
Wonogiri, JurnalPost.com, 02 Agustus 2024 — Cyberbullying menjadi ancaman serius bagi anak-anak di era digital saat ini. Menyadari hal tersebut, Firas Hazel Wavi, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, yang tengah menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) TIM II di Desa Banyakprodo, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, menginisiasi program pendampingan khusus bagi anak-anak desa untuk mencegah dan melawan cyberbullying.
Program yang diadakan oleh Firas ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam kepada anak-anak tentang bahaya cyberbullying serta cara-cara efektif untuk menghadapinya. Dalam sesi edukasi yang interaktif, anak-anak diajarkan tentang berbagai bentuk cyberbullying yang mungkin mereka hadapi di dunia maya, mulai dari penghinaan hingga ancaman, serta dampak negatif yang bisa ditimbulkan dari tindakan tersebut.
“Anak-anak perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan agar dapat melindungi diri dari cyberbullying. Penting bagi mereka untuk mengetahui bahwa mereka tidak sendiri dan ada langkah-langkah yang bisa mereka ambil untuk melawan,” ujar Firas.
Dalam kegiatan ini, Firas juga membagikan tips praktis kepada anak-anak, seperti cara mengenali tanda-tanda cyberbullying, pentingnya menjaga privasi online, serta bagaimana melaporkan kasus cyberbullying kepada orang dewasa atau pihak berwenang. Anak-anak yang mengikuti program ini menunjukkan antusiasme tinggi, dengan banyak dari mereka aktif bertanya dan berbagi pengalaman pribadi terkait penggunaan internet.
Salah satu peserta program, Tristan, salah satu siswa SDN 1 Banyakprodo, mengungkapkan bahwa ia merasa lebih percaya diri setelah mengikuti pendampingan ini. “Saya jadi tahu apa yang harus dilakukan kalau ada yang mengejek atau mengancam di media sosial. Saya juga belajar untuk tidak takut melaporkan ke guru atau orang tua,” ujarnya.
Program pendampingan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi anak-anak Desa Banyakprodo, sehingga mereka dapat lebih aman dan terlindungi saat berinteraksi di dunia maya. Firas juga berharap bahwa upaya ini dapat mendorong desa-desa lain untuk mengadakan program serupa guna melindungi anak-anak dari ancaman cyberbullying.




