
JurnalPost.com - Di sebuah desa di Kabupaten Malang, aroma gurih kerupuk singkong yang tengah dijemur masih setia menyambut pagi. Dari dapur sederhana, “Mbah RAN” telah puluhan tahun menjaga warisan kuliner tradisional ini. Dengan tangan terampil, ia mengiris singkong, meracik bumbu, lalu mengeringkannya menjadi camilan renyah yang tak pernah kehilangan penggemar. Namun di balik ketekunannya, ada satu harapan sederhana: agar usahanya bisa lebih maju, dikenal lebih luas, dan memberi manfaat lebih besar bagi orang-orang di sekitarnya.
Harapan itu mulai menemukan jalan saat dua dosen Universitas PGRI Kanjuruhan Malang, Amak Yunus Eko Prasetyo, M.Kom., dan Dr. Riski Nur Istiqomah Dinnullah, M.Pd., serta dosen Politeknik Unisma Malang Shafiq Nurdin, S.T., M.T. hadir lewat Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada tahun 2025.
Para dosen tersebut tak hanya datang membawa teori semata, melainkan terobosan nyata, yaitu mesin pengiris adonan kerupuk singkong otomatis, dan oven pengering. Tidak hanya itu saja, mereka juga memberikan pelatihan pemasaran digital, hingga desain kemasan yang lebih menarik.

Bagi Mbah RAN, inovasi itu ibarat “angin segar” bagi usahanya. Produksi harian yang dulu terbatas, kini melonjak hingga 30 persen. Pekerjaan yang biasanya menguras tenaga kini jauh lebih ringan. Lebih mengejutkan lagi, kerupuk singkongnya yang semula hanya dijual di pasar desa kini mulai dipesan lewat aplikasi belanja daring. “Saya dulu tidak pernah membayangkan bisa jualan lewat HP. Sekarang, ada pesanan dari luar desa bahkan luar kota,” ujarnya sambil tersenyum bangga.
Tak hanya soal produksi, kemasan baru dengan label “Kerupuk Singkong Mbah RAN” membawa nuansa berbeda. Dari plastik polos yang sederhana, kini tampil lebih modern dengan informasi gizi dan logo halal. Konsumen pun menyebut tampilannya “keren” dan setara dengan produk toko modern. “Kemasan ini membuat saya percaya diri, produk kami tidak kalah dengan yang ada di supermarket,” kata Mbah RAN.
Bagi para dosen pendamping, keberhasilan ini adalah bukti bahwa sinergi antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal mampu melahirkan inovasi yang tepat guna. “Kami datang guna menambahkan teknologi dan mengembangkan strategi yang sesuai kebutuhan mereka dalam mengembangkan usaha,” jelas Amak Yunus.

Ke depan, program ini tak berhenti di mesin atau kemasan saja. Ada rencana pendampingan untuk pengurusan izin PIRT dan sertifikasi halal, agar “Kerupuk Singkong Mbah RAN” bisa masuk pasar modern dan bahkan menembus peluang ekspor. Dr. Riski menambahkan, “Inilah wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kampus hadir bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga di tengah masyarakat, membantu ekonomi kerakyatan agar tumbuh berkelanjutan.”
Kini, di balik setiap renyah kerupuk singkong yang digoreng hangat, ada cerita baru: tentang inovasi dari desa, tentang UMKM yang berani naik kelas, dan tentang semangat kolaborasi antara masyarakat dan akademisi. Kerupuk singkong Malang pun tak lagi sekadar camilan, melainkan simbol perubahan dan kebanggaan lokal yang berpotensi mendunia.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda