SEKAYU, JurnalPost.com – Gambir bukan sekadar getah mentah. Di balik proses panjang sejak daun dipetik, direbus, diperas, diendapkan, hingga dikeringkan, tersimpan potensi ekonomi yang jauh lebih besar apabila komoditas ini mampu diolah menjadi produk bernilai tambah.
Upaya mendorong gambir agar tidak berhenti sebagai bahan mentah menjadi pembahasan utama dalam diskusi bertajuk “Gambir Naik Kelas: Potensi Pengembangan dan Hilirisasi Gambir Muba” yang digelar Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan Tim AgraCantika. Forum ini mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, regulator, dan pelaku usaha untuk memetakan potensi gambir Muba sekaligus merumuskan langkah hilirisasi agar komoditas tersebut dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi, termasuk katekin dan tanin.
Tiga narasumber hadir dalam diskusi tersebut, yakni Prima Luna selaku Kepala Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Rempah Obat dan Aromatik (BRMP TROA) Kementerian Pertanian, Sari Romayana dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Palembang, serta Ruri Arimbi, pelaku usaha sekaligus pemilik PT Raksasi Ruri Arimbi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari Capstone Project Tim AgraCantika dalam program SDG Academy Indonesia 2026. Program tersebut berangkat dari gagasan peningkatan taraf hidup petani gambir melalui penambahan nilai produk, di antaranya lewat pengembangan kriya dan sabun berbahan gambir.
Gagasan tersebut juga berkaitan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain pengurangan kemiskinan, penciptaan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, penguatan industri dan inovasi, serta penerapan produksi yang bertanggung jawab.
Kolaborasi antarpihak yang dibangun dalam forum tersebut juga sejalan dengan semangat kemitraan dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
Mewakili Tim AgraCantika, Andi Azhar mengatakan persoalan utama gambir bukan terletak pada kualitas bahan baku, melainkan pada terbatasnya kesempatan, pengetahuan, dan akses menuju pasar yang lebih luas.
“Gambir tidak kekurangan kualitas. Yang selama ini belum cukup kita berikan adalah kesempatan, ilmu, dan jalan menuju pasar yang lebih luas,” kata Andi Azhar.
Menurutnya, mutu, standar keamanan, dan akses pasar merupakan tiga unsur yang harus berjalan bersamaan. Dengan pengolahan dan standar yang tepat, getah gambir dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah.
Ia juga menekankan pentingnya menempatkan petani sebagai bagian penting dalam rantai nilai, bukan hanya sebagai pemasok bahan mentah.
Dari sisi pelaku usaha, Ruri Arimbi membagikan pengalamannya dalam mengembangkan manufaktur kosmetik natural dan organik bersama petani kecil.
“Sebagai praktisi di manufaktur kosmetik natural organik selaras alam yang bekerja bersama petani kecil, adalah tugas kami untuk berinovasi dan menambah nilai guna dari hasil budidaya petani,” ujarnya.
Ruri menjelaskan, gambir selama ini banyak dikenal sebagai bahan pewarna tekstil dan penyamakan kulit. Padahal, komoditas tersebut juga memiliki peluang besar untuk dimanfaatkan dalam industri kosmetik natural karena kandungan antioksidannya.
Gambir yang telah melalui proses ekstraksi, menurut dia, dapat dikembangkan menjadi berbagai produk perawatan diri dan kesehatan, seperti sabun, sampo, losion, hingga serum.
Pengembangannya dapat memadukan riset ilmiah, kearifan lokal, dan pendekatan produksi yang lebih ramah lingkungan.
Potensi Ekspor Gambir Indonesia
Peluang pengembangan gambir juga terlihat dari data yang disampaikan Kepala BRMP TROA Kementerian Pertanian, Prima Luna.
Nilai ekspor gambir Indonesia pada 2023 tercatat sekitar 74,80 juta dolar AS dengan volume mencapai 20,08 ribu ton.
Meski demikian, ekspor gambir Indonesia masih terkonsentrasi pada satu negara tujuan dan sebagian besar produk yang dikirim masih berupa getah mentah dengan kualitas yang beragam.
Sumatera Selatan termasuk dalam lima provinsi sentra gambir nasional. Namun, skala produksinya masih jauh di bawah Sumatera Barat.
Berdasarkan Buku Statistik Perkebunan 2023–2024, luas areal gambir di Sumatera Selatan tercatat sekitar 177 hektare dengan produksi sebanyak 8 ton.
Menurut Prima, kondisi tersebut justru memperlihatkan masih besarnya ruang untuk pengembangan komoditas gambir, termasuk di Kabupaten Musi Banyuasin.
Produk olahan gambir juga memiliki pasar yang cukup luas, mulai dari industri pangan dan minuman, farmasi dan nutraceutical, kosmetik, hingga penyamakan kulit.
Namun, pengembangannya membutuhkan konsistensi mutu yang harus dijaga sejak proses budidaya di tingkat kebun.
Standar Mutu Jadi Kunci Hilirisasi
Aspek keamanan dan mutu produk turut menjadi perhatian dalam diskusi tersebut.
Sari Romayana dari BBPOM di Palembang menjelaskan pentingnya penerapan Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB) bagi produsen yang ingin mengembangkan gambir menjadi produk kosmetik.
CPKB merupakan pedoman yang harus dipenuhi produsen agar proses pembuatan kosmetik dapat berlangsung secara konsisten dan menghasilkan produk yang memenuhi standar mutu serta keamanan.
Sari juga mengungkapkan bahwa berdasarkan data BPOM, gambir dari Musi Banyuasin telah dimanfaatkan sebagai bahan obat bahan alam.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi gambir menuju produk yang berada dalam pengawasan regulator bukan sekadar gagasan, tetapi memiliki peluang untuk terus dikembangkan.
Kepala DPM-PTSP Muba, Jonni Martohonan, menegaskan bahwa diskusi tersebut diharapkan menjadi titik awal untuk membangun ekosistem gambir yang lebih kuat.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi awal, bukan akhir. Harapannya, ada pelatihan bagi petani untuk memperkuat sisi hulu gambir, serta kemitraan untuk mengembangkan hilirisasi menjadi produk bernilai tinggi seperti katekin dan tanin, sehingga manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat Muba,” ujarnya.
Sementara itu, pendamping petani gambir Nanang Taat Suyudana menyambut positif forum tersebut. Ia berharap pembahasan yang telah dilakukan dapat segera dilanjutkan dengan langkah konkret di lapangan.
“Yang kita butuhkan sekarang adalah aksi nyata di lapangan, secepatnya,” katanya.
Melalui diskusi ini, penyelenggara berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, lembaga pengawas, pelaku usaha, dan petani dapat semakin diperkuat.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membangun rantai pengembangan gambir Muba yang lebih utuh, mulai dari peningkatan kualitas bahan baku, pengolahan, pemenuhan standar, hingga pemasaran.
Bagi Tim AgraCantika, forum ini menjadi langkah awal untuk menghubungkan ilmu pengetahuan, standar mutu, pelaku usaha, serta akses pasar dalam satu ekosistem hilirisasi.
Jika proses tersebut dapat berjalan konsisten, gambir Muba berpeluang tidak lagi sekadar keluar dari daerah sebagai getah mentah, tetapi berkembang menjadi berbagai produk bernilai tinggi yang memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi petani dan masyarakat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda