Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Nasional
  3. Ketua DPP IMM: Ketika Pancasila menjadi alat untuk "Bergagah-Gagahan"

Ketua DPP IMM: Ketika Pancasila menjadi alat untuk "Bergagah-Gagahan"

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
05 Juni 2017, 07.10 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
Ketua DPP IMM: Ketika Pancasila menjadi alat untuk "Bergagah-Gagahan"
Taufan Putra Revolusi

 

Oleh: Taufan Putra Revolusi (Ketua Umum DPP IMM)

IKLAN

 

Folkative
Baca Juga

RUCAS Kolaborasi dengan Pelukis Tunanetra, Wujudkan Nilai Pancasila di Dunia Fashion

"Saya Jokowi, Saya Indonesia, Saya Pancasila" "Saya Raisa, Saya Indonesia Saya Pancasila" "Saya Fauzi, Saya Indonesia, Saya Pancasila"

JURNALPOST, Jakarta- Kini kata-kata itu menyebar dalam bentuk postingan di media sosial dan Kalimat itu sedang trending topik di bulan Juni, Bulan Pancasila. Dari Presiden, Artis, Aktivis, wong cilik, dll, menyatakan kalimat yang sama.

Kita bangga melihat semangat pancasilais yang terbentuk dalam pribadi  pemimpin dan rakyat Indonesia. Namun yang jadi pertanyaan, Pancasila macam apa yang dimaksud, dan seperti apa sosok pancasilais itu. apakah mereka yang mengatakan "saya pancasila" maka kita langsung memvonis bahwa yang tidak mengatakan hal yang sama langsung kita vonis tidak pancasila?

#Pancasila Sebagai Perekat Bangsa

DPP IMM: Lonceng Kematian Demokrasi di Indonesia
Baca Juga

DPP IMM: Lonceng Kematian Demokrasi di Indonesia

Fenomena ini perlu ditelaah secara mendalam dan penuh kesadaran yang betul-betul pancasilais. Karena fenomena sosial dan fenomena politik yang berkembang akhir-akhir ini, menunjukan indikasi bahwa ada klasifikasi tertentu dalam masyarakat yang terbagi dalam. Kelompok yang diklaim sebagai kelompok pancasilais dan kelompok yang dianggap tidak pancasilais, radikal dan rasis. Seakan-akan pancasila menjadi dalil pembenaran bagi kelompok tertentu untuk menghakimi yang lain. Akhirnya negara gagal untuk melakukan rekonsiliasi dan gagal melakukan konsolidasi nasional dalam mempermantap solidaritax kebangsaan, akibat monopoli pancasila yang terlalu berlebihan.

Peristiwa 1 Juni sebenarnya adalah momen  refleksi sejarah bagi kita, bukan hanya slogan-slogan yang tak bermakna, melainkan tindakan nyata yang haruz kita lakukan. Kalaulah  1 Juni hanya menjadi ajang kampanye tiap peringatannya, makai pancasila hanya diakukan dalam kata-kata. Namun tidak dihayati bahkan dikhianati dalam perbuatan. Jadi slogan saya Indonesia, Saya Pancasila hanya bumbu-bumbu dari tradisi latah bangsa ini  bahk.an pRa kaum intelektual yang diharuskan untuk mendalami nilai-nilai itu menjadi budak dari kelatahan ini. Akhirnya pancasila menjadi tidak bermakna sama sekali.

kalau kita menelisik lebih jauh ke belakang, sebenarnya rakyat Indonesia sejak awal berdiri sudah Pancasilais. itulah sebabnya ketika DR. Radjiman Wediodiningrat membuka rapat BPUK tanggal 29 Mei 1945, menanyakan tentang filosifiche groudslaag Indonesia merdeka. Karena ia menyadari bahwa ada falsafah yang hidup dalam budaya, dan sejarah kebangsaan Indonesia. Budaya gotong royong, etika ketimuran yang terpuji, semangat kebebasan yang menggebu, semangat kemandirian yang kuat tersimpan dibalik pertanyaan itu. Beberapa Anggota BPUPK pada waktu itu langsung memberikan tanggapan tentang falsafah negara tersebut. Dan akhirnya tanggapan Soekarno tanggal 1 Juni melengkapi tanggapa-tanggapan tersebut sehingga dibuatkanlah panitia Kecil Sembilan Orang untuk merumuskan falsafah itu. Sukarno dalam otobiografinya, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, menjelaskan bahwa lima falsafah dasar itu adalah merupakan Kelima Mutiara Indah, yang kemudian disebut sebagai Pancasila, adalah mutiara yang digali dari tradisi Bangsa Indonesia jauh sampai kedasarnya.

Rakyat Indonesia sudah berjiwa Pancasilais. Jauh sebelum Indonesia Merdeka. Indonesia adalah negara dengan keragaman yang luar biasa. Berbagai suku, agama, ras. Mampu hidup berdampingan dan saling gotong royong. Didaerah penulis misalnya, Di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, yang jauh dari pusat Ibu Kota Jakarta, yang dulunya  Pendidikan dan akses ekonomi jauh tertinggal, ada Desa Transmigran, namanya Desa Mopuya, mayoritas transmigran Jawa, hidup damai berdampingan dengan masyarakat bolaang Mongondow dan Minahasa disana. di kampung tersebut, berdiri berdamping-dampingan Empat Tempat ibadah. Berdekatan disebuah perempatan. Tak ada yang saling ejek soal kebhinekaan dan keragaman. Malah saling gotong royong dalam kehidupan sosial masyarakat nya. Ya sudah lama masyarakat kita menjiwai dan mengamalkan Pancasila itu tanpa repot-repot kampanye saya Indonesia saya Pancasila.

DPP IMM: Reklamasi dan Ancaman Kedaulatan
Baca Juga

DPP IMM: Reklamasi dan Ancaman Kedaulatan

Konflik horizontal, embrio gerakan separatis, terorisme,  dsb. Itu terlahir bukan karena rakyat Indonesia tidak Pancasilais. Tapi karena Pancasila tidak lagi dijadikan pedoman berbangsa dan bernegara.

#Ketika Pancasila Dikhianati

IKLAN

Pancasila tak lagi dijadikan landasan nilai dalam membangun bangsa dan negara, pancasila tak lagi menjadi rujukan dalam membangun sistem ekonomi, politik dan hukum di Bangsa Indonesia. Makna Pancasila didegradasi, Pancasila tak dijalankan dengan Konsekuen. Dan yang lebih bahaya lagi adalah semangat gotong royong yang terkandung di dalam falsafah pancasila di injak-injak oleh Sistem Ekonomi Liberal Kapitalistik.

Maka perlu refleksi mendalam untuk kembali memahami pancasila ini. Jangan katakan saya Indonesia, saya Pancasila, jika dalam menjalankan ekonomi bangsa, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bukan menjadi tujuan. Malah membuka ruang bagi korporasi asing, untuk mengeruk kekayaan alam bangsa Ini, untuk menghidupi 'dapur' negara-negara adidaya, sementara rakyat Indonesia sendiri menjadi "pengemis" di negaranya sendiri.

Oleh karena refleksi ini, penulis ingin mengajikan beberapa pertanuaan penting dan mendesak dalam kehodupan bangsa kita ini. Apakah Menggusur rumah warga dengan alasan pembangunan ekonomi  itu bisa dikatakan Negara Pancasila..? Merampas lahan petani untuk pembangunan pabrik di Jateng, Karawang, Jatim, apakah Itu negara pancasila..?

Memaksakan reklamasi di Jakarta yang merusak ekosistem,  membunuh mata pencaharian nelayan apa itu negara Pancasila? Pantaskah Freeport Yang Mengeruk Kekayaan alam dengan memberikan. 'Jatah' tak lebih dari 10% Berdiri di Negara Pancasila..?

Mari kita jawab dengan akal yang sehat dan pikiran yang jernih. Bahwa Negara Pancasila adalah negara yang menjamin kesejahteraan rakyat. Bukan negara pancasila namanya jika 70% kue ekonomi dinikmati oleh 1% populasi penduduk.

Tanah dikuasai oleh Asing dengan kepentingan konglomerasi. Kekayaan alam dirampok oleh asing dan negara mengamininnya dengan regulasi. Sementara itu disaat bersamaan ekonomi rakyat memprihatinkan, sehingga apakah pengakuan "saya indonesia saya pancasila" masih memiliki nilai? Saya rasa kondisi diatas adalah bentuk konkrit kita mengkhianati pancasila.

#Demokrasi Pancasila Diambang Kepunahan.

"Uang dan kekuasaan akan membunuh akal sehat dan cita-cita ideal". Mungkin ini ungkapan singkat untuk menunjukkan pancasila dalam krisis dan hampir dilupakan.

Kita tahu bahwa Negara Pancasila adalah negara yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan yang menghargai kebebasan dan demokrasi yang bersemangat kekeluargaan. sementata Hukum adalah instrumen untuk mewujudkan keadilan, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Sayangnya, Negara Indonesia yang katanya negara Hukum malah lebih tepat disebut negara kekuasaan.

kenapa demikian? Karena Aksi demonstrasi Mahasiswa, ataupun masyarakat, yang dilindungi hukum, malah ditindak represif. Baru-baru ini, Puluhan mahasiswa malang yang ingin menyampaikan protesnya langsung di depan Presiden malah ditindak represif dan sempat ditahan. Apa ini yang negara pancasila? Penegak hukum cenderung pro terhadap korporasi, rakyat kecil yang memperjuangkan hak nya melawan korporasi, malah ditindak dan diusir paksa. Apa ini negara Pancasila..? Tersangka Penistaan Agama belum ditahan sampai terbukti bersalah melalui beberapa kali sidang, namun ulama, yang keras bicara tentang PKI, langsung ditahan pasca ditetapkan sebagai tersangka. Apa ini negara Pancasila?

yang paling terakhir adalah Seorang tokoh reformasi, guru bangsa, tokoh umat yang kritis dan gigih memperjuangkan kebenaran dan keadilan, dituduh korupsi, diincar dengan tujuan pembusukan karakter. Sementara kasus-kasus korupsi besar layaknya BLBI yang membuat negara Harus membayar bunga obligasi 70 Triliun  pertahun, entah disimpan dimana? Entah disembunyikan dimana?

Apa ini negara Pancasila. Negara yang adil dan beradab.?  Negara Pancasila adalah negara yang menegakkan hukum demi keadilan dan kemanusiaan. Bukan negara yang tunduk pada kekuatan uang dan kekuasaan.  Hingga Jeritan "saya pancasila saya indonesia" adalah jeritan manusia tanpa kepala. Dalam kondisi ini kita bisa mengatakan bahwa Pancasila sedang di keroyok dari berbagai sisi. Dalam kondisi yang memprihatingkan ini, sudah sewajarnya menjadi  Tugas kita untuk menjaga Pancasila.kalau seandainya  para pendahulu kita "Founding Fathers" masih hidup, dan melihat fenomena ini pasti mereka menangis. Pancasila yang dirumuskan dengan darah dan air mata, hari ini seakan simbol tanpa makna, slogan dan yel-yel penghibur bagi negara yang sekarat. Maka marilah kita menjaga dan memperjiangkan pamcasila ini lewat kata dan perbuatan, bukan dengan  omong kosong yang tak berkesudahan.

Saya Taufan Saya Indonesia Saya Akan Perjuangkan Pancasila

 

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/ketua-dpp-imm-ketika-pancasila-menjadi-alat-untuk-bergagah-gagahan/4341/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 16.58 WITA

  • #Aku Pancasila
  • #DPP IMM
  • #Taufan Putra Revolusi

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Kepala BSSN Dorong Ketahanan Siber ASEAN, Soroti Ancaman AI hingga Komputasi Kuantum

BSSN Kukuhkan 59 Tim Tanggap Insiden Siber, Perkuat Ketahanan Digital Nasional

HUT ke-58, Semen Tonasa Perkuat Transformasi Berbasis Iman dan Kebersamaan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Pilihan Editor

  1. 1 Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat
  2. 2

    Peran Teknologi Pangan dalam Menjaga Ketahanan dan Keamanan Pangan Nasional

  3. 3

    Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

  4. 4

    HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

  5. 5

    Biaya yang Tak Masuk Inflasi

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.