JurnalPost.com - Peristiwa yang menimpa 172 peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dalam kegiatan pra-pendidikan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya bukan sekadar kabar tentang dugaan keracunan makanan.
Dari 289 peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, lebih dari separuh dilaporkan mengalami keluhan seperti mual, muntah, dan pusing. Sebagian bahkan harus mendapatkan penanganan medis. Investigasi terhadap penyebab kejadian masih berlangsung, sementara sampel makanan diperiksa oleh sejumlah lembaga terkait untuk mengetahui sumber pasti gangguan kesehatan tersebut.
Namun, di balik peristiwa itu terdapat ironi yang sulit diabaikan.
Mereka yang menjadi korban bukan kelompok yang asing terhadap persoalan kesehatan. Para peserta merupakan calon dokter spesialis yang dalam pendidikan dan pekerjaannya bersentuhan langsung dengan ilmu penyakit, pencegahan infeksi, higiene, sanitasi, hingga keselamatan pasien.
Ketika kelompok yang memahami risiko kesehatan justru menjadi korban dalam sebuah kegiatan yang terorganisasi, persoalannya tidak lagi cukup dilihat sebatas siapa yang memasak atau makanan apa yang dikonsumsi. Pertanyaan yang lebih besar adalah: seberapa kuat sistem keamanan pangan yang diterapkan dalam kegiatan institusional?
Dalam ilmu sanitasi, keamanan pangan tidak ditentukan oleh tampilan makanan yang menarik, aroma yang normal, atau rasa yang lezat. Pangan dinyatakan aman apabila terlindungi dari kontaminasi biologis, kimia, maupun fisik.
Dari berbagai faktor tersebut, kontaminasi biologis merupakan salah satu ancaman utama dalam kejadian keracunan pangan secara massal.
Sejumlah bakteri patogen, seperti Salmonella spp., Escherichia coli patogen, Shigella spp., Campylobacter jejuni, Bacillus cereus, hingga Staphylococcus aureus dapat memicu gangguan pencernaan pada banyak orang dalam waktu relatif singkat.
Sebagian mikroorganisme bahkan mampu menghasilkan toksin di dalam makanan sebelum makanan tersebut dikonsumsi. Dalam kondisi tertentu, keluhan seperti mual dan muntah dapat muncul beberapa jam setelah makan.
Kontaminasi juga dapat terjadi akibat proses penyimpanan makanan yang tidak memenuhi persyaratan suhu sehingga memberi kesempatan bagi mikroorganisme berkembang dalam jumlah besar.
Ancaman bukan hanya berasal dari bakteri. Virus seperti norovirus juga dikenal dapat menyebabkan wabah gastroenteritis. Penularannya dapat terjadi melalui makanan yang terkontaminasi, termasuk apabila makanan disentuh atau dipersiapkan oleh penjamah makanan yang sedang terinfeksi.
Karena itulah, dalam perspektif kesehatan lingkungan terdapat prinsip penting: food safety is system safety.
Keamanan pangan bukan persoalan keberuntungan. Keamanan pangan merupakan hasil dari sebuah sistem yang bekerja secara konsisten, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, transportasi, sampai makanan disajikan dan dikonsumsi.
Satu Titik Lemah Bisa Berdampak pada Ratusan Orang
Peristiwa yang dialami peserta PPDS Unair memperlihatkan bagaimana satu titik kegagalan dalam rantai penyediaan makanan berpotensi menimbulkan dampak luas.
Kontaminasi dapat terjadi pada tahap pengolahan. Namun, risiko juga dapat muncul ketika makanan dikemas, diangkut, disimpan terlalu lama pada suhu yang tidak tepat, atau disajikan dengan prosedur higiene yang kurang baik.
Hal inilah yang membuat kasus keracunan makanan sering sulit dikenali hanya dengan melihat kondisi fisik makanan. Makanan dapat terlihat normal, tidak berbau, bahkan memiliki rasa yang tidak berbeda dari biasanya, tetapi tetap dapat mengandung mikroorganisme atau toksin yang berbahaya.
[DRAF KUTIPAN – WAJIB DIKONFIRMASI KEPADA NARASUMBER SEBELUM TAYANG]
Menurut dr. Tedy Hartono, SH, MCS, kasus seperti ini harus menjadi pengingat bahwa keamanan pangan pada kegiatan yang melibatkan banyak peserta tidak dapat hanya bergantung pada reputasi atau administrasi penyedia makanan.
“Keamanan makanan harus dilihat sebagai sebuah sistem dari hulu sampai hilir. Memastikan vendor memiliki izin atau sertifikasi saja belum cukup. Proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, suhu makanan, hingga cara penyajiannya harus dapat diawasi dan ditelusuri. Ketika satu mata rantai gagal, dampaknya dapat mengenai banyak orang dalam waktu yang hampir bersamaan,” ujar dr. Tedy Hartono, SH, MCS.
Kejadian tersebut menjadi semakin penting diperhatikan karena berlangsung di lingkungan akademik dan rumah sakit, dua institusi yang semestinya menjadi contoh dalam penerapan standar kesehatan dan keselamatan.
Jika peristiwa seperti ini dapat muncul dalam komunitas medis yang terorganisasi, terdapat alasan kuat untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap keamanan pangan di lingkungan lain dengan sistem pengawasan yang mungkin lebih terbatas, mulai dari sekolah, pesantren, panti sosial hingga kegiatan masyarakat yang melibatkan konsumsi makanan dalam jumlah besar.
Sertifikasi Vendor Tidak Boleh Menjadi Formalitas
Dalam perspektif manajemen risiko, insiden semacam ini seharusnya menjadi alarm untuk memperkuat sistem audit keamanan pangan.
Sertifikasi dan kelengkapan administrasi vendor merupakan bagian penting, tetapi keduanya bukan jaminan tunggal bahwa makanan yang sampai kepada konsumen pasti aman.
Pengawasan perlu mencakup kondisi bahan makanan, kebersihan tempat pengolahan, higiene penjamah makanan, suhu penyimpanan, cold chain untuk bahan tertentu, durasi antara proses memasak dan penyajian, hingga dokumentasi distribusi.
Sistem juga harus memiliki mekanisme respons cepat.
Ketika beberapa orang yang mengonsumsi makanan yang sama mulai menunjukkan gejala serupa dalam rentang waktu berdekatan, informasi tersebut seharusnya segera memicu prosedur investigasi dan penanganan. Sisa makanan perlu diamankan sebagai sampel, data peserta yang mengonsumsi makanan harus dikumpulkan, dan distribusi makanan dari sumber yang sama perlu dihentikan sementara apabila masih berlangsung.
Prinsip ini bukan untuk mencari pihak yang dapat disalahkan secepat mungkin, tetapi untuk mencegah jumlah korban bertambah sekaligus membantu investigasi menemukan sumber kejadian secara objektif.
Pencegahan Harus Menjadi Budaya
Peristiwa ini sekaligus mengingatkan bahwa dunia kesehatan tidak boleh hanya berorientasi pada kemampuan mengobati setelah seseorang sakit.
Salah satu indikator penting sistem kesehatan modern justru terletak pada kemampuannya mencegah kejadian yang sebenarnya dapat dihindari.
Dalam kasus keamanan pangan, teknologi medis yang canggih dan kemampuan klinis yang tinggi tetap harus berjalan bersama prinsip sanitasi paling mendasar: tangan yang bersih, bahan makanan yang aman, suhu yang tepat, penyimpanan yang benar, serta rantai distribusi yang terkontrol.
Pelajaran terbesar dari kasus ini bukan semata-mata bahwa 172 calon dokter dilaporkan mengalami dugaan keracunan makanan.
Pelajaran yang jauh lebih penting adalah bahwa pengetahuan tanpa disiplin sistem tidak selalu mampu melindungi manusia dari risiko kesehatan.
Dalam sanitasi, kesalahan yang terlihat sederhana dapat berdampak kepada puluhan bahkan ratusan orang.
Karena itu, kejadian ini semestinya menjadi momentum evaluasi bersama bagi rumah sakit, institusi pendidikan, penyedia katering, regulator, dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan dengan konsumsi massal.
Hasil investigasi tentu harus ditunggu sebelum menetapkan penyebab maupun pihak yang bertanggung jawab. Namun, perbaikan sistem keamanan pangan tidak harus menunggu munculnya korban berikutnya.
Sebab keselamatan pangan, sebagaimana keselamatan pasien, tidak boleh bergantung pada keberuntungan.
Keselamatan harus dijamin oleh sistem yang bekerja setiap saat, bahkan ketika semua orang merasa berada dalam kondisi aman.
Penulis: Anggota Tim Analisis ISC (IKA Lemhannas Strategic Center)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda