
JurnalPost.com – Plastik adalah benda yang tidak asing lagi bagi masyarakat, bahkan pemanfaatan plastik hampir selalu di gunakan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Contoh aktivitas yang menggunakan plastik seperti: penggunaan plastik untuk membungkus makanan dan minuman, membungkus perlengkapan mandi dan kosmetik, menampung barang belanjaan, jas hujan untuk melindungi diri. Hal tersebut terjadi karena plastik merupakan benda yang murah sebab mudah di produksi dalam jumlah banyak dengan biaya yang murah, ringan sehingga mudah di bawa berpergian kemana-mana, mudah di bentuk kedalam berbagai bentuk dan ukuran, dapat melindungi barang dari kerusakan air dan kotoran, serta tahan lama. Namun di samping manfaat dan keunggulan yang dimiliki, plastik merupakan benda yang sulit terurai bahkan lebih dari puluhan hingga ratusan tahun yang akhirnya menjadi sampah yang menyebabkan kerusakan terhadap ekosistem makhluk hidup, timbulnya bibit-bibit penyakit, lingkungan yang kumuh dan merusak estetika.
Dari permasalahan yang sudah dijelaskan di atas, maka kami sebagai Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang sedang melakukan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Gelombang 5 Kelompok 27 di Kelurahan Tunggulwulung melakukan sosialisasi dan pelatihan akan pemanfaatan ecobrick sebagai alternatif mendaur ulang sampah plastik yang mudah dilakukan di waktu luang dengan alat-alat yang sederhana. Sosialisasi dan pelatihan ini di lakukan lebih spesifiknya di Balai RW 02 Kelurahan Tunggulwulung, Kec. Lowokwaru, Kota Malang. Kegiatan ini di hadiri oleh 25 orang yang terdiri dari ketua RW 02 Tunggulwulung, ibu-ibu PKK yang mewakili dari setiap RT yang ada di RW 02 Tunggulwulung, serta aktivis lingkungan setempat. Dimana pada kesempatan kali ini kami melakukan pembuatan kursi yang berukuran 40 x 40cm. Harapannya dengan diadakannya sosialisasi dan pelatihan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terkait sampah plastik, kreativitas serta membuka peluang tambahan pemasukan bagi warga sekitar.
Ecobrick sendiri berasal dari kata Eco yang berarti lingkungan dan Brick yang berarti bata dimana jika digabungkan dapat di artikan bata yang ramah lingkungan. Ide ini awalnya muncul dari sosok suami istri yakni Russel Maier yang berasal dari Kanada dan Ani Himawati Maier asal Indonesia dimana mereka menciptakannya di Filipina. Untuk satu botol ecobrick berukuran 600ml bisa terisi hingga seberat -+250 gram sedangkan botol dengan ukuran 1500ml bisa terisi hingga padat yang beratnya mencapai -+600 gram. Dengan melakukan ecobrick maka kita dapat menambah nilai guna dari sebuah sampah plastik dimana ecobrick yang padat dan kuat dengan ditambahkan kreativitas manusia maka dapat di bentuk menjadi berbagai macam furniture seperti kursi, meja, dan rak buku bahkan sebagai bahan bangunan. Bayangkan, dari plastik bekas yang di anggap sebagai sampah kini bisa menjadi perabotan rumah tangga yang unik dan bernilai seni. Selain memberikan manfaat lingkungan, kreasi ecobrick tersebut nantinya juga dapat di perjual belikan sehingga dapat menambah pendapat bagi masyarakat. Tidak hanya hasil ecobrick yang sudah menjadi furniture atau barang baru ternyata satuan botol ecobrick juga memiliki nilai ekonomis di mana pada aplikasi e-commerce Shopee untuk botol 600ml dimulai dari harga Rp 7.000,- sedangakan botol dengan ukuran 1500ml dimulai dari harga Rp 14.000,-.
Adapun untuk membuat sebuah ecobrick di butuhkan alat yakni gunting, bambu/ kayu, perekat seperti lem tembak atau lakban atau tali dan bahan yang meliputi botol plastik, sampah plastik yhalus seperti kantong kresek, sampah plastik kasar seperti kemasan makanan dan minuman. Berikut merupakan langkah-langkah dalam membuat kreasi ecobrick kursi yakni:
1. Mencuci sampah-sampah dari sisa-sisa makanan/minuman, minyak, dan sabun kemudian dikeringkan agar tidak berjamur dan menjadi tempat perkembangan bakteri,
2. Potong kecil sampah plastik halus menggunakan gunting,
3. Masukkan sampah tersebut ke dalam botol plastik,
4. Dorong dan padatkan dengan menggunakan kayu yang sudah disediakan,
5. Lakukan hal yang sama pada sampah plastik kasar hingga botol plastik terisi penuh dan padat,
6. Gabungkan beberapa botol ecobrick yang sudah padat dan direkatkan dengan lem/ lakban / tali,
7. Untuk menambah nilai estetika dan kekokohan dari suatu kursi juga dapat digabungkan dengan kayu/ triplek/ kain/ bantal duduk.

‘’Ecobrick tidak dapat mengurangi jumlah sampah, namun dengan membuat ecobrick plastik bekas dapat diubah menjadi suatu benda yang lebih visioner” kata Russell Maier.
Nama Penulis: Tsaabita Nur Agave
Universitas Muhammadiyah Malang




