• Homepage
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
  • Topics
    • Berita
    • Internasional
    • Bisnis
    • Kolom Opini
    • Citizen
    • Education
    • Essay
    • Featured
    • Hukum
    • Artikel
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Projects
    • Riset
    • Sains
JurnalPost
  • Topics
    • Berita
    • Internasional
    • Bisnis
    • Kolom Opini
    • Citizen
    • Education
    • Essay
    • Featured
    • Hukum
    • Artikel
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Projects
    • Riset
    • Sains
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Beranda Citizen

Segregasi Gender dalam Pendidikan Pesantren

RedaksiPenulisRedaksi
22 Juli 2024
in Citizen
Waktu Membaca:3 menit membaca
A A
0
342
BAGIKAN
2k
DILIHAT
Share on FacebookWhatsappShare on TwitterPrint PDF
PROSES WAWANCARA DENGAN SEKJEN PP. SALAFIYAH SYAFI’IYAH NURUL FATA

Oleh : M. Jamil Ma’ruf Billah, S.H
Dosen Pengampu : Dr. Muhammad Husni, M.Pd
 
JurnalPost.com – Pendidikan memainkan peran penting dalam membangun karakter dan etika seseorang. Tujuan utama pendidikan Islam adalah menghasilkan orang yang berakhlak mulia, berpengetahuan luas, dan mampu menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Institusi pendidikan Islam seperti pesantren dan madrasah terus berusaha mengubah metode pengajaran mereka agar tetap relevan dan efektif seiring dengan berkembangnya zaman dan semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi oleh umat Islam.

Salah satu isu yang sering menjadi perhatian adalah penerapan segregasi gender dalam proses pembelajaran. Segregasi gender mengacu pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan di sekolah. Sebagian besar lembaga pendidikan Islam menganggap praktik ini penting untuk menjaga kehormatan dan moralitas sesuai dengan ajaran agama. Dalam berbagai hal, pemisahan ini biasanya diterapkan. Ini termasuk ruang kelas, asrama, dan kegiatan ekstrakurikuler.
Institusi pendidikan Islam berbeda dengan institusi pendidikan umum yang biasanya tidak melakukan segregasi gender.

Segregasi gender dipandang perlu karena pendidikan Islam tidak hanya bertujuan untuk memberikan pendidikan, tetapi juga untuk membangun karakter dan moral yang sesuai dengan nilai-nilai agama. Pilihan antara segregasi gender atau non-segregasi gender menjadi sangat penting dalam konteks ini.

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Fata merupakan satu dari beberapa lembaga di Kabupaten Bondowoso yang mempraktikkan segregasi gender. Hal yang menjadi implementasi segregasi gender di sana antara lain:

1.     Asrama dan Tempat Tinggal
2.     Ruang Kelas
3.     Kegiatan Ekstrakurikuler

Asrama untuk santri laki-laki dan perempuan dipisahkan secara ketat. Hal ini bertujuan untuk menghindari interaksi yang tidak perlu di luar kegiatan belajar. Kelas-kelas di sana juga dipisahkan antara laki-laki dan perempuan bahkan berada di area yang berbeda. Kegiatan selain KBM di kelas seperti olahraga, kursus, dan organisasi murid juga dilakukan dilakukan secara terpisah. Hal ini untuk memastikan bahwa interaksi antara laki-laki dan perempuan tetap dalam batas-batas yang ditetapkan.
Pada perjalanannya Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Fata memberlakukan segregasi gender secara bertahap. Pada saat baru berdiri (tahun 1981) asrama santri putra dan putri berada dalam satu komplek namun dipisah dengan dinding yang cukup tinggi, termasuk langgar / musholla yang masih satu dan hanya dipisah dengan tabir, karena pada saat itu pesantren belum memiliki lahan untuk dijadikan komplek santri putri. Baru pada tahun 1996 pesantren melakukan pembebasan lahan dan membangun komplek serta musholla untuk santri putri agar terpisah dengan santri putra. Setelah itu jumlah santri yang masih sedikit dan jumlah ruang kelas yang tidak memadai menjadikan implementasi segregasi gender belum dapat terlaksana, sehingga proses pembelajaran tetap campur namun dipisah dengan satir.

KEGIATAN TAHUNAN DIKLAT KEAGAMAAN SANTRI PUTRA

Mengingat jumlah murid cukup banyak dan tersedianya ruang kelas tambahan, pada tahun 2004 dilakukan pemisahan kelas antara putra dan putri. Sejak itu tidak ada ceritanya murid putra kumpul dengan murid putri dalam 1 kelas. Namun muncul masalah baru dari penerapan segragasi gender ini, yaitu sarana pra sarana belum sepenuhnya memadai seperti lab komputer dan lab bahasa sehingga penggunaan lab computer dan bahasa dilakukan secara bergantian.

Dampak positif dalam pemberlakuan segregasi gender, di antaranya pertama memberikan rasa aman dan nyaman bagi santri perempuan, yang seringkali merasa lebih terlindungi dari gangguan atau pelecehan. Kedua dengan tidak adanya interaksi yang terlalu bebas antara laki-laki dan perempuan, santri dapat lebih fokus dalam belajar tanpa adanya gangguan emosional yang seringkali timbul dari interaksi dengan lawan jenis. Ketiga tertanamnya nilai-nilai agama secara lebih intensif. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang mengatur tata cara pergaulan antara laki-laki dan perempuan.
         
Selain dampak positif yang dirasakan oleh para santri sangatlah besar dengan diberlakukannya segregasi gender, namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa terdapat sisi negatif yang timbul dari aturan tersebut. Terkadang fasilitas dan kualitas pendidikan antara pesantren laki-laki dan perempuan berbeda, menyebabkan kesenjangan dalam akses dan kualitas pendidikan terutama bagi pondok pesantren yang terbilang kecil atau baru melaksanakan. Oleh karena itu segregasi gender tidak dapat diimplementasikan serta merta dalam suatu pondok pesantren, hal ini untuk mengurangi dampak negatif yang akan diterima.
Segregasi gender baru terlaksana sepenuhnya di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Fata sejak tahun 2016 dengan fasilitas yang cukup lengkap dan sumber daya manusia yang mumpuni, karena tidak hanya berlaku bagi murid segregasi gender juga berlaku bagi semua guru di setiap jenjang.

Kesimpulannya segregasi gender dalam pendidikan pesantren adalah praktik penting untuk menjaga kehormatan dan moralitas santri sesuai ajaran Islam. Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Fata menunjukkan bahwa implementasi segregasi gender membutuhkan penyesuaian bertahap, mulai dari pemisahan asrama, ruang kelas, hingga kegiatan ekstrakurikuler. Dampak positif yang dirasakan antara lain rasa aman bagi santri perempuan, fokus belajar tanpa gangguan emosional, dan penanaman nilai-nilai agama yang intensif. Namun, ada dampak negatif berupa kesenjangan dalam akses dan kualitas pendidikan antara pesantren laki-laki dan perempuan, terutama pada pesantren yang baru berdiri. Oleh karena itu, penerapan segregasi gender harus dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan fasilitas dan kualitas pendidikan untuk meminimalisir dampak negatif.

Secara keseluruhan, segregasi gender dalam pendidikan pesantren adalah bagian integral dari upaya mencetak generasi yang berakhlak mulia dan cerdas. Implementasi yang hati-hati dan bertahap serta dukungan fasilitas memadai akan memastikan tujuan pendidikan Islam tercapai tanpa mengorbankan kesetaraan dan kualitas pendidikan.
 
*Hasil wawancara dengan Sekretaris Jendral Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Fata

Bagikan137MengirimTweet86BagikanPrint PDF
Sebelumnya

Meningkatkan Minat Belajar Siswa Melalui Manajemen Pendidikan yang Efektif

Berikutnya

PKM Pemberdayaan Keterampilan Guru melalui Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis

Baca Juga

Gelar Pelatihan Motviasi Berprestasi dan Penggunaan AI dalam Karya Ilmiah, Guru Besar FSRD ITB: Jangan Sampai Kita Kehilangan Pikiran Sendiri Karena AI

Gelar Pelatihan Motviasi Berprestasi dan Penggunaan AI dalam Karya Ilmiah, Guru Besar FSRD ITB: Jangan Sampai Kita Kehilangan Pikiran Sendiri Karena AI

PenulisRedaksi
6 Agustus 2025
0

JurnalPost.com - Kelompok Keilmuan Literasi Budaya Visual Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (KKLBV FSRD ITB) mengadakan dua...

Magang di PT. Bimasakti Mult Sinergi Meningkatkan Pemahaman tentang Industri Fintech dan Pembayaran Digital

Magang di PT. Bimasakti Mult Sinergi Meningkatkan Pemahaman tentang Industri Fintech dan Pembayaran Digital

PenulisRedaksi
5 Juli 2025
0

JurnalPost.com - Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) merupakan salah satu perguruan tinggi yang berada di Yogyakarta, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa memiliki program...

Program Bimbingan Konseling di SMP: Solusi Atasi Kenakalan Remaja?

Program Bimbingan Konseling di SMP: Solusi Atasi Kenakalan Remaja?

PenulisRedaksi
28 Juni 2025
0

Penulis: Faisal Rafi Agustian Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya JurnalPost.com - Kenakalan remaja di kalangan siswa SMP menjadi masalah yang...

Down Syndrome

Lebih Dekat dengan teman Down Syndrome di BK3S Potads Surabaya

PenulisRedaksi
12 Juni 2025
0

Surabaya, JurnalPost.com – Salah satu Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengikuti Program Magang MBKM Proyek Kemanusiaan Di...

SMPN 41 Surabaya Gandeng Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Dalam Program Creative Writing

SMPN 41 Surabaya Gandeng Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Dalam Program Creative Writing

PenulisRedaksi
10 Juni 2025
0

Surabaya, JurnalPost.com - Perkembangan teknologi yang begitu cepat mendorong perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk cara seseorang mengekspresikan diri. Di...

  • Homepage
WhatsApp us: +6285298877111

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Topics
    • Berita
    • Internasional
    • Bisnis
    • Kolom Opini
    • Citizen
    • Education
    • Essay
    • Featured
    • Hukum
    • Artikel
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Projects
    • Riset
    • Sains

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.