JurnalPost, Jakarta — Perjalanan akademik Dr. Dede Suryanto, S.Sos., M.Si. mencapai salah satu tahap penting ketika gagasannya mengenai masa depan pendanaan digital bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dibawa ke ruang akademik Universitas Indonesia.
Melalui Ujian Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Doktor Kajian Stratejik dan Global, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, Dede mempertahankan penelitian mengenai hubungan teknologi finansial, pendanaan, manajemen risiko, dan karakter geografis dalam membentuk ekosistem Securities Crowdfunding (SCF) yang lebih inklusif dan merata.
Sidang berlangsung pada Kamis, 13 Agustus 2026, di Gedung IASTH Lantai 5, Kampus Universitas Indonesia Salemba, Jakarta.
Dede berhadapan dengan jajaran dewan penguji yang terdiri atas Ketua Sidang Prof. Dr. Drs. Supriatna, M.T., Promotor Prof. Ir. Bernardus Yuliarto Nugroho, Ph.D., MSM, serta Ko-Promotor Dr. Nur Fatwa, S.E., M.M.
Tim penguji turut terdiri atas Lin Yola, S.T., M.T., Ph.D.; Prof. Yudho Giri Sucahyo, S.Kom., Ph.D., CISA, CISM.; Dr. David Ronald Tairas, S.S., S.E., M.M.; Ibrahim Kholilul Rohman, S.E., M.S.E., Ph.D.; Dr. Sofian Lusa, S.E., M.Kom.; serta Dekar Urumsah, S.E., S.Si., M.Com.(IS), Ph.D.
Disertasi Dede berjudul “Model Ekosistem Financial Technology Securities Crowdfunding Berkelanjutan: Konvergensi Pendanaan, Manajemen Risiko, dan Integrasi Faktor Geografis sebagai Mediator Transmisi Spasial.”
Penelitian tersebut berangkat dari paradoks perkembangan teknologi keuangan. Di satu sisi, teknologi digital memungkinkan proses pendanaan berlangsung lintas wilayah tanpa mengharuskan penerbit dan pemodal bertemu secara fisik. Namun di sisi lain, aktivitas pendanaan melalui SCF masih terkonsentrasi di wilayah tertentu.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan teknologi menembus batas geografis belum secara otomatis menghadirkan pemerataan akses pembiayaan.
Faktor Geografis Masih Berpengaruh
Besarnya persoalan pembiayaan UMKM menjadi salah satu latar yang menguatkan penelitian Dr. Dede Suryanto.
Sekitar 64,2 juta UMKM tercatat berkontribusi sebesar 61,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, pertumbuhan UMKM masih banyak terkonsentrasi di Jawa dan Bali.
Kondisi serupa terlihat dalam ekosistem Securities Crowdfunding. Hingga awal 2024, sekitar 93,9 persen penerbit efek dan 74,6 persen pemodal SCF masih berada di Pulau Jawa.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa teknologi belum sepenuhnya menghapus pengaruh kedekatan wilayah, hubungan sosial, komunitas, kepercayaan, hingga identitas lokal dalam menentukan arah pendanaan.
Padahal, industri SCF terus berkembang. Hingga Maret 2025, dana yang dihimpun melalui skema tersebut telah mencapai sekitar Rp1,49 triliun melalui 503 penerbit dengan lebih dari 177 ribu investor.
Meski demikian, angka tersebut dinilai masih menyisakan ruang pertumbuhan yang sangat besar apabila dibandingkan dengan kebutuhan pembiayaan UMKM secara nasional. Terlebih, akses kredit perbankan disebut baru menjangkau sekitar 30 persen UMKM.
Atas dasar itu, dalam disertasi Dede, SCF tidak ditempatkan semata-mata sebagai platform digital, tetapi sebagai sebuah ekosistem yang mempertemukan UMKM, pemodal, regulator, penyelenggara, komunitas, hingga berbagai lembaga yang berperan dalam membangun kepercayaan.
Tujuh Hipotesis Penelitian Diterima
Penelitian Dede menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif secara berurutan dengan melibatkan 110 responden pemodal.

Hasil penelitian menunjukkan seluruh tujuh hipotesis yang diuji dapat diterima.
Pendanaan dan manajemen risiko terbukti berpengaruh terhadap kekuatan ekosistem, sementara faktor geografis muncul sebagai penghubung yang mempertemukan keduanya dengan penguatan ekosistem SCF.
Temuan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa manajemen risiko yang dijalankan dengan baik bukanlah penghambat pertumbuhan industri. Sebaliknya, pengelolaan risiko menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun industri SCF yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Menariknya, pengertian geografis dalam penelitian Dede tidak berhenti pada persoalan jarak fisik.
Di dalamnya terdapat unsur kedekatan sosial, komunitas, kepercayaan, dan budaya yang turut membentuk keputusan pemodal.
Sebagian investor cenderung bersikap rasional dengan mempertimbangkan yield, kinerja manajemen, likuiditas, dan keterbukaan informasi. Namun, sebagian lainnya bersifat lebih relasional dengan mengandalkan kepercayaan terhadap figur, solidaritas, kesamaan sosial, hingga budaya.
Kecenderungan untuk memilih lingkungan yang dekat atau dikenal tersebut tidak selalu menjadi kelemahan.
Dalam gagasan yang dikembangkan Dede, fenomena local bias justru dapat diarahkan menjadi kekuatan untuk memperluas pembiayaan UMKM di berbagai daerah.
Lahirkan Model MEFS-TG dan Indeks Maturitas SCF
Dari temuan tersebut lahir Model Ekosistem Fintech SCF Berkelanjutan yang Terintegrasi Geografis (MEFS-TG).
Model ini menempatkan faktor geografis sebagai mediator sekaligus memperkuat ekosistem melalui keberadaan lembaga pemeringkat kredit dan dana perlindungan pemodal.
Dede juga menawarkan Indeks Maturitas Ekosistem SCF (IMES) sebagai instrumen untuk membaca perkembangan sebuah ekosistem SCF, mulai dari tahap perintisan, ekspansi, kepemimpinan, hingga pembaruan mandiri.
Harapan yang dibawa melalui penelitian tersebut tidak berhenti pada perluasan akses pembiayaan di tingkat lokal. UMKM daerah juga diharapkan memiliki peluang untuk bergerak lebih jauh menuju pasar global.
Dengan kontribusi UMKM terhadap ekspor nonmigas yang masih berada di kisaran 15 hingga 16 persen, SCF dinilai dapat menjadi salah satu jembatan yang mempertemukan potensi usaha daerah dengan kelompok pemodal yang lebih luas, termasuk pemodal global.
Melalui pendekatan tersebut, kekuatan lokal, kepercayaan komunitas, dan teknologi digital diharapkan dapat bertemu dalam satu ekosistem pendanaan yang membuka kesempatan lebih besar bagi UMKM Indonesia.
Pelaku Industri Keuangan Berikan Apresiasi
Sejumlah pelaku industri keuangan memberikan apresiasi terhadap penelitian tersebut.
Patrick Gunadi, Ketua Umum ALUDI sekaligus CEO Danamart, menilai penelitian Dede relevan dengan persoalan yang dihadapi industri SCF.
Menurut Patrick, pertumbuhan industri tidak cukup hanya bertumpu pada teknologi dan kesiapan investor. Dibutuhkan ekosistem yang lebih luas, pengelolaan risiko, kepercayaan, kolaborasi, serta strategi yang sesuai dengan identitas dan kekuatan masing-masing penyelenggara.
“SCF tidak hanya soal teknologi, tetapi bagaimana membangun kepercayaan, mengelola risiko, dan menciptakan ekosistem yang kuat,” ujar Patrick.
Sementara itu, Dr. Diding S. Anwar yang mewakili KADIN Indonesia menilai model yang ditawarkan dalam penelitian tersebut berpotensi menjadi rujukan untuk memperkuat kepercayaan, mitigasi risiko, dan pemerataan pendanaan UMKM, termasuk hingga wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Model ini dapat menjadi pendekatan untuk memperluas akses pembiayaan UMKM, termasuk di daerah yang selama ini sulit terjangkau,” katanya.
Herbet Salomo dari Otoritas Jasa Keuangan bidang Pengaturan PPDP, yang turut hadir dalam acara tersebut, menilai penelitian Dede memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai kebutuhan pendanaan UMKM dan relevansinya terhadap pengembangan kebijakan.
Aviantono Yudihariadi dari Askrindo Syariah melihat integrasi antara pendanaan, manajemen risiko, dan faktor geografis sebagai perspektif baru dalam pengembangan SCF berkelanjutan.
Agus Subrata menyoroti manfaat pembiayaan bagi keberlanjutan UMKM. Abdul Bari mengapresiasi integrasi aspek pendanaan, risiko, dan geografis, sedangkan Loesdarwanto melihat relevansi penelitian tersebut terhadap agenda inklusi keuangan serta pemerataan produk keuangan syariah.
Secara umum, mereka menilai pendekatan tersebut dapat membantu industri memahami kebutuhan UMKM secara lebih kontekstual sekaligus memperluas manfaat SCF ke berbagai wilayah di Indonesia.
Potensi Diterapkan dalam Pendidikan Vokasi
Pandangan dari kalangan akademik disampaikan Direktur Sekolah Vokasi Universitas Indonesia, Dr. Safrin Arifin.
Ia melihat SCF bukan hanya sebagai objek penelitian akademik, tetapi juga praktik yang membutuhkan keterampilan nyata, mulai dari kemampuan membaca risiko, menyiapkan keterbukaan informasi, hingga memahami mekanisme pendanaan UMKM.
“Temuan ini dapat diterjemahkan ke pembelajaran, laboratorium fintech, hingga kemitraan dengan industri,” ujarnya.
Menurutnya, pemahaman mengenai kepercayaan komunitas dan kedekatan sosial juga penting dalam membentuk kompetensi mahasiswa agar mampu memahami ekosistem fintech secara lebih utuh.
Harapan untuk UMKM Papua dan Indonesia Timur
Harapan terhadap pemanfaatan hasil penelitian tersebut juga datang dari wilayah timur Indonesia.
Direktur Utama Jamkrida Papua, Desty Pongsikabe, menilai penelitian Dede Suryanto dapat membuka peluang baru bagi pengembangan pembiayaan UMKM di daerah terpencil seperti Papua, terutama ketika akses permodalan masih menjadi tantangan besar.
“Pendekatan yang mempertimbangkan kondisi geografis sangat relevan bagi daerah seperti Papua. Jika ekosistemnya dibangun dengan baik, SCF dapat membuka akses pembiayaan yang lebih luas bagi UMKM di wilayah timur,” tuturnya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa aspek geografis bukan hanya persoalan lokasi, melainkan juga berkaitan dengan karakter sosial, infrastruktur, pola kepercayaan, serta kemampuan masyarakat di setiap wilayah dalam mengakses instrumen keuangan.
Jejak Akademik dan Profesional Dr. Dede Suryanto
Jejak akademik Dede memiliki keterkaitan erat dengan tema yang diangkat dalam penelitiannya.
Ia tercatat sebagai dosen Sekolah Vokasi Universitas Indonesia dengan bidang keahlian keuangan, perbankan, pasar modal, penjaminan, dan fintech.

Pengalaman lebih dari 15 tahun sebagai akademisi sekaligus praktisi keuangan mempertemukan pengalaman lapangan dengan pendekatan ilmiah dalam mengkaji ekosistem Financial Technology Securities Crowdfunding.
Perjalanan akademik dan profesional tersebut berjalan beriringan dengan kehidupan keluarga Dede bersama istri dan tiga orang anaknya.
Pencapaian doktoral Dede juga diperkuat dengan satu publikasi internasional terindeks Scopus Q3, dua publikasi nasional terindeks Sinta 2 dan Sinta 3, prosiding international conference, book chapter, serta tiga Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa penelitian mengenai ekosistem SCF dikembangkan tidak semata-mata sebagai pemenuhan akademik, tetapi diarahkan menjadi pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh dunia industri maupun pemangku kebijakan.
Menuju Ekosistem Keuangan Digital yang Lebih Inklusif
Pesan utama disertasi Dr. Dede Suryanto mengarah pada kebutuhan menghadirkan teknologi finansial yang mampu membuka kesempatan pendanaan secara lebih adil.
Securities Crowdfunding tidak cukup hanya menjadi ruang pertemuan antara penerbit efek dan investor.
Kepercayaan, manajemen risiko, kolaborasi, karakter geografis, kekuatan komunitas, serta potensi ekonomi lokal perlu dirangkai menjadi satu ekosistem yang utuh.
Daerah dapat menjadi sumber kekuatan melalui UMKM, modal masyarakat, budaya, dan jejaring kepercayaan yang sudah terbentuk.
Melalui model ekosistem SCF yang terintegrasi dengan faktor geografis, penelitian Dede Suryanto diarahkan untuk membuka jalan menuju sistem keuangan digital yang lebih inklusif dan berkelanjutan, sekaligus memperluas demokratisasi akses permodalan bagi UMKM dari pusat pertumbuhan ekonomi hingga pelosok Indonesia.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda