Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Mengenal Styphelia javanica, Semak Xerofit yang Mampu Bertahan di Tengah Kekeringan Savana Bromo

  2. Ketika Ilmu Kehilangan Adab: Pentingnya Pendidikan Akhlak Sejak Usia Dini dalam Tradisi Pesantren

  3. Mahasiswa UNAIR Kembangkan Merchandise untuk Delapan Museum di Surabaya, Dorong Inovasi Promosi Wisata Sejarah

  4. Tim Fakultas Vokasi UM Dampingi Penataan Desain Interior untuk Memperkuat Identitas Institusi

  5. Menjadi Guru yang Pintar "Ngegas" dan "Ngerem": Seni Menjaga Keseimbangan di Ruang Kelas

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ketika Kekuasaan Terlalu Nyaman: Membaca Ulang Makna Kepemimpinan Indonesia

Ketika Kekuasaan Terlalu Nyaman: Membaca Ulang Makna Kepemimpinan Indonesia

Foto profil Rina Maharani
Editor: Rina Maharani
27 September 2026, 19.00 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
27 Sep 2026, 19.00 WITA · 5 menit baca
5 menit baca
Ketika Kekuasaan Terlalu Nyaman

Oleh: Ervin Sandri
Mahasiswa DIKLAT-PIM UIN Imam Bonjol Padang

JurnalPost.com - Ada sebuah paradoks besar dalam perjalanan demokrasi Indonesia hari ini. Di satu sisi, bangsa ini memiliki institusi politik yang semakin matang, pemilu yang terus berlangsung, serta pergantian kekuasaan yang relatif berjalan damai. Namun, di sisi lain, muncul kegelisahan yang semakin terasa di tengah masyarakat: mengapa jarak antara pemimpin dan rakyat seolah semakin lebar?

IKLAN

Pertanyaan itu bukan sekadar lahir dari perdebatan politik di ruang digital. Ia tumbuh dari pengalaman sehari-hari masyarakat yang menghadapi kenaikan harga kebutuhan, lapangan kerja yang belum sepenuhnya menjanjikan, pelayanan publik yang masih berbelit, serta berbagai persoalan sosial yang terus berulang tanpa penyelesaian mendasar.

Kepentingan Politik
Baca Juga

Antara Kepentingan Rakyat dan Kepentingan Politik: Untuk Siapa Sebenarnya Kekuasaan Bekerja?

Masalah terbesar dalam kepemimpinan bukan hanya soal apakah seorang pemimpin memiliki kekuasaan, tetapi apakah kekuasaan itu masih memiliki hubungan batin dengan rakyat yang memberikannya.

Kekuasaan, apabila tidak dikawal oleh kesadaran moral, mudah berubah menjadi ruang yang terlalu nyaman bagi mereka yang berada di dalamnya. Seorang pemimpin dapat terjebak dalam lingkaran pujian, laporan keberhasilan, dan narasi pencitraan yang pada akhirnya membuatnya lupa bahwa realitas masyarakat tidak selalu sama dengan laporan yang tersaji di atas meja.

Di sinilah salah satu tantangan terbesar kepemimpinan modern Indonesia: membedakan antara keberhasilan yang terlihat dan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Pembangunan gedung, jalan, investasi, serta berbagai program pemerintah tentu merupakan bagian penting dari kemajuan negara. Namun, pembangunan yang sejati tidak hanya diukur dari apa yang tampak secara fisik, melainkan juga dari sejauh mana masyarakat merasakan perubahan dalam kehidupan mereka.

Rivaldy Raffi Ramadhani
Baca Juga

Birokrasi Seharusnya Memudahkan, Bukan Justru Menambah Beban Masyarakat dalam Mengurus Pelayanan Publik

Seorang petani ingin hasil panennya dihargai secara layak. Seorang pekerja ingin memperoleh penghidupan yang memadai. Seorang mahasiswa ingin memiliki masa depan yang jelas. Masyarakat desa ingin negara hadir bukan hanya ketika suara mereka dibutuhkan dalam kontestasi politik.

Kepemimpinan tidak boleh berhenti pada angka statistik. Di balik setiap angka terdapat manusia dengan harapan, kecemasan, dan perjuangannya masing-masing.

Bahaya Ketika Pemimpin Kehilangan Ruang Mendengar

Salah satu penyakit klasik kekuasaan adalah hilangnya kemampuan untuk mendengar.

Ketika seseorang terlalu lama berada di sekitar orang-orang yang selalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, ia berisiko kehilangan kemampuan membaca kenyataan. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa banyak pemimpin menghadapi krisis bukan karena kekurangan kekuasaan, melainkan karena gagal memahami suara masyarakat.

roki gerunn
Baca Juga

Dari Pengkritik Menjadi Penasihat: Menguji Independensi Rocky Gerung di Wantimpres

Pemimpin yang kuat bukanlah pemimpin yang tidak pernah dikritik. Sebaliknya, keberanian menerima kritik merupakan salah satu tanda bahwa seorang pemimpin memahami makna demokrasi.

Demokrasi bukan sekadar ritual lima tahunan untuk memilih pemimpin. Demokrasi juga merupakan budaya keterbukaan, ketika pemerintah bersedia diuji, dikritik, dan dikoreksi.

Dalam beberapa tahun terakhir, ruang kritik publik tidak jarang berubah menjadi arena penuh ketegangan. Perbedaan pandangan politik mudah berkembang menjadi konflik identitas. Kritik terhadap kebijakan pun terkadang dipersepsikan sebagai serangan terhadap pribadi.

IKLAN

Akibatnya, ruang yang seharusnya dapat digunakan masyarakat untuk berdiskusi secara sehat mengenai masa depan bangsa justru menyempit.

Padahal, negara yang kuat bukanlah negara yang seluruh masyarakatnya memiliki pandangan yang sama. Negara yang kuat adalah negara yang mampu mengelola perbedaan tanpa menjadikan perbedaan tersebut sebagai ancaman.

Pemimpin Bukan Sekadar Penguasa

Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Bangsa ini memiliki banyak tokoh dengan pendidikan tinggi, pengalaman panjang, serta kemampuan administratif yang baik. Namun, kepemimpinan bukan semata-mata persoalan kecerdasan teknis.

Pemimpin juga membutuhkan kebijaksanaan.

Kecerdasan dapat membuat seseorang mampu menyusun strategi, tetapi kebijaksanaan membuat seseorang memahami dampak setiap keputusan terhadap kehidupan manusia.

Seorang pemimpin tidak hanya perlu bertanya, “Apa yang dapat saya bangun?”, tetapi juga, “Siapa yang akan memperoleh manfaat dari pembangunan ini?”

Tidak semua kebijakan yang terlihat besar memiliki dampak besar bagi masyarakat. Sebaliknya, keputusan yang tampak sederhana tetapi menyentuh kebutuhan dasar rakyat sering kali memiliki arti yang jauh lebih mendalam.

Pada akhirnya, ukuran kepemimpinan bukanlah seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, melainkan seberapa besar manfaat yang ditinggalkan.

Indonesia Membutuhkan Kepemimpinan yang Rendah Hati

Indonesia tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu berbicara tentang keberhasilan. Bangsa ini juga membutuhkan pemimpin yang berani mengakui kekurangan.

Mengakui adanya masalah bukanlah tanda kelemahan. Justru dari pengakuan terhadap persoalan itulah proses perbaikan dapat dimulai.

Pemimpin yang rendah hati akan selalu menyadari bahwa pekerjaannya belum selesai. Ia tidak cepat puas dengan tepuk tangan, sebab memahami bahwa di luar ruang kekuasaan masih banyak masyarakat yang menunggu keadilan, kesempatan, dan kehidupan yang lebih baik.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat seorang pemimpin hanya karena banyaknya slogan yang pernah diucapkan. Sejarah akan melihat bagaimana kekuasaan digunakan dan bagaimana rakyat diperlakukan ketika seseorang memegang kewenangan.

Indonesia hari ini membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya hadir di atas panggung, tetapi juga hadir dalam kehidupan masyarakat. Kepemimpinan yang tidak sekadar melihat rakyat sebagai angka dalam survei, melainkan sebagai manusia yang memiliki martabat.

Sebab, pada dasarnya kekuasaan bukanlah hadiah untuk menikmati keistimewaan. Kekuasaan adalah amanah untuk menyelesaikan persoalan.

Ketika seorang pemimpin mulai lupa bahwa kursi yang didudukinya bersumber dari kepercayaan rakyat, pada saat itulah makna demokrasi mulai dipertaruhkan.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/ketika-kekuasaan-terlalu-nyaman-membaca-ulang-makna-kepemimpinan-indonesia/97876/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 07 November 2026, 16.32 WITA

  • #Demokrasi
  • #Indonesia
  • #Masyarakat
  • #Pemerintahan
  • #kebijakan publik
  • #kekuasaan
  • #kepemimpinan
  • #kritik sosial

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Menyelamatkan Satu Kehidupan, Menyalakan Sejuta Harapan: Memaknai Pengabdian Kemanusiaan

Mengokohkan Seni dan Budaya sebagai Bahasa Kemanusiaan Universal untuk Membangun Solidaritas Dunia

Mengapa Transparansi Dana Penting bagi Organisasi Mahasiswa?

Merawat Payung Enam Warna: Menjaga Persatuan di Tengah Keberagaman Batak

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Tim Abdimas FH UPNVJ Edukasi Hukum Waris dan Perlindungan Lansia di GKPI Tangerang

Bagaimana SerpNames Membantu Pembeli Menemukan Koleksi Aged Domain Terbaru

Dosen UMI Perkuat Peran Bidan dalam Mencegah Stres Kehamilan melalui Edukasi Psikososial di Makassar

Dosen PIAUD UIN Jurai Siwo Lampung Dampingi 116 Guru RA Terapkan Kurikulum Berbasis Cinta untuk Penguatan Karakter Anak

Pilihan Editor

  1. 1 Nasabah Aninda Apresiasi Pelayanan BRI Cabang Bojonegoro, Transaksi Makin Mudah dan Nyaman
  2. 2

    Mantan Kanit Lantas Polsek Sedayu, Sunaryo Resmi Dilantik Jadi Lurah Argorejo Bantul

  3. 3

    Di Balik Papan Tulis, Ada Perjuangan Memahami Setiap Anak: Potret Pembelajaran di SDN Ciptaharja

  4. 4

    HUT ke-58, Semen Tonasa Gandeng BULOG Sediakan 580 Paket Sembako Murah di Pangkep

  5. 5

    Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.