JurnalPost.com - Kualitas air merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan karena berkaitan erat dengan kesehatan manusia, kelestarian lingkungan, serta keberlangsungan kehidupan berbagai organisme. Air yang tercemar bahan kimia, logam berat, maupun mikroorganisme patogen dapat menimbulkan berbagai permasalahan apabila digunakan tanpa melalui pemeriksaan terlebih dahulu.
Oleh karena itu, pemantauan kualitas air perlu dilakukan secara berkala untuk mengetahui kondisi air sekaligus mendeteksi keberadaan zat pencemar yang berpotensi membahayakan kesehatan dan lingkungan.
Pada umumnya, pengujian kualitas air dilakukan melalui analisis laboratorium. Namun, keterbatasan fasilitas, biaya, tenaga ahli, serta waktu pengujian sering menjadi kendala, terutama di wilayah yang memiliki akses terbatas terhadap laboratorium pengujian (Kumar et al., 2025).
Salah satu alternatif untuk mengatasi keterbatasan tersebut adalah penggunaan Water Quality Field Test Kit (FTK). Perangkat ini dirancang untuk melakukan pengujian kualitas air secara langsung di lapangan tanpa harus selalu bergantung pada fasilitas laboratorium.
Penggunaan FTK memungkinkan pemeriksaan berbagai parameter kualitas air secara lebih praktis, cepat, dan relatif ekonomis. Hasil pengujiannya dapat dimanfaatkan sebagai pemeriksaan awal (screening) untuk mengetahui kondisi air serta mengidentifikasi kemungkinan adanya kontaminasi.
Selain itu, perangkat ini juga mendukung kegiatan pemantauan kualitas air berbasis masyarakat karena dapat dioperasikan oleh pengguna yang telah memperoleh pelatihan sesuai prosedur pengujian.
Sejarah Perkembangan Water Quality Field Test Kit
Perkembangan Water Quality Field Test Kit berawal dari kebutuhan untuk melakukan pemeriksaan kualitas air secara langsung guna mendeteksi pencemaran yang berpotensi berdampak terhadap kesehatan manusia.
Salah satu perangkat pengujian air pada masa awal adalah Danchell-type water testing kit yang dikembangkan di Inggris pada periode sekitar 1867–1904. Perangkat tersebut digunakan untuk memeriksa kandungan bahan organik dan pencemar kimia dalam air.
Memasuki periode 1920–1940, pengembangan perangkat pengujian air semakin berkembang. Pada masa tersebut, mulai diperkenalkan berbagai alat pengujian portabel yang dilengkapi perlengkapan pemeriksaan sehingga analisis sederhana dapat dilakukan secara langsung di lapangan (Science Museum Group, t.t.).
Perkembangan penting berikutnya terjadi pada 1985 ketika Oxfam bekerja sama dengan University of Surrey mengembangkan perangkat pengujian air portabel untuk mengatasi kesulitan pengiriman sampel air menuju laboratorium.
Perangkat tersebut dirancang untuk memeriksa sejumlah parameter kualitas air, seperti kandungan mikrobiologi, tingkat kekeruhan, klorin bebas, klorin total, dan pH.
Hasil pengembangan tersebut kemudian dikenal sebagai DelAgua Water Testing Kit. Perangkat ini selanjutnya digunakan dalam berbagai kegiatan pemantauan kualitas air di sejumlah negara, khususnya pada wilayah yang membutuhkan metode pemeriksaan praktis dan mudah dibawa (DelAgua, t.t.).
Prinsip dan Cara Kerja Water Quality Field Test Kit
Prinsip kerja Water Quality Field Test Kit bergantung pada jenis parameter yang diperiksa serta metode analisis yang digunakan oleh masing-masing perangkat.
Secara umum, FTK bekerja dengan memanfaatkan reaksi kimia antara sampel air dan reagen tertentu. Reaksi tersebut dapat menghasilkan perubahan warna, tingkat kekeruhan, atau respons pengukuran lainnya yang digunakan untuk memperkirakan keberadaan maupun konsentrasi zat tertentu dalam air.
Salah satu metode yang umum digunakan adalah kolorimetri (colorimetric method), yakni metode analisis berdasarkan perubahan warna setelah sampel air bereaksi dengan bahan kimia tertentu.
Intensitas warna yang terbentuk kemudian dibandingkan dengan skala warna yang tersedia pada perangkat untuk memperkirakan konsentrasi zat dalam sampel air.
Proses pengujian umumnya dimulai dengan mengambil sampel air menggunakan wadah yang telah disediakan. Sampel tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung pengujian sesuai volume yang ditentukan.
Selanjutnya, reagen berbentuk larutan, serbuk, atau tablet ditambahkan ke dalam sampel. Reagen akan bereaksi dengan zat tertentu yang terkandung dalam air sehingga menghasilkan perubahan warna atau karakteristik lainnya.
Setelah waktu reaksi yang ditetapkan tercapai, hasil pengujian diamati dan dibandingkan dengan kartu warna atau indikator yang terdapat pada perangkat.
Sebagai contoh, pengujian kadar klorin dapat dilakukan dengan menambahkan reagen yang menghasilkan perubahan warna sesuai konsentrasi klorin. Sementara itu, pengujian pH dapat menggunakan kertas indikator yang berubah warna berdasarkan tingkat keasaman atau kebasaan air.
Selain kolorimetri, beberapa perangkat FTK menerapkan metode titrasi sederhana. Metode ini dilakukan dengan menambahkan larutan pereaksi secara bertahap hingga muncul perubahan warna yang menandakan tercapainya titik akhir reaksi.
Seiring perkembangan teknologi, sejumlah perangkat pengujian air portabel juga dilengkapi sensor elektronik atau fotometer untuk mengukur respons pengujian secara lebih objektif.
Bagaimana Water Quality Field Test Kit Digunakan untuk Menganalisis Hasil Penelitian?
Hasil pengujian menggunakan Water Quality Field Test Kit dapat dimanfaatkan untuk memperoleh gambaran awal mengenai kondisi kualitas air pada lokasi penelitian.
Setiap parameter yang diperiksa menghasilkan data berbeda, baik berupa nilai konsentrasi, perubahan warna, maupun kategori tertentu.
Sebagai contoh, pemeriksaan pH menghasilkan nilai yang menunjukkan tingkat keasaman atau kebasaan air. Sementara itu, pengujian nitrat dapat memberikan perkiraan konsentrasi nitrat berdasarkan intensitas warna yang terbentuk setelah sampel bereaksi dengan reagen.
Data hasil pengujian kemudian dicatat dan dikelompokkan berdasarkan lokasi pengambilan sampel, waktu pemeriksaan, serta jenis parameter yang dianalisis.
Tahap berikutnya adalah membandingkan hasil pengujian dengan baku mutu atau standar kualitas air yang sesuai dengan tujuan penelitian dan peruntukan air tersebut.
Perbandingan ini dilakukan untuk mengetahui apakah nilai suatu parameter masih berada dalam batas yang ditentukan atau telah menunjukkan indikasi pencemaran.
Misalnya, apabila hasil pengukuran pH berada di luar rentang yang ditetapkan dalam standar kualitas air, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi adanya perubahan karakteristik air yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Selain itu, hasil pengujian dari beberapa lokasi dapat dibandingkan untuk mengetahui perbedaan kondisi kualitas air berdasarkan wilayah maupun waktu pengambilan sampel.
Meskipun demikian, hasil pemeriksaan menggunakan FTK perlu dipahami dengan mempertimbangkan tingkat ketelitian dan keterbatasan masing-masing perangkat.
Sebagian perangkat menghasilkan data kualitatif atau semikuantitatif sehingga tingkat akurasinya belum tentu setara dengan metode analisis laboratorium.
Kumar et al. (2025) melakukan penelitian dengan mengevaluasi empat perangkat FTK untuk pengujian arsenik dan membandingkan hasilnya dengan metode Atomic Absorption Spectrophotometry–Hydride Generation (AAS-HG).
Dalam penelitian tersebut, salah satu perangkat menunjukkan tingkat kesesuaian pengujian sebesar 55% ketika dibandingkan dengan hasil laboratorium menggunakan toleransi ±5%. Angka tersebut meningkat menjadi 90% ketika toleransi perbandingan diperluas menjadi ±10%.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa ketepatan hasil pemeriksaan FTK dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi pengujian di lapangan dan keterampilan operator dalam menjalankan prosedur pemeriksaan.
Oleh karena itu, FTK lebih tepat dimanfaatkan sebagai perangkat pemeriksaan awal dan pemantauan rutin. Apabila ditemukan indikasi pencemaran atau diperlukan hasil dengan tingkat ketelitian tinggi, pengujian lanjutan menggunakan metode laboratorium yang tervalidasi tetap diperlukan.
Kesimpulan
Perkembangan Water Quality Field Test Kit menunjukkan bagaimana teknologi pengujian kualitas air terus mengalami perubahan, dari perangkat sederhana menuju alat portabel yang semakin praktis digunakan.
Kehadiran perangkat ini memberikan kemudahan bagi peneliti, petugas lapangan, maupun masyarakat dalam melakukan pemeriksaan awal terhadap kondisi kualitas air tanpa harus selalu mengandalkan fasilitas laboratorium.
Melalui berbagai metode pengujian, seperti kolorimetri, titrasi, dan penggunaan sensor, FTK dapat membantu mendeteksi sejumlah parameter penting yang berkaitan dengan kualitas air.
Walaupun memiliki keterbatasan dalam hal ketelitian dan akurasi, perangkat ini tetap memiliki peran penting dalam mendukung pemantauan lingkungan, penelitian lapangan, serta upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kualitas sumber daya air.
Referensi
Kumar, J., Garg, A., Gaurav, et al. (2025). A reliable model to strengthen community-based water quality monitoring and surveillance via field test kits. Scientific Reports, 15, 8794. https://doi.org/10.1038/s41598-025-92240-0
Science Museum Group. (t.t.). Sumber informasi sejarah perkembangan perangkat pengujian air.
DelAgua. (t.t.). Sumber informasi sejarah pengembangan DelAgua Water Testing Kit.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda