JurnalPost.com – Pada sebuah pagi yang cerah, Minggu, 7 September 2025, suasana kehangatan dan kebahagiaan menyelimuti Griya Wreda Jambangan, sebuah panti jompo yang menjadi rumah bagi para lansia di Surabaya. Kedatangan rombongan dosen dan mahasiswa dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Widya Darma Surabaya, yang dipimpin oleh Ira Wulansari, S.Pd., M.Pd., bukan sekadar kunjungan biasa. Ini adalah sebuah acara pengabdian masyarakat yang dirancang dengan penuh cinta dan kepedulian, bertujuan untuk menghadirkan tawa, kehangatan, dan secercah harapan bagi para penghuni panti. Acara yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 11.00 WIB ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian sosial adalah sebuah tindakan kolektif yang mampu menciptakan dampak besar dan positif. Melalui interaksi yang tulus dan kegiatan yang menghibur, IKIP Widya Darma tidak hanya menjalankan misinya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang peduli terhadap sesama, khususnya mereka yang paling membutuhkan.

Acara dimulai dengan tindakan yang hangat dan bermakna. Para mahasiswa dan dosen dengan cekatan menyajikan pisang goreng hangat dan minuman segar kepada para lansia, sebuah gestur sederhana yang langsung menghapus suasana kaku. Senyum perlahan menghiasi wajah para lansia yang sebelumnya tampak murung, dan rasa kekeluargaan pun mulai terasa. Alifa, seorang mahasiswi dari Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, memimpin acara sebagai MC dengan suaranya yang ramah dan ceria. Ia berhasil membawa suasana yang meriah dan santai, seakan menjembatani kesenjangan antara vitalitas kaum muda dan kebijaksanaan para lansia. Selanjutnya, Agung Pratama, M.Pd., memimpin doa. Dalam doanya, ia menekankan nilai-nilai penting yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, seperti kasih sayang, kepedulian, kesabaran, dan kejujuran. Doa ini memperkuat pesan inti dari acara tersebut, yaitu tentang berbagi dan merawat sesama.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan yang memberikan wawasan lebih dalam tentang latar belakang dan tujuan kegiatan ini. Sambutan pertama disampaikan oleh Rudiyanto, S.H., S.K.H., MM., MH., yang mewakili UPTD Griya Wreda Jambangan Surabaya. Dalam sambutannya, beliau menyentuh hati para hadirin dengan mengungkapkan bahwa para lansia di Griya Wreda adalah masyarakat Surabaya yang hidup sebatangkara. Pernyataan ini memberikan perspektif yang berbeda tentang kondisi para lansia tersebut. Mereka bukanlah hanya sekadar penghuni panti, melainkan individu-individu yang pernah menjadi bagian aktif dari masyarakat, namun kini menjalani sisa hidup tanpa keluarga inti. Beliau menekankan bahwa misi utama panti ini adalah merawat dan memperhatikan mereka layaknya orang tua sendiri, memastikan mereka dapat menjalani hari tua yang sehat, nyaman, dan bahagia. Penekanan pada kata “layaknya orang tua pada umumnya” menunjukkan dedikasi yang luar biasa dari staf panti untuk memberikan kasih sayang yang tulus.

Sambutan berikutnya datang dari Riadhos Solichin, S.E., M.Pd., yang mewakili rektor IKIP Widya Darma, Dr. Nur Sukri, M.Si. Dalam sambutannya, Riadhos Solichin mengungkapkan bahwa dana yang disumbangkan ke Griya Wreda merupakan hasil dari sebuah gerakan kolektif. Donasi tersebut berasal dari partisipasi peserta webinar 1 hingga 5, serta sumbangan sukarela dari dosen, mahasiswa, dan masyarakat umum yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kegiatan ini. Penjelasan ini memberikan pemahaman bahwa acara pengabdian masyarakat ini bukanlah sekadar inisiatif dari segelintir orang, melainkan cerminan dari solidaritas dan kepekaan sosial yang luas. Kegiatan webinar dan bakti sosial ini juga merupakan bagian dari program panitia penerimaan mahasiswa baru, yang diketuai oleh Dr. Edy Suseno, S.Pd., M.Pd. Hal ini menunjukkan bahwa IKIP Widya Darma tidak hanya berfokus pada kegiatan akademis, tetapi juga secara aktif menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan empati sejak dini kepada calon mahasiswa mereka.

Memasuki acara inti, suasana semakin meriah. Dr. Edy Suseno mengambil alih panggung dan mengajak oma dan opa untuk bernyanyi bersama. Lagu yang dipilih, “Siapa Bilang Lansia Tidak Berguna,” menjadi simbol semangat dan optimisme. Lagu ini mengandung pesan kuat bahwa usia bukanlah penghalang untuk tetap berkarya dan merasa bahagia. Senyum dan tawa riang para lansia saat menyanyikan lagu tersebut menjadi pemandangan yang tak ternilai harganya. Setelah sesi bernyanyi bersama, beberapa lansia yang bersemangat mengikuti lomba ketangkasan yang dirancang dengan santai dan menghibur. Lomba ini tidak hanya menguji ketangkasan fisik, tetapi juga memicu interaksi dan keceriaan. Di sela-sela lomba, suasana nostalgia kembali terbangun saat mereka menyanyikan lagu-lagu lawas yang akrab di telinga, seperti “Naik Delman,” “Burung Kutilang,” “Putri Solo,” dan lagu-lagu nostalgia lainnya. Melodi-melodi masa lalu ini seolah membawa mereka kembali ke masa-masa indah, membangkitkan kenangan manis yang mungkin telah lama tersimpan.

Menjelang akhir acara, momen haru dan reflektif terjadi. Dimulai dengan pembagian hadiah bagi para pemenang lomba dan sesi bernyanyi, acara dilanjutkan dengan sesi pesan dan kesan. Perwakilan dari lansia, mahasiswa, dan UPTD Griya Wreda secara bergantian menyampaikan perasaan mereka. Salah satu pesan yang paling menyentuh datang dari perwakilan lansia yang menyampaikan bahwa masa lansia adalah sebuah fase kehidupan yang akan dialami oleh siapa pun. Namun, melaluinya bukanlah hal yang mudah. Mereka menegaskan bahwa kepedulian masyarakat sangatlah dinanti dan diperlukan. Pesan ini bukan sekadar permintaan, melainkan sebuah pengingat bagi seluruh masyarakat tentang pentingnya peran kita dalam menciptakan lingkungan yang suportif dan penuh kasih bagi para lansia. Sementara itu, mahasiswa dan perwakilan UPTD Griya Wreda juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih mereka, menekankan bahwa acara seperti ini sangat berarti dan memberikan semangat baru bagi semua pihak.

Sebagai puncak dan penutup acara, dilakukan serah terima donasi secara simbolis. Riadhos Solichin, sebagai Warek 3, menyerahkan donasi berupa segala keperluan penting lansia kepada Rudiyanto, S.H., S.K.H., MM., MH. yang mewakili Griya Wreda. Tindakan ini tidak hanya melengkapi tujuan acara, tetapi juga menegaskan komitmen IKIP Widya Darma untuk terus mendukung kesejahteraan para lansia. Donasi ini bukan hanya sekadar barang, melainkan wujud nyata dari kepedulian dan kerja sama banyak pihak. Melalui kegiatan ini, IKIP Widya Darma menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada ruang kelas, tetapi juga mencakup pembentukan karakter dan empati yang kuat pada mahasiswa. Mereka berhasil menciptakan sebuah jembatan antara dunia akademis dan realitas sosial, mengajarkan bahwa pengetahuan tanpa kepedulian tidak akan memberikan dampak yang berarti.

Lebih dari sekadar acara seremonial, kegiatan pengabdian masyarakat ini memiliki makna yang mendalam. Bagi para lansia di Griya Wreda Jambangan, kehadiran rombongan IKIP Widya Darma adalah sebuah oase di tengah rutinitas mereka. Kebersamaan, tawa, dan nyanyian bersama adalah hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Momen-momen ini memberikan mereka perasaan bahwa mereka tidak sendiri, bahwa ada masyarakat yang peduli dan bersedia meluangkan waktu untuk mereka. Sementara itu, bagi para mahasiswa dan dosen, acara ini merupakan pembelajaran hidup yang tak ternilai harganya. Mereka belajar tentang arti empati, kesabaran, dan tanggung jawab sosial secara langsung. Interaksi dengan para lansia memberikan pemahaman baru tentang tantangan yang dihadapi oleh kaum lanjut usia dan pentingnya peran kaum muda dalam mendukung mereka. Kegiatan ini mematahkan stereotip bahwa lansia adalah beban, sebaliknya, menunjukkan bahwa mereka adalah sumber kebijaksanaan dan cerita yang tak ada habisnya.

Kegiatan ini juga menjadi model yang patut dicontoh oleh lembaga pendidikan lainnya. Mengintegrasikan pengabdian masyarakat dalam kurikulum atau kegiatan ekstrakurikuler akan membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga peka terhadap kondisi sosial di sekitar mereka. IKIP Widya Darma telah berhasil menunjukkan bagaimana sebuah acara sederhana, yang didasari oleh niat tulus, dapat membawa kebahagiaan dan dampak positif yang berkelanjutan. Dana yang terkumpul dari webinar dan donasi sukarela membuktikan bahwa kolaborasi antara kampus, mahasiswa, alumni, dan masyarakat umum dapat menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Ini adalah sinergi yang ideal, di mana ilmu pengetahuan dan kepedulian berjalan beriringan untuk menciptakan kebaikan.

Satu pelajaran paling berharga dari acara ini adalah pengingat bahwa masa lansia akan dialami oleh setiap orang, dan bagaimana kita memperlakukan para lansia saat ini akan menentukan bagaimana kita ingin diperlakukan di masa depan. Perhatian kecil, seperti membagikan pisang goreng atau bernyanyi bersama, dapat memberikan kebahagiaan yang besar. Griya Wreda Jambangan, dengan segala keterbatasannya, telah memberikan layanan yang luar biasa bagi para lansia. Namun, dukungan dari masyarakat, seperti yang ditunjukkan oleh IKIP Widya Darma, sangat esensial untuk melengkapi upaya-upaya tersebut. Kegiatan ini adalah sebuah investasi sosial yang memberikan imbalan berupa senyum, kebahagiaan, dan persaudaraan yang tak lekang oleh waktu. Pada akhirnya, acara pengabdian masyarakat ini lebih dari sekadar sumbangan materi; ia adalah sumbangan kasih sayang, waktu, dan perhatian yang paling dibutuhkan.

Acara Pengabdian Masyarakat IKIP Widya Darma di Griya Wreda Jambangan Surabaya merupakan sebuah kisah sukses tentang bagaimana pendidikan dan kepedulian dapat bersatu. Dari perencanaan yang matang hingga pelaksanaan yang penuh tawa dan haru, setiap detail acara mencerminkan komitmen tulus dari semua pihak yang terlibat. Acara ini meninggalkan jejak kebaikan dan inspirasi, mengingatkan kita semua bahwa setiap individu berhak menjalani masa tuanya dengan penuh martabat dan kebahagiaan. Sinergi antara lembaga pendidikan dan masyarakat ini adalah fondasi yang kokoh untuk membangun masa depan yang lebih peduli dan berempati. Diharapkan, kegiatan serupa akan terus berlanjut, membawa manfaat dan kebahagiaan bagi lebih banyak lansia di Indonesia, dan menjadi teladan bagi generasi penerus untuk selalu peka terhadap kondisi di sekitar mereka.
IKIP Widya Darma News: https://drive.google.com/drive/folders/19xOYJBhCysX10LEi6YRIhl-BaJVdjgB1?usp=drive_link
Penulis:
Dr. Edy Suseno, S.Pd.,M.Pd.
Riadhos Solichin, S.E., M.Pd.
Agung Pratama, M.Pd.
Sri Rejeki Puri Wahyu Pramesthi, S.Si., M.Si.
Ira Wulansari, S.Pd., M.Pd.
Fanny Adibah, S.Pd.I, M.Pd.
Fibria Cahyani, S.Pd.,M.Pd
Darto, S.Pd.,M.Pd.
Yuniarto Wiryo Nugroho, S.H., M.Pd.





