Oleh: Dian Anugrah Dewi, Jocelyn Chowandi, Cindy Muliawati Saputra, Felicia Evelyn, Anisah Maritza Putri, Sandi Kartasasmita, M.Psi., Psikolog., Psikoterapis
JurnalPost.com - Di era media sosial seperti sekarang, banyak orang tampak menjalani hidup yang sempurna. Nilai kuliah bagus, aktif organisasi, produktif setiap hari, tetap tampil ceria, dan terlihat mampu mengatur semuanya dengan mudah. Melalui unggahan media sosial, kehidupan orang lain sering terlihat rapi dan penuh pencapaian. Namun, di balik semua itu, tidak sedikit yang sebenarnya sedang kelelahan, cemas, bahkan merasa tertekan secara emosional. Fenomena inilah yang dikenal sebagai duck syndrome.
Istilah duck syndrome berasal dari analogi seekor bebek yang terlihat tenang mengapung di atas air, padahal di bawah permukaan kakinya terus mengayuh dengan keras. Menurut Stanford University Student Affairs (2025), kondisi ini menggambarkan individu yang tampak baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya sedang berjuang keras menghadapi tekanan dalam dirinya. Fenomena ini banyak ditemukan pada mahasiswa dan dewasa muda yang hidup di tengah tuntutan akademik, sosial, dan ekspektasi untuk selalu terlihat berhasil.
Tekanan hidup pada dewasa muda memang semakin tinggi. Banyak mahasiswa harus menghadapi tugas akademik, tuntutan organisasi, target masa depan, hingga tekanan sosial untuk terus berkembang. Di saat yang sama, mereka juga hidup di lingkungan yang sangat kompetitif. Ramón-Arbués et al. (2020) menjelaskan bahwa banyak mahasiswa mengalami stres, kecemasan, dan tekanan psikologis akibat tuntutan akademik serta perbandingan sosial. Hal serupa juga dijelaskan oleh Tavolacci et al. (2013), bahwa individu usia 18–24 tahun rentan mengalami psychological distress seperti stres, kecemasan, hingga depresi karena persaingan sosial dan kekhawatiran terhadap masa depan.
Fenomena duck syndrome semakin sering muncul di lingkungan kampus yang kompetitif. Banyak mahasiswa merasa harus selalu tampil produktif dan berprestasi agar dianggap berhasil. Tidak sedikit yang akhirnya memaksakan diri untuk terus terlihat kuat meskipun sebenarnya sedang kewalahan. Penelitian Az Zahra et al. (2025) menunjukkan bahwa mahasiswa yang menghadapi tekanan akademik tinggi, ekspektasi sosial, dan pengaruh negatif media sosial cenderung mengalami duck syndrome. Kondisi tersebut dapat memicu kecemasan, rendahnya self-esteem, hingga gejala depresi.
Media sosial menjadi salah satu faktor yang memperkuat munculnya duck syndrome. Saat membuka media sosial, seseorang sering melihat pencapaian orang lain tanpa mengetahui perjuangan di baliknya. Ada yang membagikan IPK tinggi, sertifikat lomba, kehidupan sosial yang aktif, hingga gaya hidup yang tampak sempurna. Akibatnya, muncul kecenderungan membandingkan diri dan merasa tertinggal. Menurut Godfrey et al. (2024), duck syndrome berkaitan dengan kesenjangan antara citra diri yang ditampilkan kepada publik dan kondisi emosional yang sebenarnya dirasakan individu. Banyak orang akhirnya merasa harus terus terlihat kuat agar tidak dianggap gagal.
Padahal, menyembunyikan tekanan secara terus-menerus dapat berdampak buruk pada kesehatan mental. Individu yang mengalami duck syndrome cenderung mengalami kecemasan, rasa tidak percaya diri, hingga kelelahan emosional. Mereka juga sering merasa takut gagal dan terlalu keras terhadap diri sendiri. Bahkan, Akçay dan Ohashi (2024) menjelaskan bahwa kondisi ini dapat memengaruhi kualitas decision
making atau pengambilan keputusan seseorang. Ketika seseorang terlalu sibuk mempertahankan citra “baik-baik saja”, mereka bisa menjadi lebih sulit berpikir jernih dan ragu terhadap pilihan hidupnya sendiri.
Kecemasan yang tinggi juga dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam mengevaluasi risiko dan menentukan keputusan yang tepat. Hartley dan Phelps (2012) menyatakan bahwa kecemasan membuat individu lebih sulit mengambil keputusan secara rasional. Hal ini diperkuat oleh Paulus dan Yu (2012) yang menjelaskan bahwa emosi negatif dapat memengaruhi cara seseorang berpikir dan menilai situasi.
Selain itu, tekanan akademik yang terlalu tinggi juga terbukti berpengaruh terhadap kesehatan mental mahasiswa. Telaumbanua et al. (2024) menemukan bahwa beban akademik yang berat menyebabkan mahasiswa mengalami stres, kecemasan, kelelahan mental, bahkan gangguan tidur. Kondisi ini menunjukkan bagaimana tuntutan untuk terus berprestasi dapat membuat seseorang merasa kewalahan meskipun tetap berusaha terlihat baik-baik saja di depan orang lain.
Di sisi lain, ada faktor penting yang dapat membantu seseorang menghadapi tekanan tersebut, yaitu self-efficacy. Bandura (2023) mendefinisikan self-efficacy sebagai keyakinan individu terhadap kemampuannya sendiri dalam menghadapi tantangan dan mencapai tujuan. Orang yang memiliki self-efficacy tinggi cenderung lebih percaya diri dalam menghadapi tekanan dan tidak mudah menyerah ketika mengalami kesulitan.
Sayangnya, banyak individu dengan duck syndrome justru merasa dirinya tidak cukup baik. Mereka takut terlihat lemah, sehingga memilih memendam masalah sendirian. Padahal, terus memaksakan diri untuk terlihat sempurna hanya akan memperburuk kondisi psikologis dalam jangka panjang. Keinginan untuk selalu tampak kuat sering membuat seseorang lupa bahwa dirinya juga manusia yang memiliki batas kemampuan.
Fenomena duck syndrome sebenarnya menjadi pengingat bahwa tidak semua yang terlihat “baik-baik saja” benar-benar baik. Di balik senyum, pencapaian, dan unggahan media sosial seseorang, bisa saja ada tekanan yang tidak terlihat. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk mulai membangun lingkungan yang lebih suportif dan tidak hanya menilai seseorang dari pencapaian luarnya saja.
Selain itu, kita juga perlu belajar bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Mengakui bahwa diri sedang lelah atau kewalahan justru merupakan bentuk keberanian dan kesadaran diri. Tidak ada manusia yang selalu kuat setiap saat. Dukungan dari teman, keluarga, maupun lingkungan sekitar sangat penting agar seseorang merasa aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang terlihat paling sempurna, tetapi bagaimana seseorang mampu menjalani kehidupannya secara sehat, jujur, dan seimbang. Seperti bebek yang terus mengayuh di bawah air, banyak orang sedang berjuang diam-diam. Karena itu, mungkin kita semua perlu lebih lembut terhadap diri sendiri dan orang lain.
Daftar Pustaka Akçay, E., & Ohashi, R. (2024). The duck syndrome: Biased social learning leads to effort–reward imbalances Evolutionary Human Sciences, 6, 30.
https://doi.org/10.1017/ehs.2024.20
Az Zahra, N., Ikhrom., & Nurfitri, A., D. (2025). The Dynamics of Self-Esteem in Facing the Duck Syndrome Phenomenon Among University Students. Psikologi Prima Journal, 8(1). https://doi.org/10.34012/psychoprima.v8i1.7037.
Bandura, A. (2023). Social cognitive theory: An agentic perspective on human nature. Edited by Cervone. Hoboken, NJ: Wiley.
Godfrey, F., Arena, F., Accetta, A., & Scaramuzzino, C. (2024). The duck syndrome: The gap between appearance and reality on social media. Addiction & Social Media Communication, 1(2).
Hartley, C. A., & Phelps, E. A. (2012). Anxiety and decision-making. Biological Psychiatry, 72(2), 113–118. https://doi.org/10.1016/j.biopsych.2011.12.027
Paulus, M. P., & Yu, A. J. (2012). Emotion and decision-making: Affect-driven belief systems in anxiety and depression. Trends in Cognitive Sciences, 16(9), 476–483. https://doi.org/10.1016/j.tics.2012.07.009
Ramón-Arbués, E., Gea-Caballero, V., Granada-López, J. M., Juárez-Vela, R., Pellicer-García, B., & Antón-Solanas, I. (2020). The prevalence of depression, anxiety and stress and their associated factors in college students. International Journal of Environmental Research and Public Health, 17(19), 7001. https://doi.org/10.3390/ijerph17197001
Stanford University Student Affairs. (2025). In focus: Don’t be a duck! How to resist the Stanford duck syndrome.
https://studentaffairs.stanford.edu/focus-dont-be-duck-how-resist-stanford-duck-syndrome (Accessed: 8 Mei 2026).
Tavolacci, M. P., Ladner, J., Grigioni, S., Richard, L., Villet, H., & Dechelotte, P. (2013). Prevalence and association of perceived stress, substance use and behavioral addictions: A cross-sectional study among university students in France, 2009–2011. BMC Public Health, 13(1), 724. https://doi.org/10.1186/1471-2458-13-724
Telaumbanua, K., et al. (2024). The Influence of Academic Loadon Students’ Mental Health.
Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(2). https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/18184
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda