Kendal, JurnalPost.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT 22 Posko 176 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menggelar pelatihan kerajinan tangan berbahan dasar kawat bulu atau chenille di Posko KKN 176, Desa Krompaan, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal, Senin (24/8/2026).
Pelatihan tersebut diikuti oleh ibu-ibu dan anak-anak Desa Krompaan. Kegiatan dirancang untuk mengasah kreativitas warga sekaligus menghadirkan aktivitas positif, edukatif, dan bernilai seni yang dapat dilakukan di waktu luang.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai teknik dasar mengolah kawat bulu warna-warni menjadi produk kerajinan. Beberapa hasil karya yang dibuat antara lain rangkaian bunga hias, pot bunga mini, gantungan kunci, hingga dekorasi sederhana yang dapat digunakan sebagai pajangan maupun hadiah.
Mahasiswa KKN MIT 22 Posko 176 menyiapkan bahan dan peralatan yang digunakan selama pelatihan. Peserta kemudian dipandu secara bertahap, mulai dari mengenali karakter bahan, membentuk dan melilit kawat, hingga merangkainya menjadi produk kerajinan.
Pendampingan dilakukan secara langsung agar peserta dari berbagai kelompok usia dapat mengikuti setiap tahapan dengan mudah.
Sejak kegiatan dimulai, suasana pelatihan berlangsung antusias. Anak-anak terlihat mencoba berbagai kombinasi warna dan bentuk sesuai imajinasi mereka. Sementara itu, ibu-ibu peserta aktif berdiskusi serta bertukar ide mengenai bentuk kerajinan yang dapat dikembangkan dari bahan sederhana tersebut.
Koordinator kegiatan KKN Posko 176 menjelaskan bahwa pelatihan sengaja dirancang dengan teknik yang sederhana dan mudah dipraktikkan. Bahan kawat bulu juga dipilih karena relatif mudah ditemukan dan harganya cukup terjangkau, sehingga peserta dapat kembali mencoba membuat kerajinan secara mandiri di rumah.
Selain menghasilkan produk kerajinan, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk melatih ketelitian, kesabaran, keterampilan motorik, serta kemampuan berkreasi.
Bagi anak-anak, proses membentuk dan merangkai kawat bulu diharapkan dapat membantu mengembangkan motorik halus sekaligus melatih keberanian dalam menuangkan ide menjadi karya.
Sementara bagi ibu-ibu, keterampilan membuat kerajinan dapat menjadi salah satu aktivitas produktif yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut.
Salah seorang peserta mengaku senang mengikuti pelatihan karena memperoleh keterampilan baru. Menurutnya, produk kerajinan dari kawat bulu juga berpotensi memiliki nilai jual apabila dikembangkan dengan desain yang menarik dan dipasarkan secara tepat.
Potensi tersebut menjadi salah satu aspek yang ingin dikenalkan mahasiswa KKN kepada masyarakat. Kerajinan seperti buket bunga, gantungan kunci, maupun hiasan dekoratif dapat dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif skala rumahan.
Selain memberikan keterampilan baru, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat interaksi antara mahasiswa KKN dan masyarakat Desa Krompaan.
Pelatihan tersebut turut menjadi alternatif kegiatan produktif bagi anak-anak di luar penggunaan gawai. Waktu luang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas yang mendorong kreativitas, konsentrasi, dan keterampilan tangan.
Melalui program kerja tersebut, mahasiswa KKN MIT 22 Posko 176 UIN Walisongo Semarang berharap keterampilan yang telah diperoleh warga dapat terus dikembangkan setelah masa KKN berakhir.
Warga diharapkan tidak hanya mampu membuat kerajinan untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga terus berinovasi dalam menciptakan produk yang memiliki nilai tambah dan peluang ekonomi.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan kreativitas masyarakat dapat dimulai dari bahan dan aktivitas sederhana. Dengan pendampingan dan kemauan untuk terus berkreasi, keterampilan tersebut berpotensi berkembang menjadi kegiatan produktif yang memberikan manfaat bagi keluarga maupun lingkungan sekitar.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda