Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Politik
  3. Fenomena Pion Politik dan Dinamika Manipulasi Citra

Fenomena Pion Politik dan Dinamika Manipulasi Citra

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
29 Januari 2024, 21.44 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Ekonomi Politik

JurnalPost.com - Sebuah fenomena di mana orang-orang begitu fanatik terhadap idola mereka, sehingga mereka menjadi buta terhadap hal-hal lain yang bahkan mungkin dinilai lebih baik. Pemikiran dari kalangan idealis menjelaskan hal ini sebagai jiwa-jiwa dan pikiran-pikiran yang memberontak terhadap realitas. Sebagai contoh, ada orang yang memutuskan untuk di-tato. Mereka menyadari bahwa proses pembuatan tato itu menyakitkan, namun jiwa mereka bersedia mengorbankan tubuh mereka demi suatu kepuasan. Sebenarnya, ini adalah manifestasi dari jiwa-jiwa yang sedang mencari kebenaran. Jika seseorang tidak dapat menemukan kebenaran yang dicarinya, maka dia akan melampirkannya pada figur-figur yang dianggap memiliki kebenaran tersebut. Namun, kebenaran ini bersifat relatif, berada dalam sudut pandang individu, dan belum teruji kebenarannya.

Jika ada seseorang yang mengidolakan Abraham Lincoln, sebenarnya dia tidak mengidolakan Abraham Lincoln itu sendiri. Dia justru melekatkan atribut-atribut yang disukainya atau diinginkannya pada Lincoln, meskipun sebenarnya dia tidak memilikinya. Dengan demikian, dia menyematkan atribut tersebut pada Abraham Lincoln dan mengidolakannya. Dalam konteks ini, seseorang mungkin mengidolakan orang lain karena merasa kurang dalam bidang tertentu, padahal dia sangat menginginkan hal tersebut. Akibatnya, mereka memilih mengidolakan orang lain yang memiliki kualitas yang diinginkan.

IKLAN

Ini terkait dengan fenomena pion politik, di mana para figur politik memanfaatkan dorongan ini untuk menyesuaikan diri menjadi idola bagi banyak orang. Para figur politik akan menyesuaikan gaya komunikasi mereka dengan apa yang mereka kira disukai oleh banyak orang. Banyak orang yang menjadi pion politik saat ini karena mereka ingin menjadi simbol atas apa yang diinginkan oleh pion tersebut. Pion politik menjadi fenomena yang semakin merajalela dalam dinamika politik. Mereka, sebagaimana disebutkan sebelumnya, adalah individu yang secara aktif mencari menjadi representasi dari aspirasi atau keinginan banyak orang. Namun, seringkali, kecenderungan ini melibatkan manipulasi citra untuk mencapai tujuan politik tertentu.

Mahasiswi Ilmu
Baca Juga

Erick Komala Terima Penghargaan atas Dedikasi Memperkuat Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Jawa Timur

Sebagai contoh, seorang politisi dapat mengadopsi retorika atau gaya komunikasi yang dianggap populer di kalangan massa untuk membangun basis dukungan. Mereka mungkin tidak benar-benar memilikinya, tetapi dengan cerdik menyematkan atribut-atribut tersebut pada diri mereka sendiri. Analoginya, seperti seseorang yang mengidolakan atlet karena kemampuan fisiknya, padahal dirinya sendiri tidak memiliki kemampuan atletik tersebut.

Pion politik juga sering kali menjadi alat bagi para politisi untuk menarik perhatian dan memenangkan dukungan. Mereka dapat diarahkan untuk mengamplifikasi pesan-pesan tertentu, meskipun pemahaman mereka tentang isu-isu tersebut mungkin terbatas. Hal ini bisa diibaratkan dengan seseorang yang memilih idolanya karena ketenaran, tanpa memahami sepenuhnya nilai atau kontribusi yang dibawa oleh idola tersebut. Fenomena pion politik mencerminkan dinamika kompleks antara keinginan individu untuk diakui dan dimengerti, serta strategi politik yang memanfaatkan kebutuhan tersebut untuk mencapai tujuan tertentu.

IKLAN

Pion politik, sebagai elemen penting dalam panggung politik, seringkali tidak sepenuhnya memahami konsekuensi atau kompleksitas isu-isu yang mereka perjuangkan. Mereka dapat dianggap sebagai alat dalam permainan politik, digunakan untuk mencapai tujuan oleh para politisi yang ingin memanfaatkan popularitas dan daya tarik mereka. Analoginya, pion politik mirip dengan seseorang yang memuja selebriti hanya karena ketenaran tanpa benar-benar memahami bakat atau kontribusi mereka.

Fenomena ini semakin diperkuat oleh perkembangan media sosial dan teknologi informasi. Pion politik dapat dengan cepat menjadi viral dan mendapatkan perhatian publik melalui platform-platform tersebut. Hal ini membuka peluang bagi politisi untuk mengarahkan narasi dan memanfaatkan popularitas pion politik untuk kepentingan mereka sendiri. Seperti halnya seseorang yang menjadi fanatik terhadap konten viral tanpa mempertimbangkan kebenaran atau konteksnya.

Alit Kelakan
Baca Juga

Kongres X GPM Tetapkan Alit Kelakan sebagai Ketua Umum Periode 2026–2030

Selain itu, ada fenomena di mana pion politik sering kali terjebak dalam polarisasi politik. Mereka mungkin terlalu fokus pada pandangan atau kebijakan yang diusung oleh idola mereka, tanpa memberikan ruang untuk refleksi kritis atau pemahaman yang lebih nuansa terhadap isu-isu tersebut. Ini mencerminkan perilaku seseorang yang begitu terpaku pada satu pandangan tanpa mempertimbangkan sudut pandang lain.

Pion politik juga dapat menjadi korban dari strategi politik yang kurang etis. Politisi dapat dengan sengaja memanipulasi informasi atau menciptakan narasi yang sesuai dengan agenda mereka, dan pion politik mungkin menjadi penyebar utama pesan-pesan tersebut tanpa menyadari manipulasi yang terjadi. Ini seperti seseorang yang tanpa malu-malu membagikan informasi palsu karena terpengaruh oleh narasi yang dibentuk oleh pihak tertentu. Fenomena pion politik bukan hanya menciptakan idola semu dalam dunia politik, tetapi juga melibatkan dinamika yang rumit antara manipulasi politik, popularitas media sosial, dan kurangnya pemahaman mendalam terhadap isu-isu politik. Sebagai masyarakat, penting untuk senantiasa mengembangkan pemahaman kritis dan tidak terjebak dalam ketidaktahuan yang dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki agenda tertentu.

Ditulis oleh : Vivaldi Mazza

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/fenomena-pion-politik-dan-dinamika-manipulasi-citra/64525/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.07 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Kongres X GPM di TMII, Hasto Kristiyanto Tekankan Ideologi dan Kaderisasi

Pengawasan Pemilu Berbasis Gender: Mengapa Harus Ada Perempuan dalam Struktur Pengawas Pemilu?

BOC Hong Kong Cabang Jakarta Perkuat Ekosistem Renminbi di Indonesia

Nina Bahtiar Resmi Gabung PSI, Perkuat Konsolidasi di Jawa Barat

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

Pilihan Editor

  1. 1 Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan
  2. 2

    Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  3. 3

    Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

  4. 4

    Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso

  5. 5

    Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.