Penulis : Afifa Febi Ariandi (Mahasiswa Fakultas Psikologi – UNTAR) Meike Kurniawati (Dosen Fakultas Psikologi – UNTAR)
JurnalPost.com - Dalam dunia parenting modern, istilah attachment semakin sering dibahas. Namun, tidak semua orang benar-benar memahami maknanya. Maté (2019) mengatakan attachment adalah kebutuhan biologis dasar manusia. Sejak lahir, anak secara alami mencari kedekatan dengan sosok yang memberikan rasa aman, biasanya orang tua. Dari sinilah rasa percaya, identitas diri, dan kemampuan bersosialisasi mulai terbentuk.
Attachment dapat diartikan sebagai kelekatan atau keterikatan. Attachment, menurut Bowlby (1969), adalah ikatan emosional yang terbentuk antara anak dan pengasuh utama. Attachment merupakan wujud ikatan kasih sayang, dimana hubungan yang terjalin mampu menumbuhkan rasa aman.
Bowlby (1969) juga menjelaskan ada 3 jenis attachment yaitu anxious, avoidant, dan secure. Anxious, bentuk kelekatan dimana orang tua tidak sering memberikan kedekatan dengan anak, sehingga anak akan merasa kebingungan dengan sikap orang tuanya yang tidak konsisten dan membuat anak menjadi cemas.
Avoidant , jenis kelekatan yang disebabkan oleh orang tua tidak pernah memberikan rasa kasih sayang dan kedekatan, sehingga anak akan terbiasa dengan kesendiriannya dan menjadi anak yang cuek. Secure, kelekatan dimana orang tua memberikan kasih sayang dan kedekatan terhadap anak secara konsisten, sehingga anak merasakan kasih sayang dari orang tua nya.
Attachment yang sehat akan membuat anak : merasa aman secara emosional, lebih mudah belajar dan mengeksplorasi, memiliki kepercayaan diri yang lebih baik dan mampu membangun hubungan sosial yang sehat.
Orang tua yang tidak memberikan rasa aman, anak akan berumbuh secara tidak sehat. kecemasan berlebih, insecure, kesulitan mengontrol emosi, perilaku agresif atau menarik diri dan ketergantungan pada validasi eksternal.
Kualitas pengasuhan orang tua berpengaruh besar terhadap perkembangan mental. Kesehatan mental anak sangat dipengaruhi oleh adanya hubungan yang hangat, dekat, dan berkelanjutan dengan ibu atau pengasuh lainnya. Jika kondisi tersebut tidak terpenuhi, anak dapat mengalami kekurangan kasih sayang. Yang dapat berdampak pada pembentukan karakter dan menghambat kemampuan seseorang dalam menjalin hubungan.
Pola kelekatan ini akan terbawa hingga anak tumbuh dewasa, terutama dalam membangun hubungan dengan orang lain, seperti teman, pasangan, bahkan lingkungan sosial. Penelitian Cassidy & Shaver (2018) menunjukkan bahwa orang tua yang responsif secara emosional membantu anak mengembangkan rasa aman yang menetap hingga anak dewasa.
Membangun attachment yang sehat tidak harus dengan cara yang rumit. Hal sederhana seperti mendengarkan anak, memberikan pelukan, meluangkan waktu bersama, serta memberikan respon yang hangat sudah menjadi langkah awal yang besar dalam menciptakan rasa aman bagi anak. Cara orang tua merespons tangisan anak, memberikan perhatian, serta menunjukkan kasih sayang secara konsisten akan sangat memengaruhi perkembangan psikologis dan emosional anak.
Faktor lain seperti lingkungan sekitar, pola komunikasi dalam keluarga, serta pengalaman hidup anak juga ikut berkontribusi dalam membentuk attachment. Anak yang tumbuh di lingkungan penuh konflik atau kurangnya komunikasi terbuka akan lebih rentan memiliki pola kelekatan yang tidak aman, dan sebaliknya.
Attachment bukan hanya tentang kedekatan sesaat, melainkan sebuah fondasi hubungan jangka panjang yang akan memengaruhi bagaimana seorang anak melihat dirinya sendiri dan dunia sekitarnya. Sebuah hubungan emosional yang menjadi fondasi utama perkembangan psikologis anak.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda