JurnalPost.com – Gender merupakan hal yang sensitif sekaligus menarik untuk dibahas dikalangan Masyarakat. Tuhan menciptakan 2 gender di dunia ini yaitu laki-laki dan Perempuan. Namun dengan seiring berjalannya waktu, persepsi mengenai gender berkembang menjadi lebih luas. Salah satunya seperti maskulinitas dan feminitas. Gender dan jenis kelamin adalah hal yang berbeda. Jenis kelamin merupakan hal biologis yang melekat pada tubuh manusia seperti penis dan payudara. Sedangkan gender, merupakan konstruksi social yang menunjukkan identitas seseorang sebagai seorang laki-laki atau Perempuan.
Studi mengenai Perempuan atau feminitas, telah dikembangkan sejak abad ke-18, sedangkan studi mengenai maskulinitas, dikembangkan sejak abad ke-19. Pada abad itu, maskulinitas digambarkan sebagai seorang laki-laki yang berperilaku seperti seorang Wanita. Namun seiring berjalannya waktu, hal itu malah disebut dengan feminine.
Pada jaman dahulu, sesuai dengan kodratnya, manusia diharuskan untuk berperilaku seperti kondisi gendernya. Dalam pandangan sosiologis, feminitas digambarkan sebagai Perempuan yang lembut, ramah, dan tunduk pada laki-laki. Bahkan di pulau Jawa, ada persepsi yang mengatakan bahwa kodrat Perempuan adalah 3M yaitu Macak (berdandan), Masak (mengurus pekerjaan rumah), dan Manak (melahirkan). Sedangkan maskulinitas digambarkan sebagai laki-laki yang kuat, Tangguh, dan bertanggung jawab. Karena persepsi ini dibuat oleh Masyarakat, maka akan berubah seiring dengan perkembangan jaman.
Persepsi ini bisa menjadi boomerang bagi Masyarakat. Ada yang merasa mendapat perlakuan tidak adil dan tidak sesuai kemampuan. Jika seorang Perempuan tidak pandai memasak, ia akan dinilai buruk oleh Masyarakat karna stereotype yang ada. Begitu juga dengan laki-laki, jika ia tidak kuat dalam mengangkat beban misalnya, makai a juga akan dipandang buruk oleh sekitarnya. Dalam konsep maskulinitas, terdapat hal yang berbahaya yaitu toxic masculinity. Yaitu merupakan persepsi yang melebih-lebihkan kodrat seorang laki-laki yang akhirnya menormalisasi Tindakan kekerasan bahkan merendahkan Perempuan.
Penulis merupakan seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi yang Bernama Gabriella Agustina dengan NIM 1152000108 yang mengikuti mata kuliah Komunikasi dan Gender yang diampu oleh Dr. Merry Fridha Tripalupi., M. Si.




