Oleh: Dira Ernawati, S.T., M.T., Nawangsih Edynna P, M.A., Kinanti Resmi Hayati, S.Hum., M.A., Aldi Pramoedya N., dan Gymnasty Al Iza
JurnalPost.com - Limbah rumah tangga kini tak lagi dipandang sebagai masalah semata, melainkan sebagai solusi menuju ketahanan pangan berkelanjutan. Hal ini menjadi gagasan utama dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang diselenggarakan oleh tim dosen dari UPN “Veteran” Jawa Timur, bekerja sama dengan PKK Desa Sembunganyar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB Sabtu 2 Agustus 2025, bertempat di Balai PKK Desa Sembunganyar. Kegiatan ini mengusung semangat pemberdayaan perempuan melalui pelatihan pembuatan eco-enzyme, yaitu cairan hasil fermentasi limbah dapur yang multifungsi dan ramah lingkungan. Pelatihan ini menjadi wujud nyata kontribusi akademisi dalam menyikapi tantangan lingkungan dan pangan.
Kegiatan ini dibuka dengan sambutan dari Ibu Dira Ernawati, S.T., M.T., selaku Ketua Pelaksana pada pengabdian masyarakat ini. Ibu Dira menyampaikan rasa terima kasih kepada para peserta PKK Sembunganyar yang telah hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan, beliau berharap bahwa ilmu yang akan disampaikan bisa dipraktekkan dan bermanfaat bagi peserta. Kegiatan selanjutnya adalah sambutan oleh Ketua PKK Sembunganyar, Ibu Qurrotul Aini, S.Pd. Beliau menyambut hangat para dosen dan mahasiswa, beliau juga mengapresiasi program kerja yang menurutnya sangat bermanfaat bagi Ibu rumah tangga dan lingkungan sekitar.
Acara dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi yang akan disampaikan oleh kalangan dosen UPN “Veteran” Jawa Timur. Materi pertama yang disampaikan oleh Ibu Dira Ernawati, S.T., M.T., dengan topik “Urgensi Ketahanan Pangan Berkelanjutan dan Integrasi Eco-Enzyme”. Ia menjelaskan pentingnya pemenuhan pangan yang tidak hanya mencukupi secara kuantitas dan kualitas, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan sosial. Eco-enzyme diperkenalkan sebagai solusi pertanian berkelanjutan yang memperbaiki kualitas tanah tanpa bahan kimia berbahaya.
Kemudian, Ibu Nawangsih Edynna P., M.A. melanjutkan dengan topik materi tentang “Dampak Pemanfaatan Eco-Enzyme untuk Ketahanan Pangan”. Dalam pemaparannya, eco-enzyme disebut mampu menyuburkan tanah secara alami, menggantikan pupuk kimia, serta mendukung pertumbuhan tanaman lebih sehat. Ia juga menyoroti dampak jangka panjang eco-enzyme terhadap aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial masyarakat.
Selanjutnya, Ibu Kinanti Resmi Hayati, S.Hum., M.A. menutup sesi dengan materi “Pengenalan dan Proses Pembuatan Eco-Enzyme”. Beliau menjelaskan bahwa eco-enzyme dibuat dari campuran air, gula merah, dan limbah dapur seperti kulit buah atau sayuran. Fermentasi berlangsung selama tiga bulan hingga menghasilkan cairan yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik, pengurai limbah, hingga pembersih alami rumah tangga.
Sumber: Dokumentasi pribadi
Tak hanya menerima materi, para peserta yang terdiri dari anggota PKK Desa Sembunganyar juga mengikuti sesi praktik langsung pembuatan eco-enzyme, yang dipandu oleh para mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis, tetapi juga mendorong partisipasi aktif warga dalam pengolahan limbah rumah tangga secara mandiri. Para peserta tampak antusias melihat, dan mencatat cara membuat eco-enzyme, serta mendiskusikan potensi pemanfaatan eco-enzyme di rumah masing-masing. Praktik ini menjadi bagian penting dalam memperkuat pemahaman dan keterampilan, sekaligus membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya gaya hidup berkelanjutan.
Melalui pelatihan pembuatan eco-enzyme, masyarakat khususnya ibu-ibu PKK tidak hanya dibekali dengan ilmu baru, tetapi juga dengan keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Limbah dapur yang selama ini dianggap sebagai sisa yang tak berguna, kini berubah menjadi solusi ekologis yang dapat menyuburkan tanah, menjaga kebersihan rumah, hingga berkontribusi pada peningkatan hasil pertanian. Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, dosen dan mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur telah membuka ruang kolaborasi yang memperkuat ketahanan pangan, kemandirian lokal, serta kepedulian terhadap lingkungan. Dengan semangat "Dari Limbah Menjadi Solusi", pelatihan ini menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari dapur rumah sendiri, dengan kesadaran, pengetahuan, dan aksi nyata.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda