Penulis: Grace Sissela Marpaung Pariwisata, UPN “Veteran” Jawa Timur
JurnalPost.com - Meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata alam dan aktivitas luar ruang, kawasan perbukitan di Kabupaten Pasuruan mulai menjadi perhatian wisatawan, khususnya generasi muda yang mencari pengalaman rekreasi berbasis alam. Hamparan savana, jalur trekking yang relatif ramah bagi pendaki pemula, serta panorama pegunungan yang terbuka menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri sebagai ruang rekreasi alternatif.
Aktivitas berwisata tidak lagi hanya berorientasi pada hiburan semata, tetapi juga pengalaman, kesehatan mental, kedekatan dengan alam. Keunggulan utama Bukit Premium terletak pada karakter lanskapnya. Kontur perbukitan yang terbuka memberikan pengalaman visual yang kuat bagi wisatawan. Jalur trekking yang menantang namun tetap dapat diakses pendaki pemula membuat kawasan ini berpotensi menjangkau pasar wisata yang lebih luas. Keberadaan spot panorama alami menjadi daya tarik penting di era media sosial, ketika pengalaman visual turut menentukan popularitas destinasi wisata.
Namun, di balik potensi tersebut, pengembangan wisata alam juga menghadirkan tantangan besar. Salah satu persoalan utama dalam pengelolaan wisata perbukitan adalah menjaga keseimbangan antara peningkatan kunjungan wisatawan dan kelestarian lingkungan. Aktivitas trekking yang tidak dikelola dengan baik dapat memicu erosi jalur, kerusakan vegetasi, hingga penumpukan sampah di kawasan wisata.
Oleh karena itu, konsep pariwisata berkelanjutan menjadi penting dalam pengembangan wisata Bukit Premium. Pengelola tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan jumlah pengunjung, tetapi juga harus memperhatikan daya dukung lingkungan, konservasi lanskap, dan keterlibatan masyarakat lokal. Keberlanjutan wisata alam memerlukan sistem pengelolaan yang mampu menjaga kualitas ekosistem sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Keterlibatan masyarakat sekitar sebagai jasa pemandu trekking, jasa ojek, warung lokal, hingga produk UMKM dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi wisata yang mendukung kesejahteraan masyarakat. Ketika masyarakat memperoleh manfaat langsung dari aktivitas pariwisata, maka peluang terciptanya kesadaran kolektif untuk menjaga kawasan wisata juga akan semakin besar. Selain itu, edukasi terhadap wisatawan menjadi penting dalam pengelolaan wisata. Aktivitas rekreasi alam sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan sehingga perlu kesadaran ekologis seperti menerapkan aturan “do and don’t” selama melakukan pendakian, dan ancaman jika melakukan pelanggaran.
Bukit Premium Pasuruan menunjukkan bahwa kawasan perbukitan memiliki potensi besar sebagai ruang rekreasi alam di Jawa Timur. Tanpa perencanaan yang berkelanjutan, peningkatan popularitas wisata justru dapat menjadi ancaman bagi kelestarian kawasan itu sendiri. Pengembangan wisata alam tidak hanya berbicara tentang membuka akses kunjungan, tetapi juga tentang bagaimana menjaga hubungan harmonis antara manusia, lanskap, dan keberlanjutan lingkungan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda