepada masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK Desa Ciliang.
Dari Kipas Tradisional Menjadi Produk Bernilai Tambah
Kipas bambu merupakan kerajinan sederhana yang telah lama dikenal masyarakat. Namun, melalui inovasi desain, warna, hiasan, dan kemasan, produk tradisional tersebut dapat dikembangkan menjadi barang bernilai tambah yang lebih menarik bagi konsumen.
Dalam workshop Kreasi Kipas Pesisir, mahasiswa KKN UNS memperkenalkan pengembangan kipas bambu melalui teknik pewarnaan ice dyeing, penambahan hiasan tassel, hingga pembuatan kemasan yang lebih estetik.
Inovasi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa produk sederhana dapat memiliki nilai ekonomi lebih tinggi apabila dipadukan dengan kreativitas serta pengemasan yang tepat.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan rutin bulanan Desa Ciliang berbasis keparigelan. Sebanyak 14 peserta mengikuti kegiatan tersebut, dengan ibu-ibu PKK sebagai peserta utama. Mahasiswa dari ISBI Bandung juga turut berpartisipasi dalam kegiatan.
Workshop diawali dengan penyampaian materi mengenai konsep pengembangan produk kreatif. Mahasiswa kemudian memberikan demonstrasi teknik pewarnaan, pembuatan hiasan, hingga cara melakukan pengemasan produk.
Setelah memperoleh penjelasan, peserta langsung mempraktikkan proses pembuatan kipas kreasi. Mereka mengaplikasikan kain bermotif tie-dye pada kipas bambu, memasang dekorasi tassel, hingga menyusun kemasan produk agar terlihat lebih menarik.
Tidak hanya mengikuti praktik, para peserta juga aktif berdiskusi mengenai kemungkinan pengembangan kipas kreasi apabila nantinya diproduksi secara lebih berkelanjutan.
Salah seorang peserta, Yeni, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru dalam mengembangkan kerajinan sederhana menjadi produk yang memiliki tampilan lebih menarik.
“Kegiatannya seru dan menambah pengalaman baru bagi kami. Ternyata kipas bambu yang sederhana bisa dibuat menjadi lebih cantik dengan sentuhan warna dan hiasan. Semoga keterampilan ini bisa terus dikembangkan dan menjadi ide usaha bagi ibu-ibu di Desa Ciliang,” ujar Yeni.
Hal senada disampaikan Annisa. Ia mengaku tidak menyangka kipas bambu dapat dikembangkan menjadi produk kreatif melalui kombinasi warna dan dekorasi.
“Awalnya saya tidak menyangka kalau kipas bambu bisa dikreasikan menjadi produk yang menarik seperti ini. Kegiatannya menyenangkan karena bisa belajar bersama adik-adik KKN UNS. Semoga nanti bisa dicoba lagi dan dikembangkan menjadi kegiatan yang bermanfaat,” katanya.
Membuka Peluang Ekonomi Kreatif Perempuan Desa
Melalui program Kreasi Kipas Pesisir, mahasiswa KKN UNS berharap masyarakat Desa Ciliang, khususnya perempuan yang tergabung dalam kelompok PKK, semakin melihat potensi keterampilan lokal sebagai peluang pengembangan ekonomi kreatif.
Produk yang dihasilkan dalam kegiatan tersebut masih berada pada tahap pengenalan dan pengembangan awal. Meski demikian, peluang pengembangan masih terbuka melalui penyempurnaan desain, pembangunan merek, strategi pemasaran, hingga kerja sama dengan pelaku usaha maupun pihak yang bergerak di sektor pariwisata.
Apabila dikembangkan secara konsisten, kipas bambu kreasi berpotensi menjadi salah satu produk yang melengkapi pengalaman wisatawan ketika berkunjung ke kawasan Pantai Batu Hiu.
Produk tersebut juga dapat membawa identitas lokal Desa Ciliang karena dikembangkan langsung oleh masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar destinasi wisata.
Program Kreasi Kipas Pesisir juga sejalan dengan sejumlah tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs).
Kegiatan ini berkaitan dengan SDG 5 tentang Kesetaraan Gender melalui upaya meningkatkan kapasitas perempuan desa, serta SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengenalan peluang usaha berbasis ekonomi kreatif.
Selain itu, program tersebut juga mendukung SDG 11 tentang Kota dan Komunitas Berkelanjutan, terutama melalui upaya mengembangkan produk kreatif yang membawa identitas dan potensi masyarakat lokal.
Inovasi terhadap kipas bambu tradisional tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan workshop. Keterampilan yang diperoleh masyarakat dapat menjadi langkah awal untuk melahirkan produk kreatif yang memiliki karakter khas Desa Ciliang sekaligus berpotensi menjadi bagian dari pengembangan ekonomi wisata pesisir Pangandaran.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda