Oleh: Achmad Nur Syamsi Romadhoni (Mahasiswa Ilmu Komunikasi)
JurnalPost.com - Di balik gemerlap panggung dan mempesona penampilan BLACKPINK, terdapat kekuatan tak terlihat yang bekerja tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Menyuguhkan penampilan megah, koreografi yang sempurna, hingga memberikan lagu yang catchy bukanlah sekedar hiburan semata, melainkan sebuah proses hegemoni budaya yang membentuk cara pandang kita dalam memandang idola, kesuksesan, bahkan cara memandang diri kita sendiri yang dibentuk oleh industri hiburan musik. Sebagaimana BLINK, sebutan bagi penggemar BLACKPINK yang menunjukkan loyalitas yang tinggi terhadap idolanya, hal ini sering dipandang sebagai wujud kesetiaan yang kemudian berkembang menjadi fanatisme. Namun, benarkah fanatisme muncul dari pilihan yang bebas? Atau sebuah hasil dari proses hegemoni budaya dan kapitalisme global?
Melalui pengaruh media, industri hiburan, hingga kapitalisme global, BLACKPINK dihadirkan bukan hanya sebagai grup musik, tetapi sebagai simbol ikon ideal dari perempuan modern yang kuat, mandiri, cantik, bergaya glamor, dan sukses di kancah nasional maupun internasional. Citra tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan diproduksi dan dibentuk secara sistematis oleh YG Entertainment yang merupakan agensi dari BLACKPINK. YG Entertainment mengontrol penuh atas penampilan, genre lagu, hingga narasi publik para member BLACKPINK. Strategi pemasaran yang masif dan terorganisir inilah yang membentuk cara berpikir, rasa, dan tindakan dari para penggemar BLINK, dan pada akhirnya menciptakan kekuasaan ideologis yang terlihat “wajar” padahal dikendalikan oleh hegemoni budaya dan kapitalisme global.
Menurut Antonio Gramsci (1971) dalam buku Selections from the Prison Notebooks, inilah yang disebut hegemoni dimana kekuasaan tidak hanya dijalankan melalui paksaan atau kekuatan, melainkan dominasi kelompok atas kesadaran publik melalui penciptaan nilai dan makna yang dianggap “normal” dan tidak memaksa secara fisik, tetapi berhasil menanamkan nilai-nilai melalui persetujuan dari publik. Kesetiaan para BLINK kepada idolanya BLACKPINK terjadi tanpa adanya paksaan dari pihak manapun karena mereka melakukan semua dengan niat dan kemauan dari diri mereka sendiri.
Diskursus Media dan Produksi Makna Dalam Media Cultural Studies, media tidak hanya digunakan untuk menyalurkan informasi, tetapi juga sebagai alat produksi makna yang membentuk cara pandang kita terhadap realitas sosial (Stuart Hall, 1980). Diskursus media sendiri adalah bagaimana cara media mendefinisikan dan membentuk identitas, nilai, serta norma sosial yang seolah-olah “alami” padahal itu merupakan hasil konstruksi budaya. BLINK akhirnya terpengaruh dengan tanpa sadar ikut menyebarkan dan membuat mereka berada dalam lingkup hegemoni budaya. Media sosial menjadi alat utama dalam penyebaran diskursus ini, mulai dari Instagram, YouTube, TikTok, dan Twitter. Melalui platform tersebut, BLINK terus membuat dan mengunggah konten-konten menarik seperti fan edit, dance challenge dengan mengcosplay busana pada music video mereka yang dapat memperkuat serta meningkatkan citra dari BLACKPINK.
Disitulah diskursus media berperan, mulai dengan membentuk narasi dominan tentang BLACKPINK dan bagaimana cara menjadi penggemar yang “setia” bahkan membuatnya menjadi penggemar yang fanatik. BLINK menjadikan BLACKPINK sebagai simbol dalam representasi, terlihat dari bagaimana mereka menjadikannya sebagai standar kecantikan dan tolak ukur keberhasilan. Kecenderungan BLINK yang meniru BLACKPINK dengan mengikuti penampilan atau bahkan gaya hidup menjadi bukti nyata bagaimana kesetiaan dapat berubah menjadi fanatisme yang tampak wajar, padahal itu semua telah dibentuk secara sistematis yang tidak memaksa, disinilah hegemoni bekerja secara efektif.
Identitas dan Representasi Citra dari BLACKPINK yang ditampilkan sebagai perempuan yang mandiri, pekerja keras, dan bergaya hidup mewah serta glamor memperlihatkan bagaimana representasi gender dan ras bekerja secara hegemonik. Tak hanya dijadikan sebagai idola, BLACKPINK justru direpresentasikan sebagai beauty influence yang menjadi standar kecantikan perempuan saat ini terutama pada kalangan penggemar K-pop. BLACKPINK selalu dibalut dengan barang mewah dan eksklusif yang dipamerkan ke publik yang seolah-olah itu merupakan bagian dari perjalanan karier yang mereka bangun selama ini. Padahal dibalik semua itu terdapat perjuangan yang mereka lakukan seperti merelakan masa remajanya untuk latihan selama bertahun-tahun tanpa adanya kebebasan.
Gaya hidup BLACKPINK yang menciptakan jarak sosial antara idola dan penggemar bukan menjadi penghalang bagi mereka. Banyak BLINK yang justru berlomba-lomba untuk meniru gaya hidup mereka agar dapat merasakan kedekatan dengan idolanya dan dapat meningkatkan identitas sosialnya. Padahal, gaya hidup tersebut tidak harus diikuti karena tidak semua penggemar berada dalam posisi ekonomi yang sama. Dalam hal ini, BLINK secara tidak sadar ikut memperkuat sistem yang menempatkan mereka untuk selalu mengikuti trend dan membeli produk yang dijual seperti lightstick, baju, hingga tiket konser.
Aspek Emansipatoris dan Potensi Perubahan Sosial Dalam bukunya The Practice of Everyday Life, Michel de Certeau (1984) mengungkapkan “Consumption is a form of production” yang bisa diartikan bahwa penggemar mengkonsumsi dari apa yang di produksi. Namun, mereka juga bisa mengolah dan memilah dari apa yang ingin mereka konsumsi. Dalam konteks penggemar, BLINK dapat memberikan kritik terhadap agensi BLACKPINK dengan mengirim truk protes di depan gedung YG Entertainment. BLINK juga kerap kali membuat fan project yang bertujuan untuk mendukung kesehatan idolanya, dengan memberikan komen positif di setiap postingan atau mengirimkan truk makanan saat mereka melakukan sebuah kegiatan. Dengan cara ini mereka mengkonsumsi dengan menjadikan ruang kreatif yang dimana budaya populer bisa menjadi alat emansipasi, yang dapat merubah potensi sosial. Sejalan dengan makna Paulo Freire (1970), yaitu ketika individu mulai memahami struktur penindasan dan bergerak untuk mengubahnya.
Sebagai penggemar, menjadi seorang yang kritis bukan berarti berhenti mengidolakan dan tidak mengapresiasi kinerja idola. Namun, hal itu justru menjadikan kita memahami serta menyadari bahwa sebuah kesetiaan yang berubah menjadi sifat fanatik adalah sebuah hal yang dibentuk oleh perusahaan lewat media. Pada akhirnya kita beranggapan bahwa hal tersebut merupakan sebuah hal yang ”wajar” padahal merupakan hasil dari kontruksi ideologis yang dibentuk lewat hegemoni budaya. BLINK sebagai komunitas yang besar memiliki potensi untuk melakukan perubahan sosial yang dapat menciptakan ruang aman dan meningkatkan suportifitas antar penggemar. Dengan menyadari bahwa fanatisme bukan sesuatu yang ”wajar” melainkan dibentuk dan diproduksi oleh sistem, maka penggemar dapat mencintai idola mereka dengan sadar, rasional, dan juga berpikiran kritis.
Daftar Pustaka Gramsci, A. (1971). Selections from the Prison Notebooks (Q. Hoare & G. Nowell Smith, Eds. & Trans). New York: International Publishers. Hall, S. (1980). Encoding/Decoding. In Culture, Media, Language. London: Routledge. Anggorosuryo, I., Berto, A. R., & sri eko, berta. (2024). Menganalisis Jaringan Sosial Penggemar Blackpink Saat Konser di Jakarta. Jurnal Komunikasi Profesional, 8(1), 128-150. Dwi, A., Azkiyah, Idila Elshyfa, & M.Nurwanto. (2024). Pengaruh Harga, Lokasi Dan Fanatisme Terhadap Minat Pembelian Tiket Konser Blackpink Di Stadion Gelora Bung Karno. JEMSI (Jurnal Ekonomi, Manajemen, Dan Akuntansi), 10(2), 846-859. De Certeau, M. (1984). The Practice of Everyday Life. Berkeley: University of California Press. Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda