Oleh: Moch Rizal Rivky, Nizar Nabil Alifi Wildan, Nessa Aida Salwa, Fika Anjani
JurnalPost.com - Desa Karangdieng, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto dikenal sebagai salah satu sentra budidaya lele skala kecil. Sebagian besar masyarakatnya menggantungkan penghasilan dari sektor perikanan air tawar, khususnya pembesaran ikan lele. Lele dipilih karena mudah dibudidayakan, cepat panen, dan memiliki pasar yang cukup luas. Namun, dalam praktiknya, banyak peternak menghadapi kendala serius, terutama dalam hal biaya pakan yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Pakan komersial yang dijual di pasaran bisa mencapai harga Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per sak (30 kg). Dalam waktu dua hingga tiga minggu, satu sak pakan bisa habis, apalagi jika jumlah ikan cukup banyak. Akibatnya, biaya produksi membengkak, dan margin keuntungan menjadi sangat kecil. Tak jarang, peternak harus menjual ikan dalam kondisi belum ideal demi menutupi kebutuhan mendesak. Bahkan, ada yang memilih menghentikan usaha untuk sementara karena tak sanggup memenuhi biaya operasional.
Kondisi inilah yang menjadi latar belakang kami, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Sub Kelompok 5 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, untuk merancang sebuah program pemberdayaan peternak melalui inovasi pakan ikan campuran berbasis bahan organik lokal. Program ini tidak sekadar membagikan teori, tapi benar-benar mengajak peternak untuk praktik langsung di lapangan, mulai dari mengenal bahan baku, teknik pencampuran, hingga uji coba pemberian pakan ke ikan.
Bahan yang digunakan dalam formulasi pakan campuran ini sebagian besar merupakan bahan yang tersedia di sekitar desa, seperti dedak halus, ampas tahu, azolla, dan kulit singkong yang difermentasi. Untuk menjaga kandungan protein, pelet komersial tetap digunakan sebagai campuran sebesar 30%. Dengan komposisi seperti ini, peternak bisa menghemat pengeluaran hingga 35–40 persen, tanpa mengorbankan pertumbuhan ikan. Dari pengamatan kami selama kegiatan berlangsung, ikan tetap menunjukkan nafsu makan yang baik dan tidak ada gangguan kesehatan.
Selain pelatihan teknis, kami juga memperkenalkan peternak pada teknik fermentasi menggunakan mikroorganisme lokal (MOL). Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas bahan organik yang digunakan dalam campuran pakan. Proses fermentasi ini tidak hanya meningkatkan kandungan gizi, tetapi juga membantu menghilangkan bau dan memperpanjang masa simpan bahan pakan.
Respons masyarakat terhadap program ini sangat positif. Sebagian besar peserta pelatihan antusias mengikuti kegiatan hingga selesai. Beberapa di antaranya bahkan mulai mengembangkan azolla sendiri di pekarangan rumah sebagai langkah awal kemandirian pakan. Ini merupakan perubahan yang menggembirakan, karena menunjukkan adanya kesadaran dan inisiatif dari warga untuk terus mengembangkan inovasi yang telah diberikan.
Dari sisi lingkungan, program ini juga memberi dampak yang tidak kalah penting. Bahan-bahan organik yang sebelumnya menjadi limbah kini dimanfaatkan untuk sesuatu yang produktif. Ini membantu mengurangi sampah organik rumah tangga dan pertanian, sekaligus mendukung prinsip budidaya berkelanjutan yang ramah lingkungan.
Pengalaman di Desa Karangdieng menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus rumit dan mahal. Solusi sederhana, apabila tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi lokal, bisa menjadi pemicu perubahan besar. Apa yang kami lakukan hanyalah langkah kecil, tetapi kami percaya bahwa dari langkah kecil inilah kemandirian ekonomi masyarakat bisa mulai dibangun.
Kami berharap, program ini bisa terus dilanjutkan dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat. Lebih dari itu, kami juga berharap kegiatan ini bisa menjadi inspirasi bagi desa-desa lain yang memiliki permasalahan serupa, agar sektor perikanan rakyat bisa bertahan dan tumbuh di tengah tantangan ekonomi yang terus berubah.
*Penulis adalah mahasiswa KKN R26 (Sub Kelompok 5) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Tahun 2025
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda