Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Pemilu 2024 dan Demokrasi Bertanggung Jawab

Pemilu 2024 dan Demokrasi Bertanggung Jawab

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
01 September 2023, 00.37 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Pemilu 2024

Oleh: Yudhi Andoni Dosen Sejarah Universitas Andalas, Padang.

JurnalPost.com - Pemilu 2024 tinggal menghitung hari. Pertanyaan besar sejarah masa depan bangsa ini adalah; akankah Pemilu menjalankan demokrasi bertanggung jawab atau tidak? Bagaimanapun demokrasi kita tak boleh semata sebuah alek lima tahunan tanpa jejak arah apa yang disebut Bung Hatta, “Daulat Rakyat”.

IKLAN

Daulat Rakyat membawa bahasa yang sederhana. Siapa saja mestinya mudah memahami arti frasa ini. Apalagi menilai secara kasat mata, apakah yang terjadi “Duli Tuanku?” atau “Daulat Rakyat” dalam keseharian kita.

Late Night Health Search Anxiety
Baca Juga

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Daulat Rakyat Frasa daulat rakyat adalah temuan terpenting tokoh pergerakan nasional di awal abad ke-20. Frasa ini ditemuciptakan sebagai simbol perubahan tatanan kolonial dan feodal yang berkelindan selama ratusan tahun di negeri ini. Para tokoh-tokoh nasional, terutama kalangan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru) di tahun 1930an, bahkan menerbitkan surat kabar Daulat Ra’jat (1931-1933).

Daulat rakyat merupakan tanggung jawab pemimpin. Para pemimpin yang tiran lebih suka panggilan Duli Tuanku dari rakyatnya. Mereka ingin agar rakyat melayani mereka sepenuhnya. Sebaliknya para pemimpin dalam dunia daulat rakyat mesti bertanggung jawab dan menjadi agensi aktif sebagai pelayan.

Tanpa tanggung jawab pemimpin pada rakyat tak ada daulat rakyat, tulis redaktur Daulat Ra’jat di akhir tahun 1930an kala itu.

“Dalam krisis politik seperti di waktoe ini berarti benar pembagian tanggoengan seperti ini. Dan dalam pembagian tanggoengan itoe pemimpin menanggoeng djawab menoeroet oekoeran kewadjiban masing-masing” (Daulat Ra’jat, No. 78, November 1933).

Nasya Fahma Aulia
Baca Juga

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Salah satu tanggung jawab para pemimpin dalam daulat rakyat adalah usahanya meningkatkan keinsafan mereka atas hak-hak hidup sebagai warga negara. Dalam Daulat Rakyat, “disini keinsjafan ra’jat jang mendjadi pokok”, demikian lanjut tulis redaktur media itu yang salah satunya adalah Mohammad Hatta.

IKLAN

Maka dari itu, “Sebagai pedoman pergerakan pemimpin menanggoeng djawab, soepaja ia djangan bersikap kepemoeda-pemoedaan, jaitu mengandjoerkan pergerakan karena perasaan sadja dengan tidak perhitoengan. Misalnya tidak boleh menjoeroeh pengikoetnya melompat, kalau ia sendiri tidak sanggoep mengerdjakannja...itoe boekan sikap pemimpin”.

Kata kunci dari gagasan daulat rakyat yang dipercayai Bung Hatta cs adalah tanggung jawab para pemimpin membangun keinsafan warga bangsanya. Pemilu merupakan sarana paling efektif menciptakan rakyat-rakyat yang sadar hak-haknya sebagai warga-negara. Pemilu yang membodohi akan melahirkan pemimpin feodal, dan tak bertanggung jawab.

Tanggung Jawab Bagi Bung Hatta demokrasi tak bisa berjalan tanpa ada tanggung jawab. Namun tanggung jawab itu bukan semata dibebankan pada para pemimpin. Rakyat juga bertanggung jawab pada pilihannya dalam satu mekanisme demokrasi seperti pemilihan umum legislatif atau eksekutif. Tanpa itu mereka akan menjadi pion-pion dalam ego kekuasaan para pemimpin.

Asap Negara
Baca Juga

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Demokrasi memang mesti berjalan di atas tanggung jawab. Demokrasi tanpa tanggung jawab bukanlah demokrasi. Jadi singkatnya Pemilu 2024 mendatang sebagai salah satu instrumen dasar demokrasi di Indonesia tak akan melahirkan tatanan kehidupan pro-rakyat bila tak ada kesadaran akan tanggung jawab sebagai pemimpin.

Sejarah menunjukkan ketika para pemimpin gamang dengan tanggung jawab, maka negeri ini jatuh pada krisis politik berbahaya. Kasus Konstituante yang bertele-tele memutuskan konstitusi baru karena perbedaan pendapat soal ideologi negara, misalnya, justru telah menyebabkan lahirnya kediktatoran para petualang politik melalui berbagai Parpol kala itu.

Pemilu kita sejak 1955 memainkan trik-trik berbahaya bagi negeri ini. Tarik menarik kepentingan tampak menguasai spektrum Pemilu kita, mulai dari payung hukum, sampai masalah teknis. Hal itu makin menunjukkan kalau penyelenggaraan Pemilu jauh dari kesadaran tanggung jawab atas norma Daulat Rakyat.

Pemilu 2024 mendatang membawa beban paling besar dari kegiatan yang pernah dilakukan sebelumnya. Sebab pada pemilihan kali ini serentak diadakan pemilihan para calon wakil rakyat dari tingkat kabupaten/kota sampai provinsi, DPD, DPRI RI, dan calon presiden dan wakilnya. Ragam pemilihan itu akan menghabiskan banyak biaya, dan menguji kesabaran rakyat menentukan wakil atau pilihannya nanti.

Oleh karena itu, keikutsertaan rakyat badarai pada alek demokrasi itu mestinya berbayar dengan tanggung jawab menjalankan negara ini berdasarkan supremasi amanat penderitaan mereka.

Jadi Bung Hatta telah mengingatkan, tanpa adanya tanggung jawab pada prinsip Daulat Rakyat, sesungguhnya kita telah dihidupi para petualang politik atau partijman (poli-tikus), bukan staatsman (negarawan).

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/pemilu-2024-dan-demokrasi-bertanggung-jawab/58365/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 01.14 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Pilihan Editor

  1. 1 Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines
  2. 2

    Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  3. 3

    Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

  4. 4

    Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

  5. 5

    Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.