Oleh : Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A., Regina Ayu Puspita
JurnalPost.com - Kebun binatang bukan sekadar tempat hiburan, melainkan lembaga multifungsi yang menyatukan aspek konservasi, edukasi, penelitian, dan rekreasi. Di Indonesia, Kebun Binatang Surabaya menempati posisi istimewa karena sejarah panjangnya serta lokasinya yang berada di pusat kota besar. Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesejahteraan hewan dan pelestarian lingkungan, kebun binatang dituntut untuk bertransformasi menjadi ruang pembelajaran ekologis yang modern dan bertanggung jawab.
KBS didirikan pada awal abad ke-20, tepatnya tahun 1916, atas prakarsa H.F.K. Kommer. Pada masa kolonial, lembaga ini menjadi pusat hiburan sekaligus representasi eksotisme alam Hindia Belanda. Sejak kemerdekaan, pengelolaan KBS berpindah tangan kepada pemerintah Indonesia. Pada dekade 1970-an hingga awal 2000-an, KBS dikenal sebagai salah satu kebun binatang dengan koleksi satwa terbanyak di Asia Tenggara, mencakup berbagai spesies dari Indonesia dan mancanegara.
Namun, reputasi tersebut tidak lepas dari berbagai kontroversi, terutama terkait kondisi kandang, kesehatan satwa, serta manajemen internal. Banyak kritik publik mencuat yang mendorong pemerintah dan pengelola untuk melakukan reformasi mendasar terhadap tata kelola kebun binatang ini.
KBS memiliki fungsi utama sebagai lembaga konservasi ex-situ, yaitu pelestarian satwa di luar habitat aslinya. Satwa-satwa yang berada di ambang kepunahan seperti harimau sumatera, orangutan, komodo, dan jalak bali menjadi fokus penangkaran dan pelestarian. Melalui kerja sama dengan lembaga konservasi lainnya, KBS mencoba mempertahankan keberadaan spesies-spesies tersebut dengan program pembiakan yang terencana.
Sebagai contoh, jalak bali yang sempat hampir punah di habitat aslinya kini ditangkarkan dalam lingkungan aman dengan sistem monitoring yang ketat. Upaya ini sekaligus menjadi bentuk edukasi kepada publik mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan peran manusia dalam pelestarian satwa liar.
Selain sebagai lembaga konservasi, KBS juga memainkan peran strategis dalam menyebarkan pengetahuan tentang satwa dan lingkungan. Ribuan pelajar dari berbagai tingkatan datang setiap tahun untuk mengenal lebih dekat kehidupan satwa. Program edukasi yang ditawarkan mencakup tur berpemandu, workshop konservasi, pameran interaktif, dan papan informasi yang dikembangkan untuk menumbuhkan empati dan pemahaman ekologis.
KBS juga mulai merancang ulang fasilitas-fasilitasnya agar lebih mendukung pembelajaran. Misalnya, kandang satwa kini dirancang tidak hanya untuk keamanan, tetapi juga untuk menyerupai habitat alami sehingga pengunjung dapat mengamati perilaku satwa secara lebih autentik.
Kendati memiliki sejarah panjang dan potensi besar, KBS menghadapi sejumlah tantangan serius. Salah satunya adalah keterbatasan lahan dan anggaran yang berdampak pada kualitas perawatan satwa. Selain itu, faktor eksternal seperti perubahan iklim dan urbanisasi kota Surabaya menambah kompleksitas dalam pengelolaan kebun binatang ini.
Sebagai respons, pemerintah kota dan pengelola KBS mulai menerapkan pendekatan manajemen modern berbasis kesejahteraan satwa. Perbaikan kandang, peningkatan pelatihan staf, serta integrasi teknologi informasi dalam pengelolaan koleksi satwa menjadi bagian dari transformasi tersebut. KBS juga menggandeng institusi pendidikan tinggi untuk melibatkan mahasiswa dan peneliti dalam kegiatan konservasi dan pemantauan kesehatan satwa.
Untuk menyesuaikan dengan era digital, KBS mengembangkan aplikasi informasi satwa yang dapat diakses pengunjung melalui ponsel. Inovasi ini memungkinkan pengalaman kunjungan yang lebih interaktif dan informatif. Di sisi promosi, media sosial digunakan secara aktif untuk mengedukasi publik, berbagi cerita unik satwa, serta menyampaikan program-program terkini. Langkah ini menjadi penting dalam membentuk citra baru KBS sebagai kebun binatang yang progresif dan terbuka terhadap partisipasi publik.
Kesimpulan Kebun Binatang Surabaya telah melalui perjalanan panjang dari masa kolonial hingga era modern. Meski pernah menghadapi berbagai krisis, lembaga ini terus berbenah untuk menjawab tantangan zaman dan harapan masyarakat. Dengan mengedepankan konservasi, edukasi, dan inovasi, KBS memiliki peluang besar untuk menjadi kebun binatang urban yang tidak hanya ramah bagi satwa, tetapi juga mendidik dan menginspirasi masyarakat. Keberhasilan transformasi ini tentu memerlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan pengunjung sebagai pemangku kepentingan utama.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda