JURNALPOST - Akhir-akhir ini berita Indonesia digemparkan lagi oleh adanya aksi terorisme atau yang biasa dikenal dengan aksi bom bunuh diri di Indonesia. Aksi Radikalisme ini baru saja terjadi pada hari minggu (28/3/2021) di depan Gereja Katedral Makassar.
Kabar kejadian ini menyebar cepat lewat berita dan media sosial. Ledakan yang terjadi termasuk ledakan high explosive atau ledakan besar. Untungnya tidak ada korban jiwa dalam ledakan ini tetapi ada 14 korban yang perlu perawatan karena luka-luka. Pada kasus ini dugaan motif pelaku ialah balas dendam karena mentornya terbunuh. Tapi apakah dasar motif terorisme ini selalu berdasarkan balas dendam? Mari kita lihat kasus-kasus terorisme lainnya dan mencari tau motif dasar para terorisme ini.
Kasus pertama terorisme di Indonesia terjadi pada tahun 1981 yang terjadi pada sebuah maskapai penerbangan yang dibajak oleh 5 orang teroris yang menyamar sebagai penumpang. Mereka bersenjata mesin dan granat, dan mengaku sebagai anggota komando jihad. Lalu diikuti tahun 1985, 2000-2005, 2009-2013, 2016 hingga sekarang. Sebagian besar mereka mengaku melakukan aksi ini dikarenakan jihad dan mengatas namakan Islam.
Dari sini kita bisa melihat bahwa hampir setiap tahunnya terorisme di indonesia terjadi. Dan juga dari berita-berita ini kita juga bisa melihat dasar motif dari aksi terorisme ini adalah jihad fi sabilillah yang berarti berjuang di jalan Allah bisa seperti berperang, berdakwah, dan memiliki artian yang lebih luas lagi.
Jika kita mendalami lagi kasus ini kita dapat melihat adanya motivasi dalam tindakan terorisme. Yang mana motivasi adalah proses internal dalam diri manusia yang mengarahkan terciptanya perilaku yang menjadi sebab seseorang melakukan sebuah tindakan. Tetapi, dalam kajian ini motivasi yang tumbuh ini menghasilkan perilaku yang menyimpang karena adanya bias dan salah paham terhadap arti jihad fi sabilillah ini.
Kebanyakan para teroris ini masuk kedalam organisasi masyarakat yang bersifat radikal, bahkan sebagian dari mereka adalah anggota ISIS yang memiliki pemahaman ataupun menganut paham bahwa salah satu cara jihad ini adalah dengan melakukan aksi bom bunuh diri di tempat-tempat ramai.
Dengan salahnya tafsiran jihad ini timbullah motivasi-motivasi berperang layaknya zaman Nabi Muhammad SAW. Padahal jika kita melihat lebih jauh lagi ke masa sekarang jihad kita itu lebih ke nafsu dan perang pemikiran yang diciptakan oleh lawan kita, yang mana seharusnya kita lawan dengan menjaga ibadah dan menambah wawasan agama, bukan lagi berperang membunuh orang-orang kafir.
Dalam sebuah wawancara di kompas tv, Ali Imron seorang mantan teroris mengatakan bahwa hanya butuh 2 jam untuk memotivasi orang menjadi teroris. Cara yang digunakan beliau ini adalah dengan membelokkan sedikit ajaran tentang pemahaman jihad, lalu korban-korbannya ini dapat termotivasi untuk melakukan aksi bom bunuh diri dengan cepat, yaitu hanya dengan berbincang dan bertukar pendapat. Sungguh besar bukan keajaiban sebuah percakapan dan motivasi dalam diri berperan? Tentunya para aksi terorisme ini sudah dibekali dengan ilmu-ilmu dasar tentang jihad, jadi tidak perlu lama bagi mereka untuk terhasut dalam aksi-aksi seperti ini.
Salah satu tokoh pencetus teori humanistik: Maslow beranggapan kuat bahwa motivasi mempengaruhi keseluruhan orang bahkan motivasi tersebut utuh, sering kali tidak disadari, berlangsung terus menerus, dan berlaku pada semua orang. Para Teroris ini pastinya memiliki motivasi yang sangat kuat hingga rela berkorban demi diri sendiri dan agamanya.
Bahkan, mereka tidak sadar akan aksi yang mereka lakukan sangatlah salah. Mungkin mereka tidak menyadarinya karena keputusan dan tekad mereka sudah bulat yang pasti dipengaruhi oleh motivasi yang besar dengan menganggap mereka bisa mati syahid dan mendapatkan surga Allah.
Dari banyaknya kasus-kasus terorisme seperti ini kita bisa melihat bahwa pemahaman yang salah dan motivasi yang besar dapat mewujudkan sesuatu yang fatal bagi diri sendiri maupun lingkungan kita. Dan juga kita bisa melihat bahwa pemerintah masih kurang dalam mencegah kasus-kasus seperti ini untuk terjadi lagi karena setiap tahunnya masih sering terjadi dan memakan banyak korban.
Seperti mencoba bersosialisasi mengenai organisasi masyarakat yang bersifat radikal dan memberikan pemahaman agama yang benar kepada masyarakat. Karena tidak sedikit para teroris yang termotivasi melakukan aksi bom bunuh diri ini karena marah dan kesal pada pemerintahan Indonesia yang tidak menomorsatukan islam di Indonesia, seperti menetapkan peraturan berdasarkan alquran dan hadist padahal Indonesia adalah negara dengan muslim terbanyak di dunia.
Oleh: Farah Meutia/Mahasiswa Psikologi Universitas Syiah Kuala
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda