JurnalPost.com - Asrama bukan hanya tempat tinggal semata yang letaknya dekat dengan kampus, tetapi asrama atau mahad al-jamiah sebutannya untuk asrama IAIN Syekh Nurjati Cirebon merupakan tempat dimana mahasiswa dan mahasiswi belajar mengaji, membaca kitab kuning serta kegiatan keagamaan lainnya.
Di mahad al-jamiah terdapat sebuah kantin yang mana Ibu Komala adalah salah satu pedagang di kantin tersebut, Ibu Komala yang bertempat tinggal di Jalan Sekar Kemuning, Gg Mawar, RT 02 RW 03, Kelurahan Karya Mulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon kini berusia 48 tahun dan Ia sudah sekitar 5 tahun berjualan di kantin asrama untuk mengadu nasibnya sebagai pedagang warung nasi.
Berprofesi sebagai pedagang warung nasi di kantin asrama, Ibu Komala sebelumnya pernah merasakan kepahitan dalam hidupnya sebelum datang berjualan disini. Ia sudah sering mencoba berjualan di luar dari asrama ini, namun selalu gagal.
"Ibu sudah sering mencoba jualan di luar dek sebelum pindah kesini pada 28 september 2018, tapi selalu gagal, masalahnya dari orang-orang sekitar dan pedagang yang merasa disaingi, dari mereka ada aja yang gak suka Ibu jualan," ucap Ibu Komala.
Berjualan di kantin asrama, Ibu Komala lakukan setiap hari dimulai pukul 06:00 pagi sampai dengan pukul 18:00 malam, menu yang dimasak setiap harinya berbeda tergantung bagaimana Ia ingin masak yang seperti apa. Usaha berdagang Ibu Komala disini sebenarnya hasil bantuan dari temannya yang dahulu pernah berdagang disini.
"Ibu disini jualan juga melanjutkan teman dek yang dulu pernah disini. Dia teman Ibu, kasih tahu Ibu supaya menempati tempat ini karena teman Ibunya gak akan jualan lagi. Dia tuh gak jualan lagi bingung sama modalnya darimana, modalnya gak bisa berputar terus gitu dek," tutur Ibu Komala.
Berjualan di kantin asrama ada beberapa hal yang harus Ibu Komala hadapi, seperti berbedanya harga dengan warung nasi tetangga walaupun sama jenis produknya, masalah kasbon dari pembeli dan lainnya.
"Untuk berdagang disini masalah utamanya harga makanan atau minuman yang beda-beda dek sama warung sebelah Ibu, bedanya harga dari setiap warungnya itu buat mahasiswa atau mahasiswi jadi membandingkan dan memilih warung nasi mana yang harganya lebih terjangkau untuk dibeli," ujar Ibu Komala.
Para pedagang terlihat seperti saling bersaing satu sama lain, padahal di satu tempat yang sama yaitu kantin asrama. Kenapa tidak saling dukung satu sama lain dengan menyamaratakan harga untuk produk-produk yang sama.
Harusnya dari kami antar sesama pedagang warung yang berjualan di asrama mematok harga sama setiap apa yang dijual karena kami bersebelahan semua. Soalnya agar gak merugikan warung lainnya dan gak terlihat ramai sendiri, sedangkan yang lain sepi," tambah Ibu Komala.
Kasbon merupakan masalah yang mana dari setiap pedagang pasti ada, agar Ibu Komala dapat tetap memutar modalnya Ia hanya memberikan kasbon kepada mahasiswa atau mahasiswi yang sudah akrab saja.
"Perputaran modal itu harus ya dek, kalo Ibu kasbonin semua ke mahasiswa atau mahasiswi yang gak akrab banget malah nanti Ibu bingung mutar modalnya, jadi Ibu pilih-pilih yang benar-benar akrab banget sama Ibu," Ujarnya.
Di usianya yang bisa dibilang lansia, Ibu Komala tetap berjualan warung nasi di asrama karena Ia sekarang menjadi tulang punggung keluarga. Ia harus memenuhi kebutuhan sehari-harinya, terutama untuk anak terakhir yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas 9.
Menjadi tulang punggung keluarga bukan karena suami sudah tidak ada, melainkan karena suami sudah tidak bekerja. Suami Ibu Komala, yaitu Bapak Rodia berusia 55 tahun telah berhenti bekerja atau pensiun dini dari pekerjaannya di pom bensin setelah bekerja selama 25 tahun, Ia mengundurkan diri secara baik-baik karena memang faktor kesehatan dan usia juga.
"Ibu sekarang yang harus usaha untuk mencari uang tambahan kebutuhan sehari-hari, Bapak kan sekarang di rumah, maksudnya bekerja di rumah habis pensiun dini dari kerjanya di pom, udah 25 tahun kerja di pom tapi Bapak mengundurkan diri baik-baik karena udah sering kelelahan sama sakit-sakitan," tuturnya.
Alasan itulah yang membuat Ibu dari tiga anak ini tetap semangat berjualan karena Ia masih memiliki tanggungan untuk menyelesaikan pendidikan anak terakhirnya tadi, anak pertama sudah menikah dan anak kedua sudah almarhumah.
"Jadi, tinggal satu tanggungan Ibu ini yang anak bungsu kelas 9 SMP. Tetehnya dia, anak pertama sudah menikah dan suaminya yang menanggung, sedangkan anak kedua Ibu sudah meninggal dunia atau almarhumah," ucapnya.
Harapan Ibu Komala sendiri ingin warung nasinya lebih maju dan lebih baik agar bisa meningkat usahanya menjadi lebih besar, doakan saja agar secepatnya punya modal karena sekarang belum ada modalnya untuk bisa usaha yang lebih besar dan bisa berdagang lebih bermacam-macam produknya.
"Tadi dek, kalo ada yang modalin Ibu pengen dagang yang macam-macam, tapi modalnya belum ada, pengen punya usaha yang lebih baik dan lebih besar, doain aja ya dek," tambahnya.
Usaha itu pasti ada pasang dan surutnya, setiap orang diberikan rezeki berbeda-beda. Akan tetapi, cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Kehidupan layaknya sebuah roda yang terus berputar dan dimana setiap kerja keras yang sudah dilakukan saat ini, pasti akan ada hasilnya suatu saat nanti. Ibu komala juga tidak mungkin seterusnya berada pada posisi sekarang, pasti ada saatnya Ibu Komala naik satu tingkat dan naik terus sampai tingkatan yang diinginkan.
Penulis : Gilang Syahrul Qolbi Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda