• Homepage
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
  • Topics
    • Berita
    • Internasional
    • Bisnis
    • Kolom Opini
    • Citizen
    • Education
    • Essay
    • Featured
    • Hukum
    • Artikel
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Projects
    • Riset
    • Sains
JurnalPost
  • Topics
    • Berita
    • Internasional
    • Bisnis
    • Kolom Opini
    • Citizen
    • Education
    • Essay
    • Featured
    • Hukum
    • Artikel
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Projects
    • Riset
    • Sains
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Beranda Artikel

Transformasi Kearifan Lokal Menjadi Daya Tarik Wisata: Analisis Rumah Adat Gebong Memarong sebagai Warisan Budaya Suku Lom

PenulisRedaksi
9 Juni 2025
in Artikel
A A
0
Rumah Adat Gebong

Kampung Adat Gebong Memarong, yang terletak di Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kabupaten Bangka.

Oleh: Farandi Angesti, Subri Rahmadani, Bunga Welvya, Vebriansyah Pratama Putra, Ezi Famila, Feby Sariandita

JurnalPost.com – Masyarakat Suku Lom atau dikenal dengan Orang Mapur merupakan salah satu komunitas tertua yang tinggal di pedalaman Bangka. Orang Mapur ini tersebar di tiga dusun (Dusun Air Abik, Pejem, dan Tuing) yang sering disebut sebagai Mapur Dangkel atau sebutan untuk orang Mapur yang masih memegang nilai dan ajaran spiritual adatnya dalam kehidupan sehari-hari, seperti orang Mapur yang berada di Dusun Air Abik. Awal terbentuknya orang lom ini sebenarnya berasal dari Kuale mapor (tuing) suku melayu asli yang lari ke hutan akibat penjajahan belanda. Setelah lari ke hutan kemudian mereka membentuk suatu Gebong yang dipercayai sebagai rumah adat mereka zaman dahulu, Gebong tersebut antara lain (Gebong batek kelatar, Gebong air duku, Gebong bukit muda, gebong titik akar, Gebong memarong, dan lainnya). Masyarakat Suku Lom Air Abik percaya kalau mereka merupakan penduduk asli dari Gebong Memarong sehinga saat ini mereka sudah membangun rumah Adat Gebong Memarong di tengah desa yang bekerjasama dengan PT.TIMAH TBK sejak dari Tahun 2021.

Dusun Air Abik adalah salah satu dusun yang terletak di desa Gunung Muda, kecamatan Belinyu, kabupaten Bangka. Letak dusun Air Abik juga berada kisaran 13 km dari kecamatan Belinyu. Masyarakt dusun Air Abik merupakan keturunan asli dari suku lom, suku lom dianggap sebagai suku tertua di Pulau Bangka bersamaan dengan Sekak, Orang Darat, Bugis, Jawa, Batak, Minang, dan China (Janawi, 2015) . Dusun Air Abik memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya berkelanjutan dengan memanfaatkan keunikan dari salah satu kearifan lokal mereka yaitu rumah adat Gebong Memarong sebagai daya tarik utama. Selain itu, disana memiliki potensi alam yang meliputi lansekap pedesaan yang masih asri. Keberadaan tambang timah tradisional di sekitar area juga menambah nilai sejarah dan edukatif bagi pengunjung yang ingin memahami kehidupan ekonomi masyarakat Suku Lom secara menyeluruh.

Dari aspek budaya, Suku Lom memiliki kekayaan tradisi yang sangat autentik dan belum banyak tersentuh modernisasi. Sama halnya dengan Rumah adat Gebong Memarong dengan arsitektur panggung khasnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal atau singgah, tetapi juga sebagai pusat aktivitas sosial dan spiritual masyarakat karena rumah adat ini merepresentasikan nilai–nilai kearifan lokal, sejarah dan tradisi leluhur dari Suku Lom yang harus dilestarikan agar generasi muda dapat mengenal dan menghargai warisan budaya. Tradisi lisan, sistem kepercayaan animisme yang masih kental, serta praktik-praktik adat dalam kehidupan sehari-hari seperti ritual adat, ritual panen, dan ceremonial adat lainnya menjadi aset budaya tak ternilai. Gedung memarong juga menjadi sarana edukasi budaya yang memungkinkan masyarakat dan pengunjung untuk mengenal dan mempelajari kearifan lokal, seperti kerajinan tangan, tenun, pengobatan tradisonal, dan praktik adat lainnya. Hal ini membantu menjaga tradisi agar tidak punah.

Potensi keharmonisan masyarakat Suku Lom terletak pada keaslian kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan pola hidup tradisional harmonis dengan alam. Sistem pertanian organik, pengelolaan hutan secara bijaksana, serta model ekonomi berbasis komunitas menjadi contoh nyata implementasi sustainable living yang dapat menjadi pembelajaran berharga bagi wisatawan modern. Struktur sosial yang masih menghormati sistem adat dan ketokohan tradisional juga memberikan pengalaman autentik tentang governance lokal yang berbeda dari sistem mainstream.

Pengembangan wisata budaya di Dusun Air Abik dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis yang saling melengkapi. Wisata edukasi budaya menjadi prioritas utama dengan menawarkan pembelajaran langsung tentang arsitektur tradisional dari bahan yang digunakan untuk membuat Gebong Memarong, mulai dari filosofi bangunan, teknik konstruksi tanpa paku, hingga fungsi setiap ruangan dalam konteks kehidupan Suku Lom. Selain itu, dengan adanya program homestay dalam rumah adat Gebong Memarong dapat memberikan pengalaman immersive kepada wisatawan untuk merasakan langsung kehidupan sehari-hari masyarakat adat.

Perubahan fungsi kearifan lokal menjadi atraksi wisata kini dipandang sebagai strategi efektif dalam upaya melestarikan warisan budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat. Salah satu wujud nyata dari konsep ini dapat ditemukan pada Rumah Adat Gebong Memarong milik komunitas Suku Lom di Dusun Air Abik, Bangka. Rumah tradisional ini tidak hanya menjadi representasi arsitektur khas daerah, tetapi juga berperan sebagai ruang aktivitas budaya yang penuh dengan makna filosofis serta sarana pelaksanaan ritual adat. Wisata spiritual dan ritual adat di kawasan ini menyajikan pengalaman budaya yang otentik bagi para wisatawan, terutama melalui berbagai prosesi adat yang masih rutin dijalankan hingga kini. Seperti halnya Pesta Adat Nujuh Jerami (bentuk rasa syukur dari hasil panen) yang dilaksanakan setiap tahun, selain menjadi warisan spiritual dan sosial, kegiatan ini turut menumbuhkan daya tarik wisatawan untuk hadir dan bahkan terlibat secara langsung tanpa melanggar norma-norma adat dan mengurangi kesakralan yang berlaku. Dengan konsep tersebut, kearifan lokal tetap dapat dilestarikan sambil memberikan manfaat ekonomi serta memperluas wawasan budaya bagi pengunjung dari luar daerah.

Tak hanya itu, pengembangan wisata berbasis kearifan lokal juga dilakukan melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan kreatif, seperti workshop tradisional yang diadakan di sekitar Rumah Adat Gebong Memarong. Wisatawan tidak sekadar datang untuk menyaksikan, tetapi juga dapat secara aktif belajar membuat kerajinan tangan khas Suku Lom, mencoba memasak makanan tradisional, hingga memahami metode pertanian organik yang masih diterapkan oleh masyarakat setempat. Kegiatan semacam ini bukan hanya memperkuat identitas budaya lokal, melainkan juga menciptakan ruang interaksi yang positif antara warga dan pengunjung. Dengan demikian, keberadaan Rumah Adat Gebong Memarong tidak hanya dimaknai sebagai peninggalan budaya fisik, tetapi juga sebagai pusat pelestarian budaya nonmaterial yang terus hidup dan beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Transformasi kearifan lokal menjadi objek wisata partisipatif ini diharapkan dapat menjadi contoh praktik pengelolaan wisata budaya yang berkelanjutan di berbagai daerah lainnya.

Rancangan tata ruang desa wisata berkelanjutan harus mempertimbangkan prinsip carrying capacity dan preservasi budaya. Zonasi kawasan dibagi menjadi beberapa area fungsional: zona inti berupa rumah-rumah adat Gebong Memarong yang difungsikan sebagai museum hidup dan homestay terbatas, zona penyangga yang mencakup area pertanian organik dan kerajinan tradisional, serta zona pengembangan yang memuat fasilitas pendukung wisata seperti visitor center, area parkir, dan fasilitas sanitasi yang didesain selaras dengan arsitektur tradisional.

Pengelolaan destinasi mengadopsi model Community-Based Tourism dimana masyarakat Suku Lom menjadi pelaku utama industri wisata. Pembentukan kelompok sadar wisata dan pelatihan guide lokal memastikan autentisitas informasi sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat. Sistem kuota kunjungan harian diberlakukan untuk menjaga keaslian pengalaman dan mencegah over-tourism yang dapat merusak nilai-nilai budaya. Infrastruktur pendukung dibangun dengan pendekatan appropriate technology yang ramah lingkungan dan selaras dengan estetika tradisional. Sistem pengelolaan sampah berbasis community dimana

sudah tersedia tempat sampah disekitaran Rumah Adat Gebong Memarong guna tetap menjaga kebersihan sekitar. Partnership dan kolaborasi dengan institusi pendidikan dan penelitian memastikan kontinuitas program edukasi sekaligus monitoring dampak pengembangan wisata terhadap kehidupan masyarakat adat. Program marketing dan promosi menekankan pada responsible tourism dengan target segmen wisatawan yang memiliki kesadaran budaya tinggi. Storytelling autentik tentang kehidupan Suku Lom dan makna filosofis Gebong Memarong menjadi kunci diferensiasi dari destinasi wisata budaya lainnya, memposisikan Dusun Air Abik sebagai destinasi pembelajaran dan refleksi yang mendalam tentang kearifan lokal Indonesia yang masih harus kita kenal lebih dekat lagi.

Transformasi Gebong Memarong menjadi destinasi wisata budaya diproyeksikan memberikan dampak positif multidimensional bagi Suku Lom dan wilayah sekitarnya. Secara ekonomi, diversifikasi mata pencaharian dari sektor pertanian dan pertambangan tradisional ke industri pariwisata akan meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam yang terbatas. Dampak sosial berupa penguatan identitas budaya dan kebanggaan terhadap warisan leluhur akan mendorong generasi muda untuk aktif dalam pelestarian tradisi. Aspek lingkungan mendapat manfaat melalui insentif ekonomi untuk konservasi hutan dan pengelolaan sumber daya berkelanjutan. Untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang, diperlukan sistem monitoring dan evaluasi berkala yang melibatkan masyarakat, akademisi, dan stakeholder terkait untuk mengukur dampak pengembangan wisata terhadap autentisitas budaya dan kesejahteraan masyarakat. Mekanisme benefit sharing yang adil dan transparan serta reinvestment sebagian pendapatan wisata untuk program pelestarian budaya dan pengembangan kapasitas masyarakat akan menjamin kontinuitas dan kualitas destinasi wisata budaya Gebong Memarong sebagai model referensi pengembangan wisata berbasis kearifan lokal di Indonesia. Maka dari itu, dengan pengelolaan yang baik Gebong Memarong dapat menjadi salah satu wisata budaya di Bangka yang dapat memberikan manfaat ganda dari segi ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. Rumah adat Gebong Memarong dari masyarakat Suku Lom bukan hanya sebagai museum hidup, melainkan dapat dijadikan sebagai salah satu contoh sukses dari pariwisata berbasis komunitas.

Bagikan138MengirimTweet86BagikanPrint PDF

Baca Juga

Roblox

Roblox: Prospek Dunia Virtual atau Ancaman Bagi Generasi Muda?

PenulisDini Febrianti
11 Desember 2025
0

JurnalPost.com - Belakangan ini Roblox menjadi salah satu platform digital yang sangat digemari di lintas usia. Data di Playstore menunjukkan...

Optimasi Dedak dan Bekatul sebagai Pangan Fungsional untuk Penanggulangan Stunting dan Gizi Buruk

Nira Banten dan Rumput Laut: Dua Harta Alam yang Siap Menjadi Masa Depan Minuman Sehat Indonesia

PenulisYosefine Elisabeth Dyah Nirma
16 November 2025
0

JurnalPost.com - Ketika berbicara mengenai Banten banyak orang langsung membayangkan pantai-pantai indah dan udara pesisir yang hangat. Namun, tak hanya...

Evaluasi Nilai Gizi pada Tepung Terigu: Kenapa Penting? Yuk Simak!

Evaluasi Nilai Gizi pada Tepung Terigu: Kenapa Penting? Yuk Simak!

PenulisKayla Diniyyatul Aghnia
16 November 2025
0

JurnalPost.com - Siapa yang tidak suka makanan berbahan tepung terigu? Mulai dari roti, kue, gorengan, hingga mi—semuanya akrab di kehidupan...

Buah

Jangan Salah Urutan! Ini Alasan Buah Harus Dimakan Sebelum Nasi atau Lauk

PenulisAsma Ainun Nisa
12 November 2025
0

JurnalPost.com - Masih banyak orang yang beranggapan bahwa buah hanya dikonsumsi sebagai hidangan penutup setelah makan makanan berat saja. Padahal...

Iyup

Fenomena “Iyup” yang viral di TikTok: Gerakan Menutup Bibir Pengguna Behel

PenulisNadya Ulya Dani
12 November 2025
0

JurnalPost.com - Pernah melihat gerakan menutup bibir yang terlihat seperti mengucapkan kata “iyup” yang dilakukan oleh pengguna behel? Fenomena ini...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Homepage
WhatsApp us: +6285298877111

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Topics
    • Berita
    • Internasional
    • Bisnis
    • Kolom Opini
    • Citizen
    • Education
    • Essay
    • Featured
    • Hukum
    • Artikel
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Projects
    • Riset
    • Sains

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.